Wednesday, March 28, 2012

an escape to Tidung island

Dan saya langsung kehilangan semangat untuk menuliskan ceritanya... haha...
Laut nya bagus.. Guide nya baek... Teman-teman saya seru. Penginapan kita di ujung laen pulau yang sudah tidak ramai dan tidak berdempetan rumahnya dan di depan penginapan langsung laut yang pemandangannya seperti ini dikala sunrise:
Sunrise

doing laundry at the sea
Tenang banget deh melihatnya. Cuma ya seperti biasa karena waktu liburannya cuma sebentar (2hari-1malam) dan ingin melakukan semuanya, jadilah semuanya terburu-buru dan bikin cape. Hehe... Dan setelah balik saya sukses dunk kram dan pegel seluruh badan.

Oya di pulau ini banyaaaaaak sekali pengunjung nya. Dan penginapannya yang berupa rumah homestay juga banyaaaak dengan berbagai pilihan. Untungnya kita stay di ujung yang sepi, walau relatif jauh ke jembatan terkenalnya yang menghubungkan tidung besar dan tidung kecil, tapi dengan 20 menit bersepeda bisa nyampe. Di dekat jembatan ini banyak toko-toko dan permainan laut seperti banana boat and jump from the bridge (termasuk permainan kah ini? :D)

Penyesalan saya adalah terlalu sebentar snorkeling nya. Bukan karena waktu yang terbatas, tapi karena penyesuaian alat nyaaa.. yang menyebalkan. Baru sebentar tiba-tiba udah masuk aja air ke kacamata nya :(. Harusnya bawa alat sendiri kalau mau puas. Lagian ini pengalaman pertama saya, jadi bisa dimaklumi dunk kalo saya belum terlalu nyaman.
itu deretan kapal yang membawa groups pengunjung untuk snorkeling



Tuesday, March 27, 2012

Was That a Miracle?

Setelah saya meracau menginginkan suatu keajaiban terjadi, sekarang saya melihat kebelakang untuk memahami apakah saya baru saja mengalami nya. Jika ini adalah sebuah cerita drama fiksi, mungkin saya harus mengakhirinya disana, dan saya mendapatkan Happy Ending yang selalu saya inginkan. Mengakhirinya disana. Saat bahagia.

Ketika saya menginjakkan kaki di Jakarta dan memiliki kesempatan untuk mengecek email saya. Saya menerima sebuah email dari Universitas yang memberikan admission letter atas aplikasi saya 20 hari sebelumnya. Ya, cuma  butuh 20 hari. Tentu saja saya gembira walau itu tidak berarti bahwa saya bisa melanjutkan study di Universitas itu. Saya masih membutuhkan sponsor untuk biaya kuliahnya. Harusnya berakhir disana, saat gembira. Bukan sekarang, saat kakak saya menyampaikan berita bocoran tentang beasiswa yang dikurangi dan diperioritas kan untuk golongan tertentu, atau saat bos saya tidak mengijinkan saya untuk kuliah lagi. Tapi bukan berarti perjuangan telah berakhir teman! I'll find my way..!

Derita saya beberapa minggu yang lalu menguap dan tak terpikirkan. Penerimaan. Dan ternyata tak seburuk yang saya bayangkan. Bisa saya jadikan another happy ending. Tentu saja tanpa lanjutan untuk saat ini.

Ternyata saya tak perlu meminta yang aneh-aneh. Saya hanya butuh ketenangan hati dan harapan.

Acceptance.
Sebuah kata pembelajaran yang diucapkan lagi oleh seorang yang telah lama putus komunikasi dengan saya dan belakangan kembali menjalin silahturahmi.

Pasrah? Bukan, tapi nrimo, ikhlas.
Apa yang telah terjadi dan diluar kuasa saya, diluar kontrol saya. Tak ada yang bisa saya lakukan.

Terakhir kali saya mengalami hal seperti ini, saat merasa perasaan bisa membuat saya gila, pada suatu titik saya juga ikhlas akan apa yang terjadi. Dan tanpa diduga kondisi nya berbalik membaik. Saya tidak mengharapkan cerita yang serupa kali ini. Terlalu naive. Tapi tentu saja saya tidak menolak kalau itu kembali terjadi tapi akan saya ubah ending nya menjadi lebih baik. Tentu saja happy ending.

Saya hanya ingin ketenangan ini tetap bersama saya. Saya tak ingin ada sesal yang menyesakkan dada lagi di masa depan. Tak ada pertanyaan "what if" dan menyalahkan diri sendiri.

I do need a miracle, I believe I deserve it and I'll have it.


Sunday, March 18, 2012

Dahulu...

Dulu kamu selalu mengerti akan ketidak sabaran ku, sekarang apa peduli mu
Dulu kamu selalu menenangkan dan memberi solusi, sekarang tak usah dipikiri
Dulu ada kita dan rencana masa depan, sekarang sudah expired
Dulu ada aku dan sesal ku, sekarang terlupakan

Apa yang aku mau?
Dulu memang begitu tapi semua berubah, dan kamu bilang sudah terlambat saat ku berubah pikiran.
Bukan hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali.
Bedanya adalah dia menyangka telah selesai dan aku masih berpikir belum tiap kali dia hadir.
Bagi nya hadir dirinya tak lebih dari hanya sekedar sapa semata.
Oya...? Sekedar... bagaimana dengan ungkapan yang sama selalu di ulang di akhir percakapan?
Dan ya.. aku tak pernah percaya. Dan memang ternyata terbukti tidak benar.
Tapi ternyata di balik sadar aku masih memupuk harap.
Siapa yang akan di salahkan.
Dia berucap apa yang dia mau. Walau berkali-kali tak kusetujui dalam kata, tapi dalam kenyataannya sikap ku tak berubah. Dia tetap dengan apa maunya, dan aku tak bisa bersikap.

Kenapa?
Terlalu tejebak dalam impian sendiri?
Dan siapa yang aku salahkan sekarang?
Diriku sendiri?

Saturday, March 17, 2012

Don't delay happy

Karena suatu saat dimasa dapan, kita akan melihat saat ini dan berpikir bahwa ini adalah salah satu saat bahagia dalam hidup kita. Walau mungkin pada saat ini kita merasa yang paling menderita.

Friday, March 16, 2012

Sesal

Ada petuah bijak yang bilang sebaiknya kita diam saat emosi menguasai diri. Ehm... sepertinya itu salah satu sunnah nabi deh ya...? Dan memang itu hal sangat baik (atau seharusnya) dilakukan. Kadang saya sering menyesali semua perkataan yang telah saya ucapkan saat saya emosi. Tentu saja saya menyesalinya setelah saya tidak emosi dan bisa menggunakan logika dan bisa melihat betapa tidak benarnya semua ucapan saya sebelumnya. Bukan berarti saya bohong saat emosi, tapi semua yang saya ucapkan itu hanya benar disaat saya emosi. Begitu emosi saya reda, pendapat saya berbeda. (Rrr... I am confused)

Nah, tetapi... Jika saya menuliskan semua emosi saya dalam bahasa abstrak tak jelas, maka hasilnya A-MA-ZING..!! Kadang saya sering takjub melihat hasil - hasil tulisan saya dikala emosi. Makanya saya sering bilang saya produktif saat emosi. Yang kadang kala hasilnya menakjubkan. Tidak ada jaminan selalu, hanya sesekali. Tapi worth to try laaah...

Yang kadang saya sesali adalah kebiasaan saya curhat dengan orang-orang saat saya emosi. Dan yaaa... kadang bahasa saya tidak baik. Tapi cukup dusah dengan semua sesal ini. Mari kita fokus pada hal positifnya...

Saya masih bisa menyalurkan emosi negatif saya dengan cara positif. Menulis. Walau sering hanya sekedar racauan tak jelas di blog ini, tapi beberapa cukup mengena dan menyenangkan untuk dibaca di kemudian hari.

Untuk mu yang selalu aku sesali dan nanti. Akhirnya hanya sampai disini. Aku tak mau semua hanya sia-sia belaka. Entah apa pelajaran yang harusnya aku peroleh dari perjalanan ini, tapi aku yakin, ini semua aku butuhkan dimasa depan. Pembelajaran bahwa aku tak lebih baik dari kebanyakan orang lain dan tak semua orang yang melakukan kesalahan itu bodoh dan bisa dipandang sebelah mata, harus aku peroleh dengan cara seperti ini. So harsh. But maybe because I was (am?) stubborn. Kalo tidak dengan cara ini maybe I won't get it. Life.. sign.

I am gonna be okay. I am okay.
Fine.



Wednesday, March 14, 2012

Chest Pain

Saya masih ingat banget awalnya, Jumat 2 Maret 2012. Kebangun di pagi yang dingin karena hujan semalaman dan dada saya sakit serta kedua telapak tangan terasa sangat pegal, atau bahasa temen saya yang dokter nyeri sendi. Tapi hanya di tangan sebelah kanan. Yang sangat sakit adalah dada saya, dan saya harus tidur telentang, jika saya miring sakitnya jadi tak tertahankan. Hari jumat itu saya tidak begitu peduli akan sakitnya, karena sakit dada itu terjadi hanya jika saya miring atau memposisikan bahu menekuk kedepan seperti posisi ketika tidur miring. Jadi hari jumat itu saya tetap beraktifitas seperti biasa di kantor seharian. Ketika pulang kantor, ketua tepalak tangan saya sudah nyeri. Saya sudah tidak bisa lagi mengepalkan jari dengan rapat. Syukurnya saya masih bisa nyetir pulang dan langsung tepar tertidur begitu sampai di rumah.

Malam hari nya saya bangun untuk menyaksikan Indonesian Idol (hanya untuk mengungkapkan fakta berarti jam 9 malam) dengan kondisi badan yang sudah tidak fit. Dan malam itu, dua adik saya juga dalam kondisi demam. Alhasil besok nya hari sabtu, kita semua sakit dan malamnya salah seorang adik saya di diagnosa DBD tapi dia tidak mau di rawat. Saya dan seorang lainnya akhirnya ke dokter dan hanya di beri obat. Hari minggu badan saya masih meriang tapi sudah tidak separah hari Sabtunya, saya memperoleh surat sakit untuk 3 hari. Jadi senin dan selasa saya tidak ke kantor. Hari selasa saya sudah merasa cukup kuat, dan berakhir harus mengantar adik saya RS untuk diopname karena seluruh tubuhnya mengeluarkan bercak merah dan trombosit nya turun. Dia sempat dirawat 3 hari, saya sempat ke kantor hari Rabu, tapi kembali tepar hari kamis dan jumat nya. Saya cek darah dan normal, tidak ada penurunan trombosit, tapi hari kamis itu badan saya kembali pegal.

Ketika ngobrol dengan teman saya yang dokter, dia malah lebih mengkhawatirkan cerita saya tentang sakit di dada dan menyuruh saya ke ahli penyakit dalam dengan mengajukan beberapa diagnosa awal yang "mengkhawatirkan". Tentu saja idenya saya tolak mentah2 karena saya merasa sudah baikan dan saya tidak mau "ketahuan" mengidap penyakit lain yang lebih membahayakan dibanding sekedar demam. Waktu itu tidak ada lagi keluhan sakit di dada saya. Saya sempat menganggap itu hanya sekedar psychosomatic akibat derita lain (non fisik) yang sedang saya alami.

Tapi sekarang, dada saya kembali terasa sakit jika saya salah menggerakkan bahu. Juka saya menggeser kedua bahu kedepan. Tapi tidak begitu parah. Dan jari tangan kiri saya masih berasa sedikit "kesemutan" dan sedikit nyeri jika dikepal kuat. I would like to go to doctor. Tapi dokter dsini..? eww... Paling ntar langsung ngasih obat2 ga penting. 

Oya, kemaren saya sempat 2 kali ke dokter dan yaaa... tentu saja dikasih antibiotik, paracetamol dan vitamin. Walau dokter kedua bahkan tidak menganjurkan saya istirahat, tapi tetap memberi obat (what's wrong with you? Kalo menganggap ga sakit hingga ngga butuh istirahat, terus kenapa ngasih obat..??). Walau dia bilang panas badan saya normal dan saya juga mengakui tidak deman lagi, tapi tetap memberikan paracetamol (daa..?).

Barusan sempat googling tentang chest pain dan yaa... banyak kemungkinan (tentu saja). Tapi saya tidak mau khawatir. Satu dan atau lain hal akan membawa manusia ke kematian. Chest pain barangkali hanyalah hal terakhir yang perlu dikhawatirkan di dunia yang makin menggila ini

Sekian.

Sunday, March 11, 2012

I want a miracle


I want a miracle

Apapun bentuk nya. Saya hanya ingin akhir seperti di cerita-cerita khayal, yang selama ini sering saya baca. Bukankan semua fiksi itu di satu titik juga berangkat dari kenyataan? Semua prasyarat nya telah saya penuhi. Keanehan yang sepertinya tidak mungkin ditemui di dunia nyata, ketidak normalan dan semua yang dikuar akal normal manusia lainnya. Keputusan yang bukan berdasar.... Huff.. Sudahlah, saya bahkan tidak cukup punya argument untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya membutuhkan keajaiban. Bagaimana dengan argument: saya belum pernah merasakan satupun? Bolehkan kali ini?

Saya hanya ingin akhir bahagia. Dan tak ada lagi drama.

Belum lulus

Sepertinya dalam urusan cinta, saya masih tetap di level dasar yang belum beranjak naik tingkat. Saya pikir hidup dalam usaha berusaha mengerti selama dua tahun itu cukup untuk menjadikan saya seorang mastercinta. Tapi apalah daya, sepertinya saya masih tetap dalam tahap denial. Kapan beranjaknya? Lagu-lagu tentang cinta itu sering saya nilai terlalu lebay dan di buat-buat.

Mari kita liat, seperti... "lebih baik sakit gigi daripada sakit hati"? Masyaaallah... Lagu tahun berapakah ituuuu...? Dan ya.. Saat ini saya lebih memilih sakit gigi, please... Sekurangnya saya bisa minum pain killer untuk mematikan rasa sakitnya. Dan bisa ke dokter untuk melaksanakan treatment. Syukur2 kalo dokternya ganteng. Kalo sakit hati..? Manaaa... Manaaa...? Gw butuh pain killer dan dokter ganteng..! 

Next: "separuh jiwaku pergi" eh ada ga sie judul lagu bgini? Atau sekurangnya "separuh nafas" deh. Sekarang gw baru percaya tu penulis separuh nafas beneran pernah patah hati berat. Karena rasanya emang begitu bo... Bernafas itu jadi susah... Apalagi kalo inget apa yang terjadi sebelumnya, langsung sakit perut dan mencret2. Tapi kondisi yang terakhir itu ngga bagus untuk dijadikan lagu romantis, makanya kita ngga pernah dengar kondisi itu dikala orang patah hati. But believe me, that's true. 

Apalagi ya..? Banyaaaak... Lagu-lagu -the script- banyak banget menggambarkan kondisi orang yang sedang patah hati.. Like "dead man walking", "the man who can't be moved", "long gone", yang sial nya sering saya nyanyikan dengan penuh perasaan beberapa bulan belakangan ini, bahkan sebelum saya tau saya akan patah hati berat seperti ini. Yang akhirnya membawa saya ke kesimpulan; saya seharusnya mengatur pikiran saya ke hal-hal positif. Bukan selalu hal negatif yang penuh drama. Saya pikir hidup saya sudah jauh dari cukup dengan semua drama kehidupan. Lihat saja semua isi blog ini. Drama aja kan? I need a happy life! Dulu saya pernah ingat begaimana hidup saya terasa membosankan karena tidak ada drama sedikit pun. So people, be careful with your wishes..!

Wanna see the positive side? Blog saya jadi berisi tulisan lagi! Semua rencana tulisan positif saya, seperti acara jalan2 tahun lalu, jalan ke NZ, cerita kumpulan cups of coffee saya pun tak ada satupun yang sukses tertulis di blog ini. Atau bagaimana saya menghadiri hingga 7 kali wisudaan, dan bagaimana foto wisuda saya yang sangat sedikit dan gada yang bagus.. Hiks... Mana ceritanya? Ngga nemu kan blog ini..? Yang nemu hanya semuaaaaa hal negatif dalam hidup saya. Kenapa? Kenapa? Karena saya menulis sebagai terapi biar ga gila sendiri? Tapi lihat apa jadinya? Saya hanya mengabadikan hal negatif! Dan memori saya hanya penuh dengan semua hal negatif ini.

Atau kita bisa lihat dari sisi lainnya. Saya mengeluarkan racun negatif dalam system saya kedalam bentuk tulisan ini. Sehingga yang bahagia tetap disana, mengalir dalam system saya. Yang bisa saya ingat kapanpun saya suka, dan yang negatif biarlah terlepas walau tercatat disini. Biar menjadi drama dalam kata saja.

 Kembali pada kondisi saya saat ini. Saya masih susah bernafas. Saya masih ingin bermimpi akan ada keajaiban. Tapi entah sejak kapan sepertinya saya sudah tak pernah bercaya akan keajaiban dalam hidup ini. Saya bahkan tak bisa mengikuti kata hati saya, saya bahkan tak percaya dengan perasaan saya sendiri. Saya takut melihat saya yang bodoh. Takut orang-orang mencibir menertawakan kebodohan saya. Pura-pura saya tegar dan tidak bodoh. Padahal saya memang bodoh. Hingga detik ini. Saya pernah menyerah pada kebodohon, hanya untuk menerima penolakan. Saya berjanji untuk tidak akan bodoh lagi, tapi kemudian perlahan kebodohan merayap balik bahkan tanpa sempat saya sadari.

Cukup sudah berbicara soal kebodohan. Saya hanya ingin bahagia. Sepertinya itu permintaan yang sederhana tapi akan rumit jika saya sendiri tidak tahu apa yang dapat membuat saya bahagia. Saya ingin keajaiban terjadi.

Sekali ini...
Please, God?

Saturday, March 10, 2012

Masih Ingat..?

Seperti biasa, saat nyetir saya punya banyak ide tentang hal yang mau di tulis di blog ini. Tapi sering kali ngga terwujud karena begitu di depan laptop saya punya banyak kerjaan lain selain menulis di blog, seperti nonton, youtube, facebook, twitter or chat.

Kenapa sering muncul ide nya di mobil? I guess karna itu satu-satu nya waktu sendiri dan bengong (gosh.. saya ternyata sering bengong saat nyetir!). Ide hari ini adalah tukang gorengan langganan yang masih saja ingat dengan saya. Hihi... Biasa... saya tipikal orang yang tidak gampang merasa akrab dengan orang lain. Jadi walau tukang gorengan langganan bertahun-tahun sudah menganggap saya pelanggan setianya, saya tidak pernah berpikir dia akan ingat saya. Saya pikir dia punya beratus pelanggan setiap harinya, bagaimana mungkin dia bisa ingat dengan saya? Tapi ternyata dia ingat. Mungkin karena fakta saya rajin bertandang kesana.

Lets see... Penjual gorengan itu adalah sepasang suami istri yang menamai gerobak dagangan mereka "Goreng Pak Janggut", berasa serial di majalah Bobo (masih ada ngga ya majalah ini?). Denger-denger sie.. pasangan penjual gorengan ini memiliki anak2 pintar yang sedang kuliah di Kedokteran dan mereka dibiayai dari penjualan gorengan ini. Jangan tanya omset mereka berapa karena saya tidak tahu. Dan tidak! Mereka tidak mempunyai cabang ditempat lain.

Sebentar, saya lupa topik tulisan kali ini...

Oya.. awal nya saya tahu tentang gorengan ini tentu saja dari my mom, hmm.. mungkin bisa kita perkirakan dari tahun 2004 jika tidak lebih lama dari itu. Sejak tahun 2005 saya melewati jalan tempat mereka mangkal tiap hari karena di jalur perjalanan pulang-pergi kantor. Setelah gempa yang merusak kantor saya, awal tahun 2008 kantor saya pindah yang jalurnya tidak lagi melewati gorengan pak janggut. Dan si ibu sadar saat suatu ketika saya berhenti dan membeli gorengan disana, dia menanyakan kenapa jarang terlihat. Dan alasan saya tentu saja karena kantor pindah. Tapi walaupun kantor saya pindah, saya masih sering lewat kesana dan membeli, sekurang nya ada di tiap bulan. Suatu ketika saya harus ke jakarta selama 3 bulan dan lagi-lagi si ibu menyadari nya.

Nah terakhir kemaren, setelah dua tahun merantau ke negri orang dan kembali dengan jajan disana tanpa outfit reguler saya, saya pikir si ibu janggut tidak mengenali saya. Ternyata dia masih kenal. :)


Everything happens for a reason..

So what is the reason now?
Hiks... I don't know what to do.
Seriously, I thought I am over it. Until the reality hits me and beats me. Kick me hard in the gut. I am a looser.

So what's the reason, now? Please... I tried to be positive, tapi yang ada headache dan susah bernafas seharian kalau ingat masalah ini. Seperti biasa saya selalu mengharapkan ada hasil positif dari kondisi ini. Pasti ini yang terbaik, I knew it, but at first I have to get over it. Deal with it. In the short time. I don't think I have much time left. Gosh...

Can I just cry all night long and hoping in the next day everything is back to normal? Wish it could be that easy. 

Harusnya.. Seharusnya... Mestinya... Sama sekali tak membantu... Gosh.. Why am I so stupid..? Stop it. 

Tujuan utama saya menulis bukan untuk mengeluarkan semua hal negatif ini, tapi upaya mengubahnya menjadi energi positif. Apa yang bisa saya hasil kan dari kondisi ini? Barangkali bisa dimulai dengan melanjutkan tulisan saya. Tapi cukup dengan semua tema drama nya. I want a happy ending. Both for the character and myself.

Tapi emang ada ending nya bo? Sebelum hidup berakhir, belum ada endingnya. Jadi bisa terserah saya akan memenggalnya dimana untuk memperoleh happy ending. And I believe I got lots of happy ending in my life.

Ini hanya satu fase drama lagi dalam hidup saya yang akan menghantarkan saya ke another happy ending.

Love you, violace :) *hugs*

Sunday, March 04, 2012

Mendadak Sakit

Diawali dari Jumat kemaren kitika saya terbangun dengan nyeri dan pegal di telapak tangan kanan dan sakit di dada. Ketika saya mengubah posisi tidur menjadi menyamping, sakit di dadanya tak tertahankan. Saya pikit ini hal biasa dan saya abaikan dengan tetap berangkat ke kantor. Sore harinya tidak cuma telapak tangan kanan yang nyeri dan pegal, tapi juga telapak tangan kiri. Saya tidak bisa mengepalkan kedua tangan karena sakit. Kedua kaki saya pun berasa pegal dan nyeri. Sesampai di rumah saya langsung terkapar tidur dengan badan tak enak.

Hari Sabtu kemaren saya tidak bisa bergerak bebas, seluruh badan pegal dan sakit kepala serta demam. Akhirnya setalah hanya terkapar dikamar seharian, pada malam harinya saya ke dokter. Dan.. tentu saja hanya di treatment sebagai orang yang menderita demam biasa. Tentunya diberi obat yang terdiri dari parasetamol, antibiotik dan vitamin.

Hari ini, syukurnya badan saya tidak seperti kemaren, saya sudah bisa beraktifitas dan tidak melulu tidur dengan berbagai mimpi buruk. Beberapa hal yang menjadi pikiran saya saat ini adalah... banyak nya pekerjaan di kantor yang akan semakin menumpuk jika saya besok tidak masuk, komentar negatif orang2 kantor yang akan menghina dina saya yang jatuh sakit dengan beban pekerjaan seperti itu... (ow yeah... they have been talking about my breakdown handling those works). Dan yang paling penting.. rencana kabur saya akhir bulan ini untuk 2 hari yang tiket nya sudah saya beli.. :(

Sudahlah.. Yang penting saat ini semoga saya cepat pulih kembali.