Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Tuesday, October 27, 2015

I need (want?) a vacation...

Saat ini kalau liat laut, danau, sungai atau foto-foto air lainnya langsung pengen banget nyebur. Lihat kolam renang kali juga sama ya... Mungkin besok berenang aja kalo kaya gini. Terakhir liburan itu adalah bulan puasa... itu pun gak nyebur ke laut, cuma nongkrong dan main di pinggiran trus berenangnya di kolam renang. Lumayan lah yaaa....
Entah kapan bisa jalan ke tempat seperti ini lagi.... (one day we will...) 

Dulu di negri kumpeni itu gampang sekali sie kalau mau merencanakan gate-away on the weekend. Tinggal lihat lagi ada promo/ event apa atau pilih kota yang belum dikunjungi trus tinggal naik kereta. Jalan seharian dan pulang. Kalau sekarang di Jekardah ini mau kemana pake kereta? Tanah abang? Bisa ke Bogor sie... Niat aja gitu ke Bogor trus ke taman raya bogor? Apalagi sie tempat yang bias dikunjungi.. males aja kalau shopping ke outlet lagi (padahal biasanya ke Bogor kerjaannya begini).

Masalahnya sekarang di tiap weekend pasti ada agenda. Kalaupun ga ada acara pasti sangat bahagia bias stay dirumah aja karna udah cape ajah. Belom lagi saat ini targetnya adalah nabung nabung dan nabung.... I know... I do not want a fancy vacation like going to Europe.. Just a simple one like one day trip kemanaaa gitu... tapi ke tempat liburaaaan... jalan-jalannya bukan ke mall. Ah nanti paling settle nya dengan nonton di bioskop aja nie gw...

Monday, October 26, 2015

Make your choice..!!

Ini adalah hal yang sering sekali dijadikan bahan ledekan suami saya.. (deu... eyke dah bersuami boooo...)

#1. "Jadi gimana nie.. kamu mau serius atau ngga..? Kalo ngga, aku tinggal pergi ke Belanda dan gak mau berhubungan..."

#2 "Jadi gimana nie... mau nikah apa ngga...? Kalo ngga, aku ambil tawaran PhD nya dan gak balik ke Indonesia..."

Dua kalimat diatas ini biasa nya diulang sama Suami dengan berusaha mencontoh gaya bicara saya. Dan saya biasanya ikut menimpali dan mngulangi ultimatum yang sama dan pasti nya bakal di lanjut dengan pernyataan dia...

"Giliran diajak nikah beneran pusing sendiri... katanya gak segampang itu.. bakal ribet..."

Whekeke... at the end we did it, tho.

Saya ngga masalah sampai kapanpun dibecandain/ diungkit kelakuan saya dulu yang seperti ini (sepertinya bakal jadi bahan dia seumur hidup -.-')

Saya sampai sekarang tidak pernah menyesali memberikan dua ultimatum diatas :D walau mau diledekin sampe akhir jaman, I don't mind... :D Iya dunk... hidup itu banyak pilihannya... LDR itu ngga gampang.. Masa karna ketidakpastian saya harus mengorbankan kesempatan yang ada. Untuk kalimat #1 misalnya, kalau misalnya tidak dipastikan mau memiliki hubungan serius, saya akan membuang waktu dan tenaga untuk maintaining LDR yang tidak gampang. Dan yang lebih penting lagi sebenarnya, saya akan membuang kesempatan untuk mengenal calon-calon potensial lainnya dilingkungan baru.. dan bule-bule booo... whekekeke...

Dua tahun kemudian, ultimatum kedua keluar... dan kesempatan yang harus saya buang jelas dunk: I had to let go the PhD opportunity... Suami ngeledekin sekarang.. kalo misalnya dia dulu bilang belom mau nikah dalam waktu dekat, pasti saya juga ngga yakin dengan PhD nya..To be honest.. Saya memang tidak begitu siap untuk mengambil tawaran PhD itu.. Tapiiiii..... Kalau waktu itu dia beneran menjawab negative ultimatum saya, pastinya saya akan mengambil juga tawaran tersebut coz I have nothing else to go back to Indonesia then. Maksudnya.. eyke gak punya kerjaan, gak punya cowok juga dunk.. gak punya planning... At least dengan ngambil PhD saya punya "kerjaan" selama 4tahun kedepan, punya kesempatan ketemu calon-calon potensial lainnya (tetep), punya komunitas yang sangat beragam dan yang pastinya punya kesempatan lebih lanjut jalan-jalan di Eropa. So much positive sides nya khaaan? Down side nya cuma satu paling... saya bakal stress dengan tuntutan PhD nya :D

And here I am now. Back in Indonesia, got married, got a job, got a life :) dan saya masih berpikir ini karna 2 pertanyaan diatas... haha... Jadi ya... buat cewek-cewek galau diluar sana yang masih mempertanyakan "he's really into me or not..?" ngga usah pusing dengan membaca "tanda-tanda" dia serius atau tidak. Tinggal nanya langsung dan kasih ultimatum..! :D :D :D

Warning:
  • Saran ini tidak cocok untuk semua orang di masing-masing hubungannya yang unik.
  • Saran ini juga tidak menjamin si pemberi ultimatum siap dengan konsekuensinya jika jawaban ultimatum nya tidak sesuai harapan.
  • Jangan sok ngasih ultimatum kalau ngga siap dengan kedua opsi yang ada..!

Wednesday, October 14, 2015

The first kick

"I just felt her first kick.."
"Really.. That was exciting.. I hope he's fine.."

Whekeke... We didn't know the gender yet but both of us insist on what we want.. Eventhough at the end both of us also agree that we don't mind with gender as long as SHE's healthy :p

:D :D

Tuesday, October 06, 2015

Belt

Journal migren nya ternyata hanya bertahan di 1 entry. Setelah menulis di blog ini intensitas migrennya berkurang dan saya tak lagi tertarik untuk mengingat makanan apa dan kegiatan apa yang memicu migren tersebut. Untuk sementara saya menyimpulkan bahwa salah satu pemicu migren adalah perpindahan dari ruangan dingin ber-AC ke tempat yang panas dan terik matahari dalam waktu singkat, ie saat beli lunch seperti kemaren, balik-balik ke ruangan sudah ditemani si migren.

Oya, judul tulisan kali ini adalah "belt" hanya karena tadi pagi saya baru mengetahui bahwa belt yang biasa saya pakai sudah tak bisa lagi digunakan karna.... guess what... sudah kurang panjang :(
Padahal jika saya tak salah mengingat hanya ada jarah seminggu dari terakhir kali saya menggunakan belt tersebut (atau 2 minggu yang lalu?), yang pasti belum terlalu lama.

Ya sudahlah... :) Memang sudah saatnya untuk memperbaharui barang-barang ke ukuran yang lebih besar... Tapi apalah daya, kadang saya menyerah pada rasa lelah

Thursday, September 17, 2015

Migrain Journal

Migrain ini bukan hal baru bagi saya, tapi berhubung belakangan ini intensitasnya meningkat dan saya tak lagi bisa bergantung pada pain killer (since it could affect another life in me), satu satu nya cara adalah dengan menghindari pencetus migrain tersebut. Sampai saat ini saya masih tak mengerti / menyadari penyebab / trigger munculnya migrain saya. Common pattern so far adalah it worsen at night and usually started after I got back from office. Jadi mungkinkah karna cape? debu? (selama ngojek) panas? Lapar?

2 malam terakhir ini saya mengalami migrain yang cukum intens hingga susah tidur. Pagi hari sakit nya menghilang tapi tetap menyisakan satu titik disebelah kiri atas. Jadi pagi ini saya minum susu coklat, makan pisang, mangga dan jeruk.  Lets see how the migrain progress for today.

Wednesday, July 29, 2015

Unrealistic expectation...

I expected not to have a child until I get settled in this new city. I expected that we could make a plan and decide when we are ready to have a little one.  I expected that my biological clock will not prevent me to have a child if at the end we decided to have one. I expected we will have a long talk deciding when is the right time. I expected that God knows the best time and it will be the same with the time that we thought would be the best.

None comes true.

Thursday, July 23, 2015

Menulislah jika bermanfaat....

Sedang terinspirasi dengan bacaan di blogs tetangga yang sangat informative dan bermanfaat. Kemudian terdiam melihat isi blog ini. Jika ada manusia yang tidak sengaja tersasar ke blog ini dan dengan khilaf membaca isinya, alangkah sangat disayangkan. Menghabiskan waktu dan tenaga membaca tanpa mendapatkan manfaatnya. Sungguh suatu perbuatan yang sia-sia. Melebihi kesia-siaan penulisan blog ini. At least penulisan blog ini adalah saat saya mati gaya atau butuh tempat menjaga kewarasan. Sementara yang tersasar barangkasi sedang berusaha menemukan informasi yang dibutuhkan dan terjebak dalam ratusan kata tak berguna. *halah*

I want to continue writing in English just so I won't forget this language. Hmmmm.... took some time to find my words right now.  I don't even know what I wanna say in Indonesia. Right... I wanna say that I want to keep practicing - mengasah skill?- what kind of language was that? So I guess it has been quite some time that I stop thinking in English. I need to translate the words by words and as usual I can't figure out the words in the other language. I know that I never good in learning new language and even now, I feel so tired trying to push myself thinking in English.

Okay... enough for today.
Highlights of my life... New life, new job, new city, new condition, new things...

Wish me luck! 

Thursday, May 28, 2015

Dreams updated

I have listed my dreams before and revisit it.
Here is the list
1. Finish the thesis : DONE 
2. Italy trip with him : Not Happening
3. Graduated : DONE
4. A trip with my sister : DELAYED
5. Get married : DONE
6. Get a diving license : Still in the list
7. Diving! : after I got #6

In the mean time I just got a job (still waiting for the offer tho), and started writing my story.. but the story is going so slow.

Thursday, April 16, 2015

Wedding Preparation

Yup.. I successfully finished my second master and went back to my home country. I got an offer to continue a PhD program from my supervisor but I have to reject the offer because of my personal life. It kind of bothering me.. any Indonesian will support my decision especially my family. It doesn't matter if you finished 2 master programmes and got a Phd offer, if you are still single, you lack of achievement. I don't mind rejecting the offer, I personally doubting my ability to do the Phd in that topic for the next 4 years. But.. how can I say it... It's just typical me... I don't like in the same opinion with society.. LoL.

Even though it is my own decision to reject the offer, I don't really like the fact that the society (I mean people surrounding me) agree with that... Because they see having family is more important. I didn't say that getting married is not an important step for me, I just think that's not the only reason I rejected the offer. Eventhough in fact that the easiest answer and I did give that as a reason to my supervisor. Anyway... I am just saying.. I don't know what I am saying actually.

And you know what... Preparing a wedding is a hell of a job. It is easy at the beginning and getting worse to the end. The family, the limitations, the requests, the time.. everything went wrong. At some point I was too lazy to dealt with all those problem and prefer to be single. Isn't that funny..? Why getting married is such an important thing in this society...? Along with all "adat" and family thingy.

Anyway... I have 2 master degrees and no job.. and no one cares... as long as I am getting married. What a crazy world..!

Thursday, January 22, 2015

Useless...

I started this morning with a lazy feeling. Really do not want to do anything, particularly revising my thesis report. I forced my self to go to my workstation where everyone else in the room was busy in front of their own computer. I sat and started feeling stress. Knowing that I was not in the mood to revise my report, but still forcing myself to do it. It was useless... I just felt warm in my face and my head started aching.



Monday, June 23, 2014

Four Weddings and No Funeral

Judul diatas berhasil meringkat dengan singkat peristiwa penting hidup saya selama kembali ke negara tercinta. Di periode January - May 2014 ini saya menghabiskan hari di Jakarta. Berjuang dengan kaum proletar lainnya, dari naik kereta sesak di setiap jam berangkat dan pulang kantor, sampai menyusuri gang-gang sempit yang dipenuhi rumah kost dan tempat makan, dengan tikus-tikus sehat yang riang gembira berlarian. Kenyataan nya tak seseram tulisan saya barusan koq. Jakarta masih merupakan tempat impiam segolongan orang borjuis dengan ratusan mall dan cafe tempat menghabiskan waktu dan merampok uang. Kaum yang menghabiskan seperempat harinya di dalam mobil karena lebih memilih kenyamanan mobil di lalu lintas mengerikan Jakarta. Dan memilih kenyamanan lingkungan rumah di kawasan yang jauh dari pusat kota.

Ah well... niat saya menulis kali ini bukan untuk membahas kota Jakarta. Tapi untuk menulis 3 weddings yang sempat saya hadiri.
1. Di Pekalongan.
Yang menikah adalah roommate saya sewaktu (dulu) juga sempat mengadu nasib di Jakarta. Kita sempat satu kost selama kurang lebih 3 bulan. Dia tau cerita saya dan saya tau cerita dia. Setelah 3 bulan itu kami masih sering bertukar kabar jika salah seorang membutuhkan. Dan yang seorang lagi selalu berupaya untuk menolong walau hanya sekedar mendengar. How I missed this kind of friend.

2. Di Surabaya
Jika yang pertama adalah teman saya sewaktu menderita di Jakarta, yang kedua ini merupakan teman sewaktu saya di Melbourne, yang seperti juga yang pertama, selalu bahagia membantu. Kita pernah menjadi flatmate selama 1 bulan atau beberapa minggu, tapi tidak terlalu banyak memory yang saya ingat di masa itu. Mungkin karena waktu saya habis di dalam kamar dengan jadwal hidup yang berbeda dengan dia. Mengingat mereka sekarang, saya menyadari bahwa mereka berdua sangat berbeda, dan tentu juga jauh berbeda dengan saya, tapi sama-sama orang yang menatap masa depan dengan harapan *halah*.

3. Di Jakarta
Hmm... what can I say.. Yang ini adalah teman SMA saya. Tak sedekat yang dua diatas, tapi sama seperti yang dua diatas, dia juga seseorang yang ringan hati membantu. Pernah saya mendarat tengah malam di Jakarta dan dia menjemput saya ke airport dan membiarkan saya menginap di tempat nya. Tinggal disini dan bergaul dengan teman-teman Indonesia disini, entahlah.. saya tak menemukan sosok-sosok yang seperti teman-teman saya di SMA dan Melbourne. Yang mau membantu tanpa pamrih, yang merasa dekat dan akan melakukan apa saja untuk membantu. Mungkin karena saya merasa dekat dengan beberapa orang disini, tapi ternyata sepertinya mereka tak merasa dekat dengan saya sampai tingkat teman-teman diatas. I would do the same for them.. tapi ya mereka juga sepertinya dari awal juga telah membatasi diri meminta bantuan karena mereka sendiri juga tak mau direpotkan oleh orang lain. Tak semua.. ada seseorang yang juga tipikal teman-teman saya sebelumnya. Dan tentu saja saya dekat dengan dia and would gladly to help her if needed. I would gladly to help anyone if needed, actually... :D

4. Di Padang
Ini wedding nya sepupu saya, dan saya juga sempat nebeng tinggal bersama dia selama 2 bulan. Saya mendengar cerita-cerita nya dari awal perencanaan wedding. Kita tidak memiliki hubungan dekat sebelumnya, hanya karena hubungan keluarga. But as some people said, blood is thick than water (apaansiiih?)

Alhamdulillah selama masa saya di Jakarta tidak ada funeral yang saya hadiri. Tapi sayangnya saya melewatkan wedding salah satu my best friend. Yang bersama dia saya sering memasak, belanja, jalan-jalan, dan bercerita. Dia juga tipikal teman yang tanpa pamrih mau menolong hanya karena dia mau menolong teman. Yang mau siang-siang menemani saya lunch di dekat kantor hanya karena saya tak punya teman makan siang. Yang mau dititipin belanjaan walau jadinya merepotkan dia. Yang mau menemani saya menghadiri wedding 1 walau dia tak kenal teman saya itu. Yang mau menggila jalan kemana-mana dengan saya di tahun 2012 hanya karena saya ingin melarikan diri dari suasana kantor. Well.. not everything would come out as your plan..

*menulis ini disaat seharusnya mengerjakan thesis, sangat produktif sekaliiii
**sigh

Wednesday, February 26, 2014

Commuter Line Jakarta

Never ever trying to use it in rush hours if you don't really have to. In my case, I don't really have other (better) options. So here we go.. Not only it's never on time but also not enough space for all passengers.








Monday, February 10, 2014

The Internship

Berhubung di universitas saya mewajibkan program internship, jadilah kali ini saya harus bekerja tanpa dibayar. Sebenarnya banyak pilihan lain yang memungkinkan saya internship sambil dibayar (saya paling tak suka dengan kata magang jadi saya akan bersikukuh menggunakan kata internship or intern ditulisan ini), tapi karena tekad saya untuk jadi intern di UN body, jadilah saya dengan rela tak rela mau bekerja dengan tak dibayar.

Lebih karena timing semua nya terasa tepat, akhirnya saya jadi intern di UNDP Indonesia. So far semua nya terlihat biasa, tak ada yang istinewa. Bedanya kali ini saya bukan lagi sebagain bagian dari pemerintah. Dan saya melihat nya dengan sedikit rasa malu melihat cara kerja pemerintah. Tapi ini juga bukan Hal yang baru bagi saya. Bahkan dahulu saat masih bekerja bagi pemerintah pun, saya sering malu sendiri melihat cara kerja pemerintah, yang berarti termasuk juga cara kerja saya sendiri. 

Hingga saat ini yang saya pelajari adalah.. Entah lah.. Percakapan terakhir dengan teman saya yang (bangga) bekerja bagi pemerintah dan suka dengan pekerjaannya, saya malah memperoleh kesimpulan bahwa menyukai pekerjaannya (atau pelajaran) itu tak selalu berkolaborasi positif dengan hasil yang dicapai. Saya telah membuktikan bahwa saya dapat memperoleh nilai bagus di pelajaran yang tak saya suka dan bisa bekerja baik di pekerjaannya yang tidak saya suka. Hanya masalah komitmen dan how far you are willing to push yourself. Dan tentu saja juga termasuk motivasi untuk bertahan.

Jadi jangan salahkan saya yang memandang rendah orang yang menyerah hanya karena hal yang tidak dia sukai. Atau orang2 yang mengaku menyukai pekerjaannya tapi performs badly.

Anyway.. Sebelum internship ini saya sangat bertekad untuk dapat bekerja di UN, for the sake of prestige and salary. Sekarang? Terlihat tak jauh berbeda dengan bekerja untuk pemerintah.. tapi at least dsini beneran kerja untuk tujuan tertentu, bukan untuk memperkaya diri sendiri atau memperoleh jabatan tertentu atau untuk sebuah nama dan karir politik seperti di tempat saya yang lama.