Showing posts with label coretan. Show all posts
Showing posts with label coretan. Show all posts

Saturday, September 20, 2014

Superheroes Mentality

I think most of us have this type of mentality, where you are happy to be someone that could help others. Okaay... probably not all of us, some people might like to see other suffers, especially the kind of people who couldn't find their own happiness, so they find it through others misfortune. In other words, people who has superheroes mentality, that happy to help others, probably content with their life and their happiness comes from sharing and helping. Totally my own theory of happiness, after reading a half of "The Geography of Bliss" by Eric Weiner that based his book on scientific study.

My intention writing this topic was far from scientific study. It was because of the visit of my significant one to my fieldwork location. As I mention in previous post, I am super busy with my thesis fieldwork. But, based on my work-plan, I scheduled everything on the weekdays and kept my weekend free to keep me sane. My bf, that live in the other city, since the beginning had an intention to fly over on the weekend to help me with my works. When I told him that I am free on the weekend, you could guess.. he was a bit disappointed..! But on the week he planed to arrive, I had the unforeseen delay that made me have to work on the weekend if I still want to finish on schedule. So you could guess again... my bf was quite happy with that fact, but not me..! So that weekend, we spend a day in the lab, working. It was not a hard work, just really a bored one. We could talk while working, and as he said, we spent a quality time talking about everything and nothing.

When I told my friend that my bf came over and we had a date in the lab, the reaction was like.. "poor you.. or poor him..". The fact that he's happy with that situation was not on other's mind. So that makes me thought about the superheroes mentality. Since the beginning he want this condition. I am in a trouble and he fly over to help me. Solved my problem. Everyone is happy.

Yeah.. I know.. It's a total crap theory that I just made up. :D    

Friday, February 14, 2014

Smiling

And just the thought of seeing you makes me smile :)

Monday, October 29, 2012

Kehilangan..

Saya suka facebook!
Saya menikmati perjalanan hidup dan emosi orang-orang yang rajin membaginya kepada dunia. Saya memiliki beberapa orang teman facebook favorit, yang kadang saya sengaja melihat timeline nya untuk mengikuti perkembangan cerita hidup mereka. Seakan menonton telenovela life, bedanya yang ini kehidupan nyata tanpa akting palsu... rrr... sekurang nya based on true story lah.. saya tak bisa menjamin bahwa emosi yang di tampilkan di facebook nya itu benar-benar nyata.

Tapi hari ini saya baru menyadari ada yang hilang.. Biasanya saya mengikuti perkembangan cerita seru hubungan dua anak manusia yang di tampilkan di dunia maya itu. Alkisah sepertinya mereka menjalani LDR, dan telah lama menjalin hubungan. Yang seru, setiap kali putus, tiba2 foto mereka berdua dan foto pasangannya hilang... Kemudian marahan di komen2 facebook, ada fase curcol di status update, permintaan maaf bersahut-sahutan berdua sehingga kolom komen pun hanya penuh dengan mereka berdua. Ketika baikan, foto2 mesra akan kembali muncul. Biasanya rentang waktunya pun tak akan terlalu lama. Entah mengapa saya mengikuti perkembangan mereka ini... hihi...

Saya tentu saja abstain, walau kadang pastinya memihak si wanita dan kadang ikut mencela ke-labil-an dia dan menghina di pria yang menurut saya tak searusnya diberi kepercayaan. Baiklaaaah... saya mengaku.. tentu saja saya mensupport si wanita. Karena obviously si pria nya not worth enough for her.

Nah.. Barusan saya menyadari, bahwa tak ada lagi drama di timeline facebook mereka. Awal menghilangnya semua komen mesra dan foto bersama, saya tentu saja berpikir (dan berharap?) hal itu tak akan lama, tapi sepertinya sekarang ini sang wanita benar-benar telah memantapkan hatinya. Semua jejak pria itu hilang dari facebook dia.

Saya kecewa... Satu cerita telah berakhir. Tapi saya bahagia untuk sang wanita. Semoga dia menemukan orang yang bisa memperlakukan dia sebagaimana mestinya.

Ugh.. I need to find another person to stalk... hihi... Terutama sekarang ini manusia yang rajin mengumbar emosinya di facebook semakin jarang. Saat ini hiburan saya tinggal manusia yang merasa diri superior dan paling pintar dengan semua komentar nya ke SEMUA hal remeh kehidupan orang lain, dan seorang proud mom yang sedang hobi membanggakan kehidupan buah hatinya dan perjuangan dia untuk memberikan yang terbaik. Nice stories.. tapi saya lebih suka cerita telenovela penuh emosi..!! hihi...

Tuesday, July 24, 2012

In My Office

Kantor saya jelek sekali. Sumpah ini lebih seperti kandang daripada kantor dengan minim fasilitas. Berawal dari bencana gempa yang merusak kantor lama, kantor yang sekarang ini menjadi semacam kantor darurat. Tapi tak bisa dibilang darurat lagi jika telah ditempati lebih dari 5 tahun. Dan tak ada perbaikan kondisi sekalipun kecuali di ruangan kepala yang sangat luas dan ber AC. Benar kawan, ruangan saya yang hanya satu ruangan tak bisa dikatakan besar, diisi oleh 10 orang dengan meja berdempetan dan tanpa sekat. Sekali lagi.. tak ada AC di udara kota yang panas terik ini.

Bisa dibayangkan seperti apa ruangan kecil berisi sepuluh orang, berikut rak-rak arsip dan meja-meja komputer. Jika satu orang telah memutar kencang sebuah lagu, semua harus pasrah ikur mendengarkan. Apa yang terjadi menjadi tontonan semua dan di dengar oleh manusia seruangan. Tak jarang bakap-bapak di ruangan ini memutar lagu minang yang melengking mendayu atau musik dangdut dipagi hari. Cara saya membentengi diri dari serangan pagi yang semena-mena ini adalah adalah dengan mengeluarkan jurus andalan: plug in earphone!

Dan efek samping nya dalah saya tidak mendengar jika bos saya atau orang lain memanggil saya. Ketidak nyamanan berikutnya adalah saat saya harus un-plug and plug in back earphone nya setiap harus menjawab / bercakap dengan yang lain. Positif nya saya bisa fokus pada pekerjaan tanpa harus mendengarkan rumpian atau becandaan di ruangan yang tak jarang pula menyindir2 saya yang masih berstatus single.

Saya paling suka saat saya mengangkat kepala dari layar laptop dan memperhatikan aktivitas dan ekspresi teman-teman di ruangan tanpa mendengar satu katapun yang mereka ucapkan.

Monday, July 23, 2012

Ikan Air atau Ikan.....????

Jadi hari ini akhirnya saya kembali memasak (yay..! not!) setelah nyaris setengah tahun tak mau tau tentang dapur lagi. Serasa pembalasan setelah tiap hari harus memasak selama beberapa tahun yang lalu.

Biasanya dirumah ada yang membantu memasak, walau tidak setiap hari. Biasanya saya tak peduli apakah di meja makan ada lauk atau tidak, toh saya sendiri nyaris tak pernah makan dirumah. Pagi sekedar sarapan kopi dan roti, siang makan di kantor, dan malam ngemil, atau jajan.

Tapi apalah daya, saat bulan puasa ini, tak mungkin lagi makan di luar. Pertama karena saya tak yakin disini ada yang jualan di waktu sahur, kedua karna saya tak suka tiap hari harus beli lauk buat berbuka dan sahur. Terpaksalah saya memasak lagi.

Tentu saja ritual memasak kurang afdol (dan tak akan terlaksana) apabila tidak didahului dengan berbelanja di pasar. Kegiatan ini merupakan siksaan tersendiri bagi saya, harus masuk wilayah becek, ramai orang, bermacam bau, adegan tawar menawar dan meneteng berbagai kantong kecil berisi belanjaan. Penderitaan belum berakhir disana, tentu dilanjutkan dengan ritual berikutnya; membersihkan belanjaan apabila itu berupa daging / ayam / ikan. Berakhirkan prosesi memasak nya? Belum kawan, kita belum bisa memasuki acara inti memasak apabila belum mengupas ini itu, mengiris ini itu, dan yang paling sial harus menggiling ini itu. Percayalah.. walau menggunakan blender pun, hanya mengurangi derita tahap akhir, tapi ada derita tambahan untuk mengatur dan membersihkan blender nya. Tak heran saya sedikit merindukan kehidupan tahun lalu saat saya hanya tinggal membeli daging2an siap masak yang telah dipotong bersih dan bumbu2 instan. Tapi tentu saja hasil nya juga berbeda. Saya lebih merindukan berbelanja di toko bersih, wangi, tinggal pilih dan tak perlu menawar. Tentu saja harganya berbeda kawan. Jika melihat harganya, maka saya akan kembali merindukan pasar becek ini.

Disini bukannya tidak ada bumbu instan, tapi selain rasanya tak sesuai harapan, bumbu segarpun dapat diperoleh dengan harga yang murah. Jika tak mau repot, pasar selalu menyediakan apa yang diinginkan pembeli nya. Ada bumbu giling yang tinggal cemplung. Tentu saja banyak orang yang lebih memilih mengaduk bumbu sendiri dengan alasan rasa (dan saya tak bisa menyanggahnya) tapi saya lebih memilih kenyamanan dan kepraktisan. Rasa bagi saya merupakan poin ke sekian dari acara memasak.. yang penting bisa dimakan... hehe... Tapi jangan anggap remeh saya kawan, beberapa tahun yang lalu teman2 saya diperantuan menganugrahkan gelar jago masak pada saya dengan menu favorit rendang saya. Jangan dibanggakan masakan itu disini kawan, karena pasti akan dihina dina para "pemasak"beneran.

Dan seperti biasa, saya sudah bercerita panjang lebar dan belum juga menuliskan hal yang menjadi topik tulisan ini. Saat saya belanja di pasar tadi, saya berhendi di tempat yang menjual bumbu giling.. bukan kawan.. ini berbeda dengan bumbu instan. Karena bumbu yang masih segar dia giling tanpa ada proses pengeringan. Jadi bentuk nya basah. Biasanya orang-orang membeli per-gram hingga kiloan untuk bumbu-bumbu yang  berbeda. Tahukan kawan bahwa bumbu dasar masakan padang itu sama semua dan bisa dihitung jari; lengkuas, jahe, kunyit, cabe. Itu bumbu giling yang semua penjual bumbu pasti punya, belakangan beberapa mulai memperbanyak koleksi bumbunya dengan menambahkan bawang putih dan bawang merah. Dulu ibu saya tak pernah kehabisan stok bumbu2 ini di dalam kulkas, tentu saja jaman dahulu penjual nya belum menyediakan bawang.

Sekarang, saya yang tak mau repot dan tak tahu di bumbu ini tinggal meminta pada uda si penjual untuk mengambilkan bumbu berdasarkan masakan yang akan saya buat. Contoh nya tadi..

Saya : "Da, tolong ambilin bumbu pangek ya buat sekilo ikan" (pangek adalah nama sejenis masakan padang yang berkuah seperti gulai tapi tanpa santan, saya malas beli santan :D)

Uda Penjual (UP) : "pangek padeh atau pangek masin" ("pangek pedas atau pangek asin" demi tuhan saya tak tahu apa bedanya... -.-')

Saya : "padeh" (walau tak tahu saya lebih memilih pedes daripada keasinan)

UP : "Ikan, ayam, daging?"

Saya : "Ikan" (bukannya saya sudah bilang dari awal?)

Up: "Ikan air...? Air..? Ikan air atau..?"

Saya : "Air.. (ketawa) Maksudnya atau Ikan laut? " (selain di air emang ikan ada dimana lagi oom?)

UP : "Berapa banyak mo masak ikannya?"

Saya : "sekilo" (ni orang emang ga denger omongan gw di awal ya?)

Dan dengan cekatan si UP mengambilkan takaran bumbu untuk ikan-air-pangek-padeh-sekilo saya. Sayang saya tidak mendengarkan berapa harga bumbunya, karena saya membeli beberapa item di stall nya UP tanpa menanyakan harga, walau dia menyebutkan harga semua item saat menghitung jumlah belanjaan saya, tapi saya tak begitu memperhatikan harga per item. Untuk bumbu, beberapa biji wortel, sebiji kentang (benar saya hanya mengambil satu, UP pun mempertanyakannya, emang aneh cuma ngambil satu? saya cuma butuh satu koq), satu buah yapan, sekotak plastik kecil telur puyuh, sebutir bawang bombay (benar..! saya cuma butuh sebutir..!), dan tiga buah asam kesturi saya terkena total Rp.30 ribu.



Saturday, July 14, 2012

Over reacted (again?)

Ada beberapa topik yang jadinya sangat sensitif bagi saya. Jika topik itu diangkat oleh orang yang saya pikir saya kenal, dan ternyata dia tidak di sisi yang sama dengan saya dalam memandang permasalahan itu, dunia saya seakan terjungkir. Saya tidak sedang membicarakan SARA, tidak. Ini hanya norma umum yang di pegang semua orang. Dulu nya mungkin.

Sekarang seakan semua orang, terutama tapi tidak menutup kemungkinan hanya gender tertentu, merasa bangga apabila berada di sisi seberangnya.

Mungkin kembali saya terlalu sensitif, terlalu overthingking, plus cape berat tapi ga bisa tertidur, plus masih mikir kabar yang tak kunjung tiba, dan seterusnya dan seterusnya...

Kesimpulannya.... Ini mungkin hanya miss communication, my bad (again).
Kalo ga salah pembenaran2 seperti ini, yg blaming my self but other ini yang bikin gw stuck and ended up miserable. Hanya karna saya takut kehilangan?

Wednesday, July 04, 2012

Whatever...

Dan terseguklah (bahasa apa iniiii...?) sesukamu. Bisanya cari perkara saja. Niatnya apa? Untungnya apa toh? Hal seperti ini yang terus membawamu. Kadang terlalu banyak pikiran negatif sendiri yang menjadi penghambat langkahmu.

Entahlah... kadang keputusan untuk melangkah atau diam, menangkap atau melepas, terlambat diambil hanya karna penasaran bahwa dengan sedikit tambahan waktu kau bisa mencapai tujuan dan mendapatkannya. Hanya untuk menyadari bahwa dari awal tak pernah ada tujuan dan tak akan bisa mendapatkan. Jika tak dicoba siapa mungkin akan penasaran hingga hari tua. Dijalani dan resikonya kehilangan kesempatan meraih tujuan lain yang bisa didapatkan.

Whatever.... Saatnya berbalik mundur sebelum terlambat.

Sunday, June 10, 2012

Imaji

Sepertinya saya dari kecil kebanyakan baca novel. Jadi pikirannya teracuni plot novel. Dimana setiap kisah harus mengalami pahit getir kehidupan terlebih dahulu dengan segala ke-lebay-an nya (maaf saya tidak menemukan kosakata yang lebih baik :D ) sebelum kemudian dapat berbahagia. Dan tidak semua cerita pula yang berakhir bahagia. Sedihnya.

Ow ya.. Dramatis. Itu kata yang dari tadi berusaha saya keluarkan dari kepala. Segala sesuatu nya dramatis. Baik itu untuk kesulitan, kesenangan, ending, bahkan problem solving nya juga dramatis. Oh.. I love how everything has to be happens in front of audiences. At least in front of me as a reader.

Dramatis.. dramatis...
Sebagai penggila novel dari kecil, tak heran juga dunk kalau saya juga pemimpi sejati. Saya suka mengimajinasikan peristiwa yang akan terjadi di hidup saya dengan sangat dramatis. Bagaimana sewaktu SD saya sangat suka mengimajinasikan berbagai pencapaian sebagai anak SD. Dan saya tidak suka akan fakta bahwa saya tidak selamanya berada di SD. Kadang saya menghitung waktu yang tersisa (sebagai anak SD) untuk mewujudkan imaji yang saya ciptakan (tentu saja sangat dramatis dan tak mungkin terjadi di kehidupan nyata). Hal yang sama juga terjadi sewaktu saya SMP, tentu saja lebih kreatif dibanding imaji anak SD tapi dengan tetap dengan tema yang sama : "dramatis dan tidak akan mungkin terjadi di kehidupan nyata saya"

Kebiasaan ini hilang tak berbekas sewaktu saya menginjak SMA. Saya terlalu sibuk untuk berdamai dengan kehidupan nyata saya hingga tak ada waktu untuk menciptakan dunia kehidupan kedua. Dan sayang nya berlanjut hingga kuliah.

Setelah bekerja?
Entah karena kehidupan yang kembali membosankan atau karena saya kembali ke lingkungan lama, otak saya menciptakan dunia sendiri. Sebuah movie, dengan saya sebagai tokoh utama, dan banyak orang sebagai audiences.

Temanya?
Masih sama :) Dramatis.. Ya!
Dan tak mungkin terjadi dikehidupan saya??  hmmmmm....

Ternyata tak ada yang tidak mungkin. Saya mengalami nya. Semua derita semua kesusahan sang tokoh utama. Bedanya, tak seperti yang di imaji saya atau di novel2. Semua itu tidak "keren" semua itu tidak "seru" semua itu tidak "mengagumkan".

Tokoh utama yang menderita untuk mencapai tujuannya di alam nyata tak se-heroik di cerita. Di setiap cerita kita tahu bahwa sang tokoh utama akan selamat, akan mencapai tujuannya dan akan bahagia, sepahit apapun derita yang harus dia lalui terlebih dahulu.

Sementara di alam nyataa.. sang tokoh tak pernah tau dia harus terus berjuang ataulah pasrah. Harus merebut, bertahan, atau harus melepaskan. Dan kadang penat menyapa meninabobokan. Membisikkan rayuan untuk menyerah dan pasrah pada nasib. Menghentikan perjuangan dan berdamai dengan hati.

Dan tak ada audience untuk semua drama kehidupan itu. Yang lebih dramatis dari cerita di novel.


Wednesday, May 16, 2012

Cacian

Saya ingin memaki mu. Memaki hingga tingkat dewa. Mengutuk semua perbuatan mu. Semua kata dusta mu. Menghina semua nya.

Tak akan menolong saya sebenarnya. Tak akan meringankan derita saya. Malah mungkin akan menambah. Tapi terkutuklah semua topeng mu.. semua dusta mu.. semua kata mu.. semua nya..!

Wednesday, April 25, 2012

Sorry.... I can't be your friend

Maaf atas semua kelakuan saya dulu. Saya selalu berusaha menyingkirkan kamu dari hidup saya bukan karena saya tidak menginginkan mu, tapi karena selalu sakit tiap kali membayangkan bahwa suatu saat kamu akan pergi meninggalkan saya. Ketidaktahuan akan waktu datangnya saat itu sama berat nya dengan perpisahan itu sendiri. Jadi mengapa harus menanggung derita dua kali. Lebih baik saya yang memutuskan kapan waktu nya untuk melepasmu, tentu saja saat saya kuat. Bukan saat saya lemah, sepi, sendiri tak berteman seperti sekarang ini.

Tapi tak pernah berhasil. Bukannya menikmati dengan gembira sisa waktu yang bisa dihabiskan bersama, saya malah menyiksa diri sendiri. Tidak, tak hanya saya yang tersiksa, pasti kamu juga. Tapi saya sepertinya tidak menyadarinya. Karena saya pikir kamu tidak memiliki rasa yang sama dengan yang saya rasakan. Karena saya pikir, kehadiran saya bagi kamu tak seberarti hadir mu bagi saya. Karena saya tak pernah merasa pantas mendapat posisi istimewa disamping mu.

Wednesday, April 18, 2012

Sepertinya...

Ingat beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk berhenti menulis disini..? Walau hanya berlangsung selama setahun. Sekarang saya mengerti kenapa saya mengambil putusan itu. Itu adalah dimasa saat menulis disini bukan lagi menjadi healing process, malah menjadi pengingat akan hal yang ingin saya lewati.

Terjadi lagi...
Saya ingin berteriak meracau hingga lepas, yang biasanya bisa saya lakukan disini, tetapi saat membuka blog ini saya malah semakin terhisap akan derita yang ingin saya lupakan.

Dulu, saya melewati masa itu dengan menghisap kebahagiaan dari sebatang inang, seperti parasit. Sekarang batang inang nya pun telah mati. Terlalu lama terhisap derita saya yang tak juga tandas.

Sudah masanya saya berdiri mencari kekuatan sendiri, instead of mencari inang baru yang pada akhirnya nanti akan mati pula karena "tempelan" saya.

Monday, April 16, 2012

Numb


Pengen Tidur.
Lupa.
Hilang rasa.
Ga mikir.
Buta.
Sendiri.
Mati.

Tapi masih ga siap beneran mati euy... :D

Friday, April 13, 2012

Rendah..

What did I do..?? T_T
Masyaallah... Astagfirullah... Ya Allah...
Saya telah merendahkan diri serendah-rendah nya manusia...
Tidaaaaak..!
Hiks...
Alhamdulillah masih tetap di jaga.
Please... Be strong, dear..

Wednesday, April 11, 2012

Benarkah?

Benarkah kamu menderita disana? I doubt it
Benarkah kamu pernah benar2 menginginkan ku? I doubt it
Benarkah kamu peduli? I doubt it
Benarkah semua ucapan mu? Tidak.
Percaya kah aku pada mu? Ya
Masih percayakah hingga saat ini? Bodoh nya, masih

Tak ada sakit lagi, tak ada sesak nafas, tak ada tangis, tak ada kecewa.
Hanya keyakinan...
Akan sesal mu yang menjelang
Akan diriku yang berharga
Akan mimpi ku yang mewujud
Akan hidup ku yang lebih baik

Just Ignore Me

Itu yang dulu juga saya lakukan. Mengabaikan orag lain. Dan ternyata rasanya sangat tidak enak. Dan sekarang, setalah keadaan berbalik...

Memang sebaik nya abaikan saja saya.

Hai...
You know I love you...
I miss you so badly...

Tuesday, December 13, 2011

Sedih..

Sial nie.. Gw malah sedih begitu mo wisuda. Ini berawal dari telepon dari temen gw yang menanyakan ada tiket lebih atau ngga. Tiket buat masuk ruang wisuda maksudnya. Setiap graduant kan dikasih 3 tiket buat keluarga. Lha gw ngga ada keluarga yang datang. Sedihnya lagi temen-temen deket gw juga pada wisuda di hari yang sama. Dan beberapa yang belum wisuda tahun ini lagi balik liburan ke Indo. Ya sudah... SEDIIIH...!! SIAL..!!

Jadi ingat wisuda S1 yang tanpa keluarga juga. Tapi waktu itu ada 3 orang sobat gw yang nemenin. Jadi ya seru2 aja. Huff... Ah paling ntar juga I am gonna fine.. :)

Yay..!! Gw beres master nya..!!

Saturday, October 29, 2011

Sunday, 30 Oct 1.06 am

Saya tau nanti waktu yang terposting di tulisan ini pasti berbeda dengan heading. Kejadian yang sama tahun lalu, tapi saya tidak tau (dan malas mencari tahu) bagaimana mengubah setting waktu ke ADST.

It's my birthday...! Tak terasa sudah tuaaaa...!! haha...
Tahun lalu saya juga menulis di blog ini  tengah malam. Entah apa yang saya lakukan waktu itu sehingga masih terjaga di dini hari, tapi yang pasti sekarang saya masih terjaga karena berniat membereskan essay yang harus dikumpulkan senin depan. Yah... walo sepertinya kelamaan nge-game dibanding ngerjain papaer nya.. huhu... Abis tadi udah seharian ngerjain di komputer lab uni (excuses!)

Baiklah... tak terasa saya telah menyiakan sejam hanya untuk bermain. Mari kita lanjutkan dan tuntas kan segera paper ini.

Oya... Happy Birthday dear... :)
Whatever this day means to you...
I love you :)

I love  you, the way you are..
jangan terlalu banyak berpikir negatif tentang diri kamu sendiri
==> perbanyak pikiran positif tentang dirimu

Kamu tidak sendiri, dear...
I always be here for you
ngga usah sok tough, kalau mau berbuat baik ke orang lain jangan berpikir dua kali, jangan mimikirkan balasannya, jangan hanya karna sebel dengan cara dia ngomong jadi mengurungkan niat membantu (haha..) Ngga usah sirik liat orang lain bahagia... dan ngga usah khawatir orang lain akan sirik liat kamu bahagia... (emang gw suka sirik..?) Ngga... cuma kadang kamu suka sedih karna kamu tidak sebahagia dia (emang itu bukan sirik namanya?)

Ok, that's enough dear... Ayo sekarang lanjutkan paper mu...!
(ini secara psikologis berbahaya ngga ya...? kamu alter ego diriku kah?)
Ngga berbahaya dunk.. selama alter ego yang baik dan kamu masih bisa kontrol
(heh..? creepy..!)


Friday, September 30, 2011

Manusia di Seberang Lautan

Jadi ingat dulu saya, dia dan seorang lagi di benua yang berbeda, suka bertukar kabar dan membahas masalah ngga penting. Dan kala itu saya sering memberi nama "rumpian antar benua" pada sesi chit-chat kita. Karna ya... kita bertiga saat itu berada di benua yang berbeda dan bisa-bisa nya ngerumpi  hal ngga penting. Ketika sekarang saya berpikir apa yang membuat kita bertiga bisa "nyambung" padahal bertemu pun jarang.. ternyata jawabannya adalah "tulisan". Kita suka menulis puisi dan hal fiksi, walau pun kita dari satu almamater tapi itu ngga terlalu berpengaruh banyak. Saya jarang bertemu dengan mereka, kita tidak terlalu kenal sebelum ini. Dulu masih pada rajin nulis blog, sekarang sepertinya saya sendiri yang masih rajin menulis hal tidak penting seperti ini, hanya sekedar cabikan kisah yang ingin saya kenang kembali. Dan mengingat kapasitas memory saya yang jika dicompare ke blog memory capacity kalah telak, makanya saya menulisnya (selain untuk terapi *tetep). Lupakan tentang puisi dan fiksi, udah ngga mampu lagi menulisnya. Lagipula reflek saya untuk menulis puisi dikala patah hati sudah tidak terasah lagi.. kemaren labil sampai sebulan sama sekali tidak menghasilkan tulisan apapun selain celoteh tak berguna di blog ini.

Hmmm... sebentar... saya lupa ide awal tulisan ini... Saya mau menulis tentang apa ya...? Hmmm... Oya.. tentang mimpi...! Kenapa judul nya bukan mimpi...? Karena saya memimpikan si manusia di seberang lautan. Hanya salah seorang dari mereka, seorang yang saya sebut di postingan sebelum ini. Saya lupa mimpinya tentang apa... haha....

Alkisah di kamis pagi saat saya terpaksa bangun untuk menunaikan tugas sebagai "patung senyum"di perempatan CBD (setiap kamis pagi saya selalu berjanji untuk menuliskan kisah pekerjaan ini, tapi seperti janji2 tulisan lainnya belum juga terwujud).  Di tram yang surprisingly rame untuk ukuran jam setengah tujuh disini, saya teringat tentang mimpi itu. Seperti biasa, kalau kita tidak langsung mengingat mimpi setelah membuka mata, sebagian besar ingatan tentang mimpi itu akan pudar dengan segera. Dan ya... saya tidak teringat akan mimpi itu saat saya terbangun, tapi saya masih ingat sekelumit sewaktu saya di tram.. Karena kurang kerjaan... saya langsung memberi tau manusia di seberang lautan tentang hal itu. Tak peduli di tempat dia matahari pun pasti belum mengintip. Hihi....

Daaan.. dia baru mereply kemaren malam dan bilang.. "tulis aja di blog.." as if dia selalu baca tulisan saya disini. Kemaren malam berarti.... hmm... baru kamis malam ya... koq perasaan udah lamaaa aja dari mimpi yang saya alami itu... Dan ya.. begitu membaca text dia, saya langsung ingat bahwa saya pernah mimpi tentang dia (entah kapan) dan sama sekali lupa tentang mimpi itu.. seperti udah seabad yang lalu... bahkan pernah memimpikannya saja lupa, let alone menuliskan detail mimpi yang saya alami disini.

So... entah mengapa saya tetap memenuhi permintaan manusia di seberang lautan untuk menulis nya di blog ini... haha... (walau bukan tentang isi mimpinya... sama sekali lupa booo....lol ). Mungkin karena fakta bahwa saya sedang stuck mengerjakan essay dan lebih menikmati menulis hal tidak penting seperti ini.




Sunday, September 25, 2011

Gebetan

Hihi.. Tadi abis chat lagi dengan manusia di seberang lautan yang ternyata telah menjadi teman dunia maya saya sejak tahun pertama blog ini ada. Bukan berarti dia tidak real... saya beberapa kali bertemu dia dan dia beberapa kali menjadi tokoh utama atau ide tulisan saya di blog ini. Ya ngga beda dengan apa yang akan saya tulis sekarang ini. Dan tidak..!! judul diatas bukan bukan menggambarkan posisi dia dimata saya. Biar lebih jelas, dia bukan gebetan saya. Tapi itu menjadi salah satu topik chat kita tadi yang lumayan lucu untuk dicatat dokumentasikan dalam blog ini.

Seperti biasa, sebelum menulis inti cerita, saya suka menulis komentar yang lain-lain dulu yang biasanya tidak ada hubungan dengan judul. Hanya ingin merekam sebuah fakta kecil, bahwa pada awal nya, si manusia di seberang lautan ini memanggil saya dengan panggilan "kakak" dan sejak entah kapan panggilan itu telah bertransformasi hanya menjadi nama saya saja tanpa saya sadari. Saya bukan penggila panggilan penuaan kehormatan seperti "kakak", "mbak", "uni", "teteh" yang nampaknya wajib dinegara kita itu. Entah mengapa, (dulu sie saya menyalahkan ibu saya) di keluarga pun kita adek-kakak bersaudara semua hanya memanggil dengan nama tanpa embel-embel apapun. Sekarang memang terlihat cool, tapi dulu sewaktu jaman esde, ada pertentangan batin setiap kali teman2 sebaya terheran-heran (dan kadang menghakimi) melihat kelakuan saya yang memanggil saudara lebih tua tanpa embel2 "uni", pertentangan antara malu dan tak mau / tak biasa memanggil uni. Jadi jangan salahkan saya yang menyalahkan orangtua... society pressure nya sangat terlalu tinggi saat itu bagi seorang anak esde yang tinggal di kampung. Anyway.. itu tidak berubah sampai sekarang. Saya lebih nyaman dengan panggilan tanpa embel-embel penua-an, tapi juga tak masalah dengan panggilan apapun termasuk di panggil "tante" oleh anak SMA (*gantung diri)

Baiklah.. mari kita berlanjut ke cerita tentang gebetan. Selayaknya orang yang telah terlalu lama berteman, saya dan si manusia di seberang lautan suka bercerita tak penting yang seringkali juga kita lupakan. Saya kadang lupa telah bercerita apa saja dan sejauh mana kepada dia, dan cerita dia seringkali juga telah saya lupakan sama sekali... hehe... Terutama cerita tentang gebetan. Saya tak pernah ingat tokoh2 gebetan dia karna terlalu banyak... dan saya selalu lupa gebetan saya yang mana saja yang telah saya ceritakan ke dia.. lol.

Tapi saya inget beberapa bulan kemaren (saat saya labil), saya menceritakan tentang kondisi saya yang saya pikir sedang "in love" with somebody. Dan reaksi dia yang kaget membuat saya jauh lebih kaget. Karena, selama ini ternyata saya tak pernah sepertinya mengakui atau berbagi cerita seperti itu kepada dia.. (masa sieee...???). Hmmm... walau sampai sekarang saya yakin dia tau kisah saya sebelum ini, karna kita memiliki circle teman yang sama, tapi dia sama sekali tak pernah memberi kesan dia tau sesuatu dan atau berusaha membuat saya menceritakannya. Jadi ya sudah. Anggap saja kisah lama itu tak pernah ada. Mari lanjutkan kisah sekarang...

Ketika dia bertanya "bagaimana dengan gebetan...?"
Reaksi saya adalah... "that's over"
Daaa...? Over gimana? Start aja juga belum. Tapi memang saya sudah tak selabil sebelumnya. Yang terlalu memikirkan orang-orang tersebut (lho..? banyak ya..? hehe..). Karena masalah kuliah saya yang ancur dan mereka yang tidak respon. Alasan kedua sebenarnya lebih merupakan alasan utama saya melupakan dan menganggap semua nya telah berakhir. Karena tak berguna toh... Saya bukan tipe orang yang akan berusaha mendapatkan perhatian lawan jenis dengan berbagai cara... Hei.. kalo kamu tak tertarik dengan saya, ya sudah... I won't do anything to make you in to me...

Kalo tadi saya menulisnya lebih kejam lagi...
"kalo ngga respon ke gw ya sudah... what the hell.. Ga gw peduliin jugaaaa... bodo amat ama semuanyaaaa...."

Dan komentar dia hanyalah tertawa bahagia.... "hahaha.. sound like you"

Yeah... That's me... and enough with all gebetan thingy..!

Btw, tadi saya bertemu dengan teman yang saya ceritakan di postingan sebelum nya. Saya masih kesal dengan komentar moron pacar nya itu. Dan saya sekali lagi mengungkapkan di depan dia (karena sebelum ini kan cuma via telpon dan saya hanya sempat speechless) dan di depan sahabat saya yang lainnya. Dengan emosi cukup tinggi saya membahas ulang tentang masalah itu (mungkin ini salah satu saat dimana seharusnya I should keep my thought just for myself, tapi maaf saya tak mampu). Saya masih ngga terima aja si moron itu want to kick my butt just because I found n told a fact of his stupid country  to my bestfriend. The good part was, sahabat saya yang satunya juga ikut emosi mendengar komentar itu, dan nadanya malah melebihi nada tinggi saya... HAHAHA... PUAS. Sekurangnya saya tidak merasa aneh sendiri menjadi emosi karena masalah itu. Memang normal nya orang bakal emosi mendengarnya. Hanya sepertinya karna sahabat saya itu buta karna cinta (cuiiih...) makanya dia bisa-bisanya melihat hal itu lucu.

Menulis disini sekalian juga terapi bagi saya. Menyalurkan emosi yang tidak seharusnya terluapkan dalam kata-kata di kehidupan shari-hari. Jadi tak heran kata-kata saya kadang terlalu kejam atau hiperbola... (upaya pembenaran diri.. hehe..)

Monday, August 08, 2011

Winter in Melbourne

Gw pengen pajang foto aja.. hehe...
Winter kali ini ngga seheboh taun lalu. Ato mungkin gw aja yang udah mulai terbiasa dengan udara dinginnya. Tapi berasa banged bedanya, tetap ada matahari yang bikin berasa ngga winter dan waktu sahur juga ngga menggigil kaya tahun kemaren. Tahun kemaren itu sahur berasa menyiksa sekali. Kalo sekarang cukup pake jaket dan ngga perlu idupin heater bisa survive tuh sahurnya.

Anyway.. ini beberapa foto dimasa winter, di hari yang cerah
perjalanan dari stop tram ke "tempat semedi"
suatu sore di CBD

Bell st

view sewaktu menunggu tram

my school

uni square
Gw rada terobsesi dengan pohon kerontang tak berdaun itu. Kaya jemari kering berusaha meraih asa.. (halah)
Dan ya... Ngga ada salju di Melbourne!