Monday, February 11, 2013

Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : Pengalihan


#52-10, 28 Mar 14.56 AEDT


Vie melotot tanpa bergerak ke layar laptop tuanya. Besok assignment 1 harus masuk, assignment yang setiap hari bertengger di kepalanya. Dari yang sama sekali tidak mengerti dengan beribu pertanyaan tak henti bernyanyi dikepalanya tentang mengapa begini, apa maksudnya yang itu, hingga sekarang semua telah menyatu melantunkan nada yang harmoni. Senangnya bisa memahami. Dan sekarang dia menghadapi masalah baru. Merumuskannya dalam rangkaian tulisan singkat yag dapat dimengerti orang lain. Satu jam dan 2 paragraf terukir dengan beribu cacat. Dan dia butuh pengalihan. Satu lagi assignment untuk minggu depan belum disentuhnya. Keputusan untuk hanya berkonsentrasi pada yang satu ini dan sama sekali tidak melirik tugas satunya tetap membisikkan kekhawatiran di benaknya yang telah lelah. Tapi tak ada pilihan lain, satu pun kemajuannya sangat mengerikan, lebih lambat dari laju tram yang terseok dipenuhi penumpang.

Keinginan kuat untuk mengalihkan tarian jemari di keyboard nya dari tugas ke catatan hari ini sangat menggoda. Dan seperti biasa dia menyerah. Menikmati dengan tenang saat jemarinya menari mengetikkan rangkaian kata tanpa perlu berpikir. Sepi. Tak ada emosi. Hanya ingin menulis tentang kisahnya kemaren dengan dua sahabat dari belahan bumi yang berbeda. Tentang rencana-rencana liburan bersama mereka di summer holiday. Saat banyak tugas menanti di depan mata, rencana tentang liburan yang masih sangat jauh setelahnya cukup membantu untuk sementara mengalihkan pikiran dan sedikit memotivasi.

Tunga kemaren mengundang makan siang di apartement nya. Kali ini selain Vie, Tunga juga mengajak Arms yang berasal dari Maldives, sebuah negara yang menurut wikipedia adalah yang terkecil di Asia. Vie menggunakan Google Maps untuk melihat negara kepulauan ini. Dan dengan skala 200km pun dia hanya menemukan titik nama negara itu di tengah laut selatan india. Arms sering kali dituduh sebagai orang Malaysia atau Indonesia, karena dia memang tidak ada bedanya dengan penampilan penduduk dari dua negara itu. Dari Malaysia terutama, karena kebanyakan mahasiswa Indonesia disini putih-putih dengan mata sipit, bukan mahasiswa Indonesia kere yang mengandalkan beasiswa tentunya yang aku maksud. Dan Arms bisa sedikit mengerti bahasa Malay (demikian dia bilang) karena menamatkan S1 nya di Brunei.

Vie datang ke apartement Tunga dengan membawa sekotak mie goreng instan yang disukai Arms dan Tunga sangat ingin tau tentang makanan ini.. haha... Sementara Arms datang dengan perlengkapan membuat custard fruit+cake terkenalnya. Dan Tunga yang suami dan anak 9 tahun nya telah datang kesini, mempersiapkan makanan khas Mongol nya. Yang tak beda dengan pastel tapi hanya diisi daging cincang tanpa sayuran.. (dia membuat 2 versi; dengan daging halal dan daging biasa). Jadi seperti itulah.. Vie sangat mensyukuri pilihannya untuk membawa sekotak mie goreng karena pastel hanya seperti cemilan baginya, bukan makan siang. Arms dengan piawai ala master membuat dessert andalannya dan dengan sukses menjadikan Vie asisten yang dengan patuh menuruti perintah sang master untuk mengaduk adonan custard yang makin lama makin menggeliat mengental diatas api tak kasat mata. Dan seperti para master masakan lainnya, tidak ada takaran yang digunakan. Tak ada sendok atau literan untuk mengukur. Hanya feeling sang master untuk menambahkan gula, susu, tepung custard dan air hingga sukup untuk sekaleng buah campuran.

Itu kemaren. Dan sekarang Vie kembali dengan rutinitas harian nya. Duduk di depan laptop, memikirkan tugas nya dan membuka facebook, forum ikastara, email dan hal tidak pening lainnya untuk memunda dan mengalihkan perhatian dari tugas yang seharusnya dia kerjakan. Desakan untuk kembali menekuni tugas nya menggema di kepala Vie, berukut aliran adrenalin ke seluruh tubuh karena waktu untuk mengumpulkannya telah semakin dekat. Dan jemarinya masih lincah menari menulis kisah hari ini. Masih banyak hal yang ingin dia tulis; tentang barang-barang disini, dari kelontong hingga branded yang semua made in China, tentang bagaimana dia mengecek baju-baju yang dibawanya dari Indonesia sekedar mencari tahu di buat di manakah baju-baju itu, tentang ramalan menggunakan tulang (entah apa) dirumah Tunga kemaren. Tentang anak laki-laki Tunga yang terlihat lebih menyukainya dibanding Arms. Tentang mereka yang berjalan cukup jauh ke sebuah lokasi "Direct Factory Outlet", tentang dirinya yang terpaksa menghabiskan cukup banyak uang hanya untuk beberapa lembar baju. Tentang mimpi dan harapannya, dan tentang semua hal yang bisa mengalihkan pikiran nya dari tugas ini.

Tapi di kenyataannya, Vie harus kembali menekuni tugasnya. Harus mengalihkan kesenangan dan kelincahan menulis kata-kata ke tugas yang akan dikumpul besok.

Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : Crazy


#52-09, 20 Mar 13.23 AEDT


“So.., how was your.. uhm.. sex... relationship?” 

Aku sedang di unit kediaman sementara Tunga, di daerah Flemington, kurang lebih 4 km dari Mebourne University. Sedang duduk di membelakangi laptop nya dan memandang dia yang sedang berdiri di depan pintu kamar dengan celemek dan membawa sendok penggorengan. Mulut ku membuka tanpa suara dengan pandangan bingung menatapnya. Dan seperti biasa, menganggap English anehnya yang sangat kental dengan aksen Rusia (walaupun dia berasal dari Mongol, tapi pernah hidup 9 tahun di Rusia) itu tidak dapat di mengerti, Tungga mengulangi dan memperjelas pertanyaan nya.

“I mean… your sex.. with him… Is it good..??”

Tunga, ibu 2 anak yang sedang menanti jawaban ku ini, masih cantik di usia empat puluh. Itu usia menurut perkiraan ku, karena tidak mungkin aku menanyakan langsung pada dirinya. Tapi anak sulungnya telah berusia 18 tahun dan dia bertemu dengan suaminya saat berumur 22 tahun. Ya, aku bertanya pada usia berapa dia menikah dan dia menjawab dia bertemu suaminya pada umur 22 tahun. Cukup, tidak ada pertanyaan lanjutan. Suatu saat Tungga juga pernah menuduh aku jauh lebih muda dari dia dan mengatakan dia 10 atau malah 15 tahun lebih tua (setelah dengan santai nya dia menyakan usia ku berapa).

“Because… Vie... Ada temen ku yang masih tetap bertahan dengan pacarnya hanya karena sex... Tidak ada alasan lain…”

Karena aku masih juga melongo bego, Tungga kembali melanjutkan usahanya memperjelas pertanyaan. Sementara aku masih bingung bagaimana harus menjawab pada seorang atheis yang terheran-heran dengan “halal meat”, takjub dengan 5 kali prayer times dalam sehari, dan ikut mengambil buku “Muslim Student Guide” hanya karena tertarik. Akhirnya aku hanya berujar…

“You know Tunga… Di negara ku, kamu tidak bisa menanyakan pertanyaan seperti itu pada orang lain”

Dan, seperti yang sudah kuduga, “Why…?” dengan ekspresi tak mengerti terlontar keras.

Because.. Sex before married is not a common thing in my country”
“Whaaaat??” Kali ini dengan ekspresi tak percaya lengkap dengan mengangkat tangan nya yang masih memegang sendok penggorengan.

“Ini karena agama mu?”

“Hei.. banyak ajaran agama lain yang juga melarang nya, bukan cuma agama ku” tukasku defensif dan tak sengaja terdengar sangat kasar.

Aku tak mau menjelaskan lebih lanjut, bahwa itu bukan berarti tidak ada yang melakukannya. Bagaimana bisa menjelaskan pada.. Ooopss.. ya.. aku ada ide…

“Look.. ini hanya –bukan-pertanyaan-yang-wajar. Tidak semua orang bisa menerimanya, bahkan mungkin beberapa orang akan tersinggung, terutama yang masih berstatus belum-menikah. Sama seperti menanyakan umur pada orang yang mulai terlihat tua disini.. Tidak semua orang bisa menerima nya kan? Beberapa orang malah akan tersinggung”

“Yeah.. But.. kalau kamu jatuh cinta dengan seseorang.. merasa cocok dengan nya, dan lalu menikah.. tapi sebelumya tidak pernah berhubungan sex... Bagaimana kamu bisa TAU…. Bagaimana kalau TERNYATA….. BAGAIMANA..…??” dan ekspresi serta gerakan tangannya yang memegang sendok penggorengan semakin liar.. Bingung mencari kata yang tepat untuk melukiskannya.

“That’s CRAZY…!” simpulnya dengan pandangan tak percaya dan beranjak kembali ke dapur. Yang berarti mundur selangkah dari depan pintu kamarnya.

Yup. This is crazy… Maksud ku.. bagaimana mungkin perjalanan jauh ku menyeberang ke negeri tetangga dan meninggalkan tempat aman nyaman sentosa negriku tercinta Indonesia (oke, aku terlalu berlebihan) berakhir dengan di interogasi oleh ibu-ibu atheis yang terheran-heran dengan cara aku menjalani hidup. Berawal dari kelas preparation bagi AusAid Student, aku sekelas dengan Tunga, satu group dalam suatu tugas karena bidang kita sama, yang berarti satu fakultas juga. Dan karena terjadi DRAMA dalam kelompok tugas yang beranggotakan lima orang itu, akhirnya aku bersahabat sampai sekarang dengannya.

Dan disinilah aku sekarang. Di unit apartement satu kamar Tunga yang kecil. Biasanya tempat seperti ini hanya disebut unit. Terletak di Gedung dua lantai dengan 8 unit. Tiap unit hanya memiliki 2 ruangan. Living room yang menyatu dengan dapur, dan bedroom dengan kamar mandinya.

Bukan tanpa alasan tiba-tiba Tunga menanyakan pertanyaan itu. Dan bukan tanpa alasan juga aku hari ini berada di rumahnya. Alasannya adalah sosok “him” yang ditanyakan Tunga barusan padaku. Seorang yang (mencontek gaya Harry Potter) namanya-tak-mau-aku-sebut, telah membuat ku tak betah tanpa kegiatan sendiri di rumah. Seseorang yang namanya-tak-mau-aku-sebut itu juga sepertinya menjadi alasan lain kedekatan ku dengan manusia atheis ini. Seseorang namanya-tak-mau-aku-sebut yang sekarang jauh berada di kampung halaman ku ternyata masih juga mengganggu hidup ku yang sudah cukup memusingkan di negeri orang ini. Dan terimakasih kepada facebook, yahoo messenger, skype, email dan operator telepon yang membuat jarak sama sekali tak ada artinya. Dan terimakasih (bernada sinis) untuk dia-yang-namanya-tak-mau-aku-sebut karena selalu betah bercokol di kepala ku.

Tunga kembali muncul di depan pintu

“Kamu harus melupakannya… Dia jauh.. Kamu pasti bisa… He is not in love with you… Sorry…”

Ok, terimakasih atas semua pendapatnya Madam. Tapi aku percaya dia (sekurangnya) pernah in love with me. Dan sepertinya aku masih berpegang pada bayangan yang telah berlalu itu. Empat tahun bukan waktu yang singkat dan bisa dihapus dengan empat bulan di negeri orang. Seperti aku bilang sebelum nya, jarak tidak berarti apapun. Sebelumnya, walaupun satu kota, toh aku pun jarang bertemu dengandia-yang-namanya-tak-mau-aku-sebut.
Ya, empat tahun sudah. Dan tidak, dia bukan suami orang. Karena itu selalu pertanyaan orang lain setiap kali mendengar sekilas ceritaku. Dia bukan, atau belum suami orang. Dan ya, dia punya kekasih yang dia akui dia cintai (dan pastinya mencintai dia, atau harusnya begitu), dan ya, aku masih tetap cinta dengan nya.. Ugh.. aku benci mendengar kata cinta, tapi maaf aku tidak bisa menemukan padanan kata lainnya. Sayang atau suka tidak menggambarkan dengan tepat perasaan ku. Ini cinta. Terdengar dangdut atau lebay pun (seperti pendapatku dulu tiap kali mendengar kata ini) harus aku akui ini memang cinta. Maaf untuk yang lebih percaya logika daripada cinta (dulu aku termasuk golongan ini). Mungkin anda tidak akan pernah mengerti kisah ku ini.

Aku mencoba mencerna sendiri kisah ku. Terdengar sangat tidak masuk akal. Jika orang lain yang menjalani kisah ini, dan menceritakannya padaku. Aku akan sangat kasihan padanya, lebih parah lagi aku mungkin akan megatakan dia super-duper-goblok. Dan ya, aku tau orang pasti memandang seperti itu padaku saat ini. Tunga salah satu bukti nyata pendapat ini. Orang yang rasional pasti akan memilih mematikan cintanya apabila orang yang dicintai telah bersama orang lain dan memilih untuk tetap bersama yang lain. Tapi aku tidak. Dengan pongahnya memilih untuk tetap mencintai hanya karena satu alasan: dia-yang-namanya-tak-mau-aku-sebut menyatakan bahwa dia juga mencintai aku, tetapi tidak bisa meninggalkan kekasih nya (yang telah menjadi kekasih nya selama 8 tahun). Gila..!! Dan semua orang yang tau kisahku ini memberikan pendapat yang sama. Lupakan!

Aku salah. Tak ada pembelaan diri. Seharusnya aku membunuh cinta ini pada kesempatan pertama. Mengutip ucapan salah seorang sahabat ku; lupakan, matikan, walau pasti sakit, lebih baik sakit sebentar daripada berkelanjutan. Tapi aku memilih untuk tidak melupakan. Memilih untuk tidak terlalu sakit, walau menyadari akan membutuhkan waktu lama. Tapi empat tahun..?? Masokis!

Tapi aku tahu dibalik semua alasan tidak logis tentang cinta itu, aku memiliki suatu alasan rasional; masih berharap dia-yang-namanya-tak-mau-aku-sebut memilih aku dibanding kekasih nya. Crazy..!

Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : China Town


#52-08, 11 Mar 17.30 AEDT


Itu tram nya..!! Dengen gerakan terseok pelan seperti kelebihan beban, tram no 19 dari arah city menuju north coburg terlihat bergerak mendekat. Dan Vie kembali memencet ulang tombol lampu penyeberangan walau dia tahu tidak akan mempercepat bergantinya traffic light, hanya bahasa ketidaksabaran. Dua orang pelajar disebelahnya sedang berbicara cepat dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Satu lirikan cepat, Vie langsung menyimpulkan; Cina. Tapi kemaren pun dia menyangka Kim, Tunga, Rimzi dan Bun dari Cina, padahal mereka dari Vietnam, Mongol, Bhutan dan Laos. Bahkan seringkali dia berpapasan dengan segerombolan pelajar yang terlihat sangat Cina, tapi berbincang dalam bahasa Indonesia.

Suara lampu penyeberangan yang telah hijau memusatkan kembali perhatian Vie pada usahanya mengejar tram 19. Cuaca lumayan bersahabat hari ini di Melbourne. Matahari cerah, tapi udara masih dingin. Tram nya penuh, seperti yang sudah dia duga. Biasanya penumpang akan jauh berkurang setengah jalan menuju kediamannya yang menjadi “kampung” nya pelajar Indonesia; kampung Brunswick. Suara dalam berbagai bahasa terdengar mendengung. Dan setengah tak percaya Vie menemukan kursi kosong. Menghadap kedepan dan tidak ada seorangpun yang duduk di dua space yang ada, walau diseberangnya segerombolan "bule" Ozi dengan pakaian kantoran asik ngobrol sambil berdiri. Aneh.

Ada sesuatu kah dikursinya? Tak banyak waktu untuk berpikir, gerakan tram yang menghentak maju, mendorong Vie mendekat ke kursi kosong di tengah keramaian itu. Sekilas pengamatan, tidak ada yang aneh dengan kursinya. Sudahlah.. barangkali orang-orang itu memang ingin ngobrol dengan teman-temannya, pikir Vie walau dia sendiri masih kurang mempercayai pendapat ini. Vie menghempaskan tubuh lelahnya di kursi dan bergeser mengambil posisi ke dekat jendela. Pelajar Cina (atau sepertinya Cina) yang ternyata juga naik tram ini pun tak berminat duduk di kursi kosong di sebelahnya. Pikiran Vie masih terpusat pada keanehan kursi yang telah dia tempati ini, dan sebelum dia sempat melayangkan pandangan ke dua orang yang duduk tepat didepan dan berhadapan dengannya, Vie menemukan jawaban. Dan terbukti ketika dia mengangkat kepala, menatap pasangan di depannya.

Ketika sepasang manusia mengumbar kemesraan di depan publik, ternyata bukan hanya hal yang berat bagi kita yang tidak biasa melihat hal seperti itu. Semua orang yang tidak terlibat dalam kegiatan pamer emosi itu pasti merasa risih. Hal yang mungkin dilakukan adalah ikut terlibat..(haha), menikmati.. (bisakah?), atau pergi menghindar. Dan ini bukan untuk pertama kalinya Vie melihat orang-orang memilih untuk menghindar. Akan lebih susah menghindari ekspos emosi ini di kereta, atau tram. Vie pernah melihat di kereta orang-orang tidak mau duduk di dekat sepasang anak muda yang sedang bermesraan, dan untungnya kereta itu sedang tidak ramai sehingga banyak pilihat tempat duduk yang bisa menghindari pemandangan itu. Dan sekarang? Vie tepat terjebak di dalam tram yang penuh sesak. Jawaban keanehan kursi kosong di tengah keramaian terungkap sudah. Tak ada pilihan lagi, lorong telah dipenuhi penumpang yang berdiri. Vie mengumpati dirinya yang hanya berfokus mencari keanehan pada kursi kosong, dan sama sekali tidak memperhatikan apa yang ada di depannya. Tapi tadi ketika Vie berjalan kearah kursi ini, dia tidak dapat melihat pasangan ini karena mereka membelakangi nya, dan sekarang mereka tepat berhadapan dengannya yang masih melongo menemukan jawaban dan terlambat untuk menghindar.

Baiklah.. mari kita gunakan opsi lain yang masih rasional; menikmati? Agak berat sepertinya di situasi seperti ini. Hmm... maksud ku... Sekali lagi sepertinya dua orang ini Cina. Yang perempuan masih muda, dan yang laki-laki mungkin akan aku anggap seperti ayah yang sedang mengantar anaknya yang ingin kuliah di negri orang, seandainya adegan yang mereka pertontonkan tidak melebihi hubungan ayah dan anak. Weks.. Percakapan dengan suara rendah dalam bahasa yang tidak aku mengerti (dan sekali lagi, sepertinya bahasa cina..hehe). Coret kemungkinan pemandangan ini bisa dinikmati, ini malah terlihat menjijik-an. Ayah dan anak?? C’mon.. Dia lebih pantas menjadi ayah mu..!

Tapi kemudian aku mencuri pandang lagi pada si perempuan, mencari gambaran apakah mungkin usia nya jauh melebihi penampilannya yang masih terlihat sangat muda. Aku mencari tanda2 kerutan di leher atau di sudut mata, atau garis wajah yang mungkin menunjukkan tanda-tanda kedewasaan kalu tak mau aku bilang ke-tua-an. Tapi negatif... dia masih sangat muda, mungkin seumuran dengan aku, kalau tidak jauh lebih muda. Kecuali jika dia memiliki resep tradisional yang sangat mujarab atau dokter kulit yang sangat ahli. Untuk kedua kemungkinan itu, seharusnya dia bisa menjadi pengusaha sukses dengan memasarkan ramuan ajaib nya atau banyak wanita lain yang telah mengantri di dokter kulit langganannya.

Mari kita lihat si “ayah”, mungkin kah karena terlalu banyak pikiran membuat penampilannya jauh terlihat lebih tua dari umur sebenarnya. Hmm...hm... tua..tua..tua.. Positif. Dari penampilan fisik sampai gaya pakaian dan pembawaan. Tua.Titik. Memang pantas menjadi ayah nya.

Nah... ternyata aku cukup menikmati duduk tepat di depan pasangan ini. Bukan dalam konteks menikmati adegan pamer emosi yang mereka pertontonkan. Dan satu pikiran lagi menyentak di kepala ku. Aku bisa memahami ketika melihat sepasang anak muda yang bermesraan di muka umum. Mungkin mereka tidak pernah merasa waktunya cukup untuk berdua, atau mereka masih sangat excited dengan hubungan mereka. Tapi untuk pasangan yang sudah lama.. Apa masih relevan alasan tersebut? Ah.. sudahlah... Nanti aku kembali membuat asumsi lain untuk pasangan ini, selain menuduh mereka ayah-anak.

Vie menghentikan penelaahan terhadap pasangan di depannya. Untuk sesaat dia menyadari kelelahan yang menggelayuti sekujur tubuh nya. Kuliah intensif dari jam 9 pagi sampai 5 sore ini sangat menguras tenaga dan pikiran.

Seharusnya aku tidak hanya tertawa ketika membaca edensor, sewaktu Andrea Hirata menggambarkan sekelompok pelajar yang selalu duduk di barisan paling depan dengan alat perekam mereka. Nilai IELTS diatas 7 tidak memberi jaminan sama sekali bahwa kita dapat mengerti. Lupakan rekaman suara jernih dan jelas dari soal listening. Disini para Ozi berbicara dengan logat yang aneh dan malas mengucapkan kalimat yang panjang.

“Hai... Haw wa yah?” (baca: “hi.. how are you?” –crazy!) adalah greeting yang setiap saat mereka gunakan. Lupakan good morning, good afternoon, dan kawanannya.

Untung nya dosen-dosen disini pun berasal dari berbagai penjuru dunia. Tapi entahlah.. aku tidak bisa memutuskan ini suatu keuntungan atau tidak. Mungkin sangat menguntungkan saat salah seorang dosen ku berasal dari Canada, karena dengan gampang aku bisa mengerti semua ucapannya (masih ucapan, bukan isi pelajarannya..haha..) walau gaya sinisnya terasa sangat berbeda dengan gaya kebanyakan Ozi yang sangat sopan. Tapi Profesor yang mengajar tadi (sekali lagi) dari Cina. Kali ini aku pasti tentang asal nya, karena dia mengakui nya. Dan juga mengakui aksennya yang sangat kental dan berbicara dengan sangat pelan. Tapi tetap membutuh kan lima detik tambahan untuk mengerti apa yang dia maksud, terutama saat dia melemparkan pertanyaan. Bahkan pertanyaan tidak penting seperti; “Siapa yang sudah pernah mempelajari subjek ini sebelumnya?” membutuhkan kesenyapan 5 detik (yang terasa sangat lama) sebelum beberapa tangan terangkat.

Dan James yang duduk diseberang kelas tanpa suara berucap “I don’t know what he’s talking about..” dengan ekspresi setengah geli dan putus asa. Tapi ketika kelas akan berakhir dan sekali lagi sang Professor meminta maaf akan aksen nya, dan bertanya apakah pelajarannya bisa dimengerti? Seisi kelas dengan sopannya mengangguk dan menunduk sambil menggumam “yes”. Seperti nya semua bertekad untuk mempelajari sendiri dari slide yang ada dan text book yang di rekomendasikan daripada mendengar ulang lagi dengan aksen bahasa yang sama.

Pasangan didepan aku berisik dan kasak-kusuk membuyarkan lamunan sesaat. Mereka mengamati tram stop, dan aku menyadari kepadatan tram telah berkurang. Ternyata tram telah memasuki Sydney Road yang di kiri kanan jalannya di padati dengan berbagai macam toko yang realatif lebih murah. Dari variety shop (atau toko Cina) sampai outlet Harley Davidson. Satu anggukan pasti, dan pasanagan itu berdiri untuk keluar di stop berikutnya. Para Ozi yang tadi berdiri, bergerak menempati kursi-kursi kosong di samping dan depanku. Tersenyum sambil melantunkan “Sorry” saat kaki jenjangnya tanpa sengaja menyenggol kaki ku..

“No worries” lantunan balasan keluar dari mulut ku, reflek dengan senyum. Bahasa basa-basi kesopanan wajib berikutnya. Sudah setengah jalan menuju kediaman SEMENTARA ku.

Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : Temptations

#52-07, 7 Mar 2012, 23.58 AEDT

Kepalanya berat menahan kantuk. Beberapa jurnal artikel berserakan di depannya. Belum dibaca! Dan sekarang adrenalin mengalir deras, jantungnya berdetak lebih cepat, kantuknya hilang sekejap. Tak dapat ditahan lagi, tergesa di alihkan nya mouse membuka tab baru, harus dilakukan saat ini. 

Percakapan tentang perjalanan mengejar mimpi di negeri empat musim dengan sesama pemimpi yang sama-sama baru dalam menjalani mimpi telah menjadi pemicunya. Dia harus segera menulis sebelum kepala nya menjadi lebih berat dengan segala "andai" dan "kalau saja". 

"Fokus Vie!!"

Hardikan kecil itu membuatnya terkejut juga, dan disusul cengiran sinis. 

"Fokus!" perintahnya lebih tenang.

Oke mari lihat apa masalahnya. Ini mimpiku, ini anganku... Terima kasih untuk semua novel pemberi semangat para pemimpi untuk mengejar citanya ke luar negri. 

"Ini menyenangkan" ulang nya lagi seperti merapal mantra

Sangat menyenangkan.. Kota yang menarik, universitas yang dikenal luas. Cukup menyebutkan nama universitasnya orang (yang tau) akan langsung menghargai. Tak usah di jelaskan fakultas apa, tak perlu mereka tau kalau program ini baru berjalan kurang dari 5 tahun dan belum menemukan bentuknya. Tak usah bandingkan dengan fakultas-fakultas favorit nya. Tak usah pedulikan subject yang dipelajari. Cukup nama universitasnya dan berapa lama program yang ditawarkan.

"Stupid!" kali ini dengan dengusan yang diiringi cengiran sinis.

Vie menikmatinya. Bukan menikmati beberapa bulan yang telah dia lewati di Melbourne dengan keanehan cuacanya ini. Tapi menikmati saat-saat menunjukkan kesalahan yang dia perbuat ke dirinya sendiri. Terkadang ke orang lain. Seperti yang dilakukanya saat ini.

Note di Facebook cukup efektif dirasanya saat ini. Dan tangannya dengan lihai menari diatas keyboard.

Kalau mempunyai mimpi untuk bersekolah ke LN:
  1. Jangan memilih hanya karna nama besar universitas
  2. Jangan menganggap makin lama di negeri orang makin baik
  3. Percayalah... percayalah.. percaya.. pada sisi negatif dan kesusahan yang digambarkan di semua novel pengantar mimpi belajar ke luar negeri itu. Dan kalikan sepuluh penggambarannya. Jangan anggap semua nya itu hanya pemanis cerita. Itu nyata


Cukup. Nafasnya sudah kembali teratur sekarang. Kepalanya tidak berdenyut lagi. Kantuk telah kembali menghampiri. Publish. Selesai.

Tangannya dengan terlatih mematikan semua program yang sedang berjalan. Melirik malas pada jurnal-jurnal yang bergeletakan. Melihat jarum jam yang tak bosannya berputar. Melihat kembali jadwal kuliah nya besok yang di siang hari. Menyadari bahwa telapak tangan dan kaki nya telah dingin. Dan menyeret tubuh nya kebalik selimut.

Saat ini summer di Melbourne, 17 derajat, warning thunderstorm semalaman, kemaren hujan es, dan banjir di beberapa tempat. Indah nya...

Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : Prolog

Ini adalah kumpulan cerita perjuangan di negri orang yang di posted di forum alumni saya. Di inisiasi oleh seorang alumni yang dulu sedang berjuang di negri Londo ini. Saya waktu itu sedang di Melbourne. Alumni itu telah memperoleh kemerdekaannya. Hasil perjuangan beberapa tahun, dan saya, saya juga, tapi akhirnya kembali ke titik awal, memulai perjuangan baru di level yang sama. Hanya berbeda tempat. 

Cerita ini saya salin disini untuk menghindari kehilangan semuanya jika forum yang mati suri itu akhirnya benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya suatu saat nanti. Angka #52 di judul itu adalah simbol arogansi dan ambisi si inisiator yang (sepertinya) menginginkan satu tulisan di tiap minggunya sehingga akhir cerita akan tepat di minggu #52. Tapi hingga saya melompat ikut di gerbong kegilaan itu, sekarang, 3 tahun kemudian, ceritanya masih di kepala-2.

Saya ingin memindahkan cerita dari #1 tapi sepertinya akan terlalu menenuhi blog ini, lagipula ceritanya sama sekali tak berhubungan. Jadi saya putuskan hanya akan memindahkan tulisan2 saya disini. Sekaligus flashback masa perjuangan lalu sebagai inspirasi perjuangan kali ini.

Wednesday, February 06, 2013

Above the sky


Berikut ini catatan yang saya buat sewaktu "terpenjara" 18 jam di pesawat kemaren


Hmm... Sekarang sedang diatas europian continent harusnya. New life? Semboyan saya selama tahun 2012. Alhamdulillah tercapai juga walau sudah memasuki 2013. Awalnya saya memasang jargon itu karena saya berniat memisahkan diri dari kisah lalu yang tertalu lama menyedot kebahagiaan saya bagai benalu. Tapi tak segampang sebuah semboyan, sodara-sodara! Tahun 2012 saya habiskan untuk travelling. Maksudnya bukan sepanjang tahuuun.. Tapi di tiap kesempatan. Bahkan sampai kabur dari rutinitas kantor. Traveling di daerah sendiri aja sebagai guide sumbar 101 membawa teman2 saya yang baru pertama kali ke Sumbar dalam tahun 2012 ini saja sudah 3x. Selain itu saya ke Tidung, Lombok, Karimun Jawa, Bali, Bandung 2x, dan Maldives. Trip ke jkt sebagai persinggahan atau tujuan utama tak usahlah dihitung lagi. Di setiap akhir minggu saya selalu berusaha mencari kesibukan. Otherwise saya akan "menggila mengasihani diri" di rumah. 

November 21, 2012, I met him. And things changed..

January 28, 2013, Saya harus berangkat ke The Netherland. For the next 2 years. Tak beda dengan beberapa tahun yang lalu, awalnya saya berniat melakukan ini (kembali) untuk melarikan diri dari kehidupan. Dari awal semuanya nampak mudah dan lancar. Saya pikir mungkin ini hikmah dibalik penderitaan (halah) saya sebelumnya. Saya diijinkan kembali kabur dari rutinitas. Hingga di akhir tahun semua berubah. Tak ada lagi kemudahan. Yang ada hanya semua halangan yang tampaknya tak memberi celah jalan keluar. Saya mengambil keputusan, bukan keputusan gampang. Minggu yang penuh dengan curhat, opini, argumen disela debar takut jantung dan sakit perut (saya selalu sakit perut saat sedang stress). Keluarga teryakinkan. Karena mereka melihat saya yakin. Padahal deep down inside saya ketakutan. Saya menjadi sedikit lebih kuat karena melihat keluarga saya tak menentang. Padahal ternyata dibelakang saya pun mereka mengkhawatirkan keputusan saya. Yang membantu adalah adanya common enemy.. Hehehe.. Jadi keluarga saya pun menyalahkan satu pihak yang menghalangi langkah saya ini. Dan perjuangan saya didukung. Tapi tidak keputusan saya.

At the end, saya memilih untuk berangkat. Dengan segala resiko nya.

What about him? As I mention in some postings before, I think I am in love. It's crazy how fast thing's going. He's not sure. Of course.. Who can be sure in that short period of time.. but crazy me.. Hehehe. Bahkan membicarakan dia ditulisan ini saja mampu membuat mood saya berubah cerah ceria. Dan sekarang, beda benua kembali memisahkan dan beda waktu yang pasti akan mengganggu komunikasi. Kebanyakan teman2 saya yang tahu cerita ini menyarankan saya untuk "keep looking for the better one". Maksudnyee yang ga harus terpisahakan jarak dan waktu begini. Yang ready for settling down. Yang ga berniat nunggu lama2 untuk memberi keputusan akan masa depan (ceileeeee...). Tapi mana ada sie yang seperti itu? Setiap relationship pasti butuh waktu laaah... 

Saya bukan orang yang memulai suatu relationship jika saya tak yakin. Makanya hingga setua ini saya hanya menjalani 2x dengan tipe yang sama. Short period relationship and long period stuck in the story (apa seeeeh...?). Dengan para ex-es itu anehnya, bahkan sewaktu menjalani hubungan pun saya sudah teryakinkan bahwa I won't spend the rest of my life with him.. Hihi.. Pada suatu ketika, saat salah seorah ex marah karna hal yang saya lupa. Yang saya ingat hanyalah, saya yang diam mendengarkan dengan pikiran... "Thanks God, gw ngga akan bisa married sama dia.." Lol. Tapi tetaaaap.. tidak mau move on saat itu ( stupid me).

Sejauh ini, saya tetap merasa banyak hal yang perlu saya pelajari dalam suatu relationship. Banyak hal yang masih saya terima dengan attitude "take it for granted". Padahal itu hal2 yang perlu di appreciated, perlu dihargai karna perlu effort yang tidak sedikit untuk melakukannya. Standar saya berdasarkan cerita fiksi itu tak berlaku di dunia nyata.

Tulisannya sudah panjang dan melebar kemana-mana. Ini saya tulis di perjalanan 17 jam lebih menuju NL. Saat pikiran saya melulu tertuju pada dia. 2.08pm waktu Indonesia. Sudah 19 jam berlalu sejak kita terakhir bertemu. Saya masih stuck di pesawat ini dan dia hampir menyelesaikan lagi satu hari normal nya dengan kesibukan kantor. I missed our morning calls, sms-es, daily calls and nite calls. Kedepan tak akan segampang itu. Kedepan saya bahkan tak tahu harus bagaimana, kecuali harus belajar yang bener, bangun networking dan berhati-hati :)

Toh ini sudah pilihan saya. Antara tinggal dalam kepastian atau berangkat dengan harapan. The worst might comes but there's always hope for the better. Like my buddy said.. Have a faith..!

Monday, February 04, 2013

Kampung Wageningen

Hmmm... Karena gadget saya pada rusak... Yang satu wifi nya ngga bisa nyala dan yang laennya ga bisa baca simcard. Jadilah tulisan saya di pesawat selama 18 jam itu belum bisa diposting. Nyaris seminggi di kampung ini.. Hi lite nya.. udara di luar dingin tapi ga parah ah menurut gw, kecuali kalo udah hujan dan pake angin kenceng. Tapi Melbourne udah ngasi hal serupa jadi yaaa ga kaget2 amat. Yang menyenangkan adalah di dorm warm bangeeed. Ga kaya di flat dulu yang demi menghemat listrik, kita berdingin ria. Lebih karna heaternya ngga central juga sie. Disini heaternya sepanjang dinding dan ngga perlu ribet mikir bayar listrik nya.

Beberapa hari belakangan ini saya tak banyak melakukan kegiatan setelah di hari pertama dan kedua sibuk urusan kampus dan lapor diri, hari 3-4 sibuk belanja untuk settling down, dan seharian tadi saya hanya di dorm melakukan kegiatan rumah tangga. Mulai dari masak, ngelaundry, beresin kamar dan akhirnya selesai unpacking hihi...

Semua hal itu terjadi (terutama bagian beresin kamar dan unpacking) karena dapat email dari study advisor untuk mulai merancang mata kuliah yang harus diinginkan. Dengan cara mulai membaca study handbook nya. Langsunglah saya bersemangat untuk mengerjakan semua hal but reading the book. Belum apa-apa udah mulai procrastinating nyaaaaah...

Saya tidak boleh lagi mempertanyakan "why did I do this".
I am doing it..! For whatever reasons lah.. I am doing it so I have to deal with it. I have to do my best.

Yeah.. right.. sampe saai ini belom juga buka bukunya. Padahal pasti tak se"berat" yang di bayangkan juga. Emang udah hobi nunda2 ajah dari dulu.