Friday, October 18, 2013

Belgium Trip Part II: Brussel


Kita sampai di Brussel sudah gelap, tapi belum terlalu malam untuk keluar bagi para pengelana (halah). Bedanya jalan dengan para peminum adalah mereka justru keluar malam untuk beramai-ramai pergi ke bar/pub. Dan katanya bar/pub adalah tempat untuk bertemu orang-orang dari berbagai tempat. Sayang nya saya tak berminat untuk hanya mengobrol di tempat berbau alkohol itu, lagipula malu dengan kerudung, kasihan para hijaber laennya nanti.. (haiyaaah...).

Setelah sempat dikibuli GPS, akhirnya kita menemukan hotel yang dituju setelah bertanya dengan seseorang di jalan. Dan tara... bukan sebuah hostel..! Tapi hotel, dan bintang empat. Saya sukses mengumpati Carlos yang malam sebelumnya sempat bertanya di kitchen bersama kita, sejelek apa saya pernah menginap di sebuah hostel. Dan karna akan menginap di hoStel, saya telah siap dengan peralatan tempur dari sabun hingga handuk. Yang tentu saja sama sekali tidak dibutuhkan di hotel ini. Hotel ini bagus dan murah, tapi lokasinya cukup jauh dari city centre (tapi tentu saja kami masih berjalan kaki ke city) 
Our (not) Hostel

Makan malam di brussel tapi malah ke Mexican Resto :(


The famous French Fries yang sebenarnya di Belgium (bukan di France)


Kamera saya tak berhasil menangkan keanggunan bangunan di Mark Place ini

Koleksi Pakaian Meneken Piss


Sebagian anggota rombongan yang berhasil bangun pagi ini

Have to had a wafle in brussel

The famous Manaken Pis

Zoom out and you can see how small he is

I have to have a good hot chocolate in a chill day

You could rent these bikes

The Royal Palace

Waffle for breakfast

The waffle



Thursday, October 17, 2013

Belgium Trip - Part I: Antwerpen

Sudah lama saya ingin menuliskan semua kisah perjalanan saya di blog ini. Tapi tak mau kalau nanti berubah jadi travel blog yang sudah menjamur itu. Sejauh ini kisah perjalanan yang berhasil terekam disini adalah perjalanan di New Zealand dan Lombok. Padahal banyak kisah perjalanan lainnya yang tidak kalah menarik dan seru nya. 

Perjalanan ke Belgium ini sebenarnya sudah agak lama. Masih di bulan-bulan awal saya di Netherlands, saat ada long weekend.. (saya lupa) dan kebetulan kamera saya juga salah setting tanggal. Tapi untung saja ada facebook dan seorang teman yang rajin update, jadi saya bisa memastikan bahwa perjalanan kami waktu itu dari tanggal 29 Maret-1 April 2013. Waktu itu saya masih tinggal di Ede, sebuah kota yang sedikit lebih besar dari Wageningen, Gelderland, The Netherland (biar lengkap!). Perjalanan dimulai dengan kehebohan perencanaan oleh seorang Carlos sang pencetus ide sekaligus organiser tour (hihi). Akhirnya kami berangkat dua mobil, berisi sepuluh orang in total. Perjalanan kali ini membawa saya kebeberapa kota di Belgia; Antwerpen, Brussel, Brugge, dan Gent.

Karena Phelia si rambut merah tetap harus masuk kantor di hari Jumat, akhirnya kita baru memulai perjalanan pada pukul 12 siang dan pemberhentian pertama adalah Antwerpen, sebuah kota tua cantik di north-west nya Belgium. Dari Ede menuju Brussel, ibukotanya Belgium, kita memang melewati kota ini, tentu saja bukan berarti "benar-benar harus melewati", bisa saja kita terus meluncur di highway nya, tapi kota ini sayang untuk dilewatkan. Sayangnya sisa musim dingin masih berasa di akhir bukan maret ini dan tak ada langit biru.

Kami hanya berjalan seputaran City Centre nya. Seperti kebanyakan kota di Eropa, kita bisa berkeliling di pusat kota tua nya untuk menikmati bangunan-bangunan tua keren (termasuk katedralnya) hanya dalam hitungan jam. Kali ini kami ke central plaza, katedral (pastinya), dan stasiun. Ditutup dengan ke bar tentunya (bagi para manusia lainnya) dan ke toko coklat (saya, evi, dan Keenan yang lagi ngga pengen minum). Saat kami berjalan mencari cafe coklat, saat itu magrib datang dan terdengar suara seruling di seantero kota. Keenan si kriwil menunjukkan jarinya keatas bangunan tua dan dari jendela bangunan itu ternyata seorang bapak sedang meniup serulingnya sambil tersenyum. What a hobby!

Berikut beberapa gambar yang saya ambil di Anwerpen.

Rombongan perjalanan kali ini,
 minus Phelia si rambut merah yang memegang kamera

Di Antwerpen Station, dan kali ini yang kurang adalah Carlos
(photo courtesy of Pedro)
Jalan-jalan di kota yang mulai sepi karna udah lewat jam 5pm,
postcard tentang coklat, karna ya! belgium terkenal dengan coklat nya.
Minuman yang kita beli di chocolate cafe (dengan sepotong brownies!)
and I found Australian ice cream in belgium!
Yang cukup lucu dari foto-foto diatas karena saya menemukan bran Australian Ice Cream lengkap dengan gambar kangguru nya. Padahal di Oz dulu banyak Italian Ice cream.. hehe...

Baiklah untuk saat ini cukup perjalanan di Antwerpen saja yang saya sajikan. Ini baru setengah hari pertama perjalanan. Hehe... Pantes selama ini saya malas menulis, sekalinya di tulis bisa panjaaaang....


Friday, September 20, 2013

Why did I do this?

Ehm... Itu sepertinya pertanyaan yang paling sering saya tanyakan pada diri saya sendiri. Terlebih lagi belakangan ini. Pertanyaan itu bukan dalam rangka menyesali suatu hal yang saya lakukan, tetapi lebih pada upaya untuk "menyadarkan" mengingatkan pada diri sendiri mengapa saya mengambil langkah ini.

Belakangan, pertanyaan ini saya ajukan berhubungan dengan langkah saya mengambil satu mata kuliah ekonomi (lagi) disini. Singkat cerita, di Melbourne dulu saya juga melakukan hal yang sama dengan ganjaran "almost fail". Dan sekarang dengan tidak kapoknya saya kembali mengambil langkah yang serupa dengan keyakinan "sekurangnya saya telah dapat sedikit background sewaktu di Melbourne dulu". Tapi dahulu waktu saya mengajukan ijin untuk mengikuti kelas ekonomi ke Professornya, dia juga menanyakan apakah saya punya background sebelumnya. Kala itu walau jurusan saya teknologi pertanian, saya mendapat matakuliah "Dasar Ekonomi" dan "Ekonomi Teknik". Terdengar keren ya? Sementara yang saya ambil di Melbourne adalah Economic of Food. Dan di Melbourne saya baru menyadari bahwa saya sama sekali asing dengan konsep ekonomi, bahkan dengan teori dan konsep dasarnya. Sekarang saya wondering apa yang saya pelajari saat di Bandung dulu. Dan hal serupa terjadi lagi, walau saya merasa saya punya background dari melbourne kemaren, ternyata hal itu juga tidak significantly membantu saya disini.

Kembali ke masa sekarang. Thanks to Economic of Food, saya merasa pede mengambil mata kuliah Economic of Agribusiness kali ini. Nama kuliahnya juga terdengar lebih keren bukan? Dan sering kali saya sedikit meremehkan perkuliahan disini. Saya selalu menganggap Melbourne is better. Walo kalau dilihat dari nilai-nilai saya, anggapan itu tidak bisa di justifikasi. Nilai saya disini rendah dan hampir selalu dibawah 70%. Sementara rata-rata nilai saya selama di Melbourne diatas 75%. Ooops.. saya bukan sombong ya.. hanya memaparkan data. Selama ini saya selalu menyalahkan kerja kelompok dalam mengerjakan report dan paper yang selalu membuat nilai saya jelek. Tapi pada kenyataannya nilai exam saya juga tak pernah diatas 80%. Jadi ya alasan saya tak bisa dibenarkan. Tapi tetap saya merasa Melbourne is better.. haha...

Kenapa saya tak pernah fokus menulisnya ya..?
Jadi sekarang saat saya kembali harus berusaha keras untuk memahami teori ekonomi dan "berbagai cara abstrak" nya dalam mengukur semua nya dalam bentuk uang, saya sesekali bertanya kenapa saya mengambil mata kuliah ini lagi walau saya tau bahwa ini tidak akan gampang. Dan saya menyadari bahwa kali ini saya kuliah tidak lagi untuk nilai dan "sekedar untuk lulus". Tapi untuk mengerti dan memahami sesuatu (ciyeeeh). Nilai bukan lagi hal mutlak yang saya kejar, apalagi gelar. Saya hanya ingin memuaskan rasa ingin tahu. Hal ini tak serta merta saya bawa dari awal dulu. Awal kedatangan kesini saya memiliki target nilai yang lebih bagus. Harusnya lebih bagus karna saya juga lebih "siap" keasaannya. Tapi semua berubah setelah saya mendapati system nya yang berbeda dan keadaan saya yang lebih menyenangkan saat tidak harus terkungkung target.

Jadi mengapa saya melakukan ini..? Menurut saya ini hanya jalan saya untuk memahami dan menikmati hidup :)

Thursday, May 23, 2013

Something wrong...

Sampai dengan hari ini, saya telah berada hampir 4 bulan di negri mantan penjajah kita ini, The Netherlands atau yang biasa kita kenal dengan Belanda (saya masih tak habis pikir kenapa kita menamai mereka Belanda, mungkin karena Netherland ga bersahabat dengan lidah para Jawa dahulu kala). Sampai dengan saat ini juga saya telah menempuh 3 courses (kalo di Oz dibilangnya 3 subjects) dan so far saya tidak puas dengan nilai-nilai yang saya peroleh.

Saya tak percaya dengan omongan orang-orang yang bilang, "Kalo kuliah disana, yang penting passed" alasan nya karna ini di Belanda (so what?) Bilangnya ini high rank campus (so? Malbourne Uni lebih tinggi ranking nya). Belajarnya beda, bahasanya beda, system nya beda dan berbagai excuses lainnya. Tapi ketika semua hal itu saya bandingkan dengan kuliah di Melbourne University, trus apa bedanya? Bahkan english saya lebih parah waktu disana, disini saya lebih nyantai dan orang-orang juga jauh lebih mengerti seperti yang saya ulas di posting sebelumnya.

Satu hal yang pasti berbada adalah semua assignment yang dilakukan dalam group. Saya tak menyukai ini dari awal. Di Melbourne nilai-nilai saya tinggi di assignment karena hampir semuanya individual essay. Dengan english saya yang terbatas, saya mampu memperoleh nilai 80 bahkan 90 dibeberapa essays. Biasanya nilai 90 saya peroleh di essay yang lebih singkat yang berarti bobot penilaiannya juga lebih kecil. Saya mengakui dahulu itu kemampuan saya menjawab soal exam dalam bahasa english masih sangat terbatas, jadi tak mengherankan nilai exam saya juga pas-pasan.  But at the end, total nilai saya juga bagus.

Sementara disini? Saya tidak bisa menyalahkan group work begitu saja. Toh disana juga terdapat andil saya. Saya pikir at the end saya harus mengakui bahwa semua ini disebabkan oleh effort saya sendiri. Dibanding di Melbourne, saya disini lebih santai. Ini juga tak lepas dari gampangnya terpengaruh dengan gaya belajar manusia-manusia pemabok ini. 

Ketika saat ini saya melihat kembali masa-masa di Melbourne, saya menyadari bahwa saya benar-benar belajar disana. Maksudnya saya memberikan full effort untuk semua tugas dan ujian. Sementara disini nampaknya saya melepas tanggungjawab kepada group hanya karna saya tak menyukainya. So from now on, harusnya saya kembali mengubah attitude. Tidak merasa bisa dan lantas bersantai ria, harusnya saya seperti dahulu kala yang merasa banyak kekurangan dan harus mengejar semua itu dengan blajar.

Mari kita mulai..!

Bismillahirrohmanirrahiiiim...

Saturday, April 27, 2013

What Am I Gonna Do?

Yang pasti saya harus memiliki kehidupan lebih baik dari saat ini. Jadi coret saja kemungkinan untuk menjadi IRT. Impian saya beberapa waktu yang lalu. Bukan karena saya tidak mungkin mencapai nya, tapi karena ketergantungan kepada orang lain yang membuat mewujudkan mimpi itu tak semata berada dalam kuasa saya. Jika ingin menjadi IRT saya membutuhkan orang lain yang 100% mensupport saya. Penuh. Dan ya alhamdulillah sampai saat ini saya belum menemukan seseorang yang mau melakukannya.. hehe...

Pilihan berikutnya adalah menjadi profesional, menjadi pengusaha, atau menjadi researcher. Sekarang saya akan memasukkan opsi mencari kesempatan untuk bisa menjadi research assistant dan sejenisnya. Saya lebih tertarik untuk bergabung dengan project2 yang ada disini untuk kemudian memiliki kesempatan untuk meneruskannya saat saya selesai dengan masa study disini.

Selama saya tak kembali ke negri sendiri, tak akan ada masalah sepertinya. Tapi kemudian ada sedikit masalah lainnya. Masalah pribadi. Saya memikirkan itu sebelum nya tapi ketika rencana awal saya tidak di support... apalagi pilihan saya?

Mimpi lainnya adalah saya menetap di suatu wilayah polosok Indonesia yang cantik. Dan saya akan mengabdikan hidup untuk kemashalatan orang banyak. Mengabdikan diri untuk negri. Sekurangnya saya bisa menjadi guru SD. Cita-cita yang mulia bukan? Tapi apa saya mampu melakukannya? Apa saya akan betah disana?

Masih ada impian lama saya untuk menjadi seorang penulis best seller. Saya hanya mau jadi penulis jika tulisan saya memberi manfaat dan menjadi best seller. Segampang itukah? Tentu tidak! Apa yang akan saya tulis pun masih tak terbayang di kepala saya.

At the end, perjalanan hidup ini menurut saya hanya untuk sebuah pembelajaran. Tapi belajar untuk masa mana lagi? Saya tak akan pernah bisa mencapai tujuan hidup saya jika saya sendiri tidak men-set tujuan itu. Saya pikir sudah saatnya saya berhenti membuat dan mengejar mimpi-mimpi jangka pendek. Tapi jika mimpi jangka panjang saya adalah kebebasan financial and a happy family.. sepertinya terlalu jauh perjalanannya tanpa saya memiliki bayangan untuk jangka menengah dan jangka pendek nya.

Kenapa saya tak bisa seperti orang lain saja? ah.. tapi apa yang saya tahu tentang orang lain. Belum tentu mereka juga puas dengan hidup nya masing-masing. Barangkali mereka iri dengan hidup saya. Jadi untuk saat ini saya mensyukuri dan menikmati perjalanan hidup ini.

Bismillahhirrahmannirrahiiim...

Seperti biasa saya selalu berdoa semoga jalan kehidupan saya kedepan selalu dimudahkan oleh Allah
Amiiin....

Sunday, March 10, 2013

Australia (Melbourne) VS The Netherlands (Wageningen)

Sudah lama ide ini bersemayam dikepala saya. Awalnya lebih ke ide untuk menulis di twitter. Hal-hal singkat yang muncul di kepala setiap kali bertemu suatu peristiwa. Tapi kadang saya sedang di jalan, sedang bersepeda (ya..! saya telah resmi jadi Dutch resident by biking almost everyday to everywhere), dan akhirnya tak jua menulis satupun.

Baiklaaah mari kita mulai..! Ini berdasarkan ingatan di kepala sahaja ya.. mungkin saya akan terus meng-update postingan yang ini kalau menemukan hal-hal baru yang membuat saya membandingan tinggal disini (Wagengingen) dengan di Melbourne.
  • Besarnya Scholarship. Taraaaaa... Sudah tau mana yang lebih besar dwooonk? Di Melbourne dulu saya dapat beasiswa dari pemerintah Australi melalui program AusAid nya, dan disini saya juga memperoleh beasiswa dari pemerintah The Netherlands melaui program NFP. Sama-sama dari pemerintah lokal. Tapi let me put it this way.. Sewaktu di Melbourne, beasiswa saya lebih besar dibanding penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia (banyak lhooo program beasiswa dari pemerintah Indo), sementara disini sebalik nya. Bagi yang ikut les bahasa engris pasti pernah diajarin arti kalimat "Let's go dutch" ketika seseorang ngajak makan bareng di cafe or resto. Ya artinya "bayar sendiri-sendiri". Atau perumpamaan orang tentang relatives nya "ah.. he's my Dutch uncle" yang padahal pamannya juga bukan Dutch. Artinya kurang lebih pamannya pelit dan (biasanya) suka mabok. Trus ada lagi "Dutch counts pennies.." Kalo sekarang lebih tepat nya "Dutch counts cents" yang artinya tau kaaan? peliiit. Sampe ke sen nya diituuung.
  • English is nobody's language. Disini ituuuh ga ada gap besar antara yang native dan yang bukan. Soalnya yang english native speakers nya juga minoritas. Beda sama di Melbourne, jelas banged antara yang native dan yang foreign student. Kalo disini banyak international student dari negara2 lain di europe yang tampangnya caucasian semua dan warna kulit ngga beda. Kalo di Melbourne yang international student paling yang dari Asia dan Africa jadi lihat "penampakan"aja udah ketahuan mana yang native mana yang ngga.
  • Cara ngeja nama ngga selama nya in English way. Untuk poin ini saya bahagiaaaa banged. Karna orang bakal nanya "How to pronounce your name?" Dan mereka ga kesulitan untuk pronouncing it. Karena katanya kaya bahasa Italy "Vi-o-la-che" berikut dengan irama pronouncing "al dente". Lha kalo di Melbourne? Tiap kali saya bilang cece, ditulis jadi "JJ". Violace jadi "vai-o-less". Dibilangin "vio-la-ce" jadi "Violachi" ala kecekek. Disini ada yang namanya Jesse, pronouncing nya "Yassa". Ianese = Jenis. Jana = Yana. Annelieke = Anelike. Jadi yaaa... Violace = Violace ya ngga aneh. Daaan.. Yassa dan Jenis itu adalah nama cowo..! 
  • Beda dengan aturan di Melbourne, kalo disini sepedaan ngga wajib pake helm 
  • Gadget nya jangan ditanya deh... Melbourne jauh lebih aware tentang updating gadget. Mobile phone aja masih belum pada smart disini. Apa mungkin karna di kampung aja ini? Tapi saya sedang membandingkan gadget2 teman2. Yang selain Asia or US, yang laen masih bertahan dengan model lama. Atau ini mungkin berkaitan dengan poin berikutnya.
  • Master students nya masih pada muda-mudaaaa... Waktu di Melbourne beda antara yang udah kerja dan melanjutkan master dengan yang fresh from Bachelor kayanya imbang ato malah banyakan yang udah kerja nya. Bahkan kelas2 nya pun disesuaikan, banyak kelas malam karna yang kuliah banyakan yang udah kerja. Lha disini? Boro-boroooo bisa sambil kerja. Kelas nya tiap hari dan yang tua itu minoritas. Kebanyakan anak2 kecil tamat bachelor dan masih gila pesta dan mabok2.
  • Barbeque ga sepopuler di Australia
  • Di tiap kelas ada gambar burger dan gelas minuman di silang. Tapi yang mo makan dan minum dari botol ga dilarang. Bahkan di perpus nya pun ada tertera jenis makanan yang boleh dimakan di perpus walopun gambar itu tetap terpampang dimana-mana. Kalo di Melbourne sie jelas banged aturannya. Mo makan, mo minum, mo angkat kaki, mo tidur dikelas terserah sesuka hati, selama ngga berisik ganggu yang laen, sementara kalo di perpus nya saklek ga boleh makan apa2.
  • Exam nya ga "menakutkan" seperti di Melbourne Uni. Kalo di Melbourne semua orang di satu hall gede dikumpulin, banyak pengawas, ga boleh bawa tas, ada pengecekan ID dan seterusnya. Kalo disini ujiannya cuma di ruang kelas biasa, pengawasnya cuma 2 orang dosen yang biasa ngajar, ga ada pemeriksaan ID, tas apapun masih dibawah kaki. Pergi ke toilet ditengah tes juga dibiarin, lucunya kalo ke toilet melewati ruangan komputer, bisa aja belok bentar ngecek jawaban kalo niat. Di toilet bisa ketemu teman dan nanya2 or diskusi tentang soal. Tapiiii ga ada seorang pun yang berniat melakukan itu.
  • Disini ngga saklek tentang aturan kaya di Melbourne. Sepeda suka semena-mena walaupun ngga ada jalurnya. Disini sepeda penguasa banged deh. Ada ruas jalan (biasanya memasuki city center or yang biasa dibilang centrum) yang sepeda dilarang lewat. Tapiii ngga ada seorangpun yang turun dari sepedanya. Kecuali di centrum yang rame, barulah pada turun.
  • Kalau di melbourne ada road sign untuk koala dan kangguru, disini ada road sign untuk bebek dan kuda. Yang artinya itu daerah perlintasan bebek dan kuda. Next time saya akan foto.
  • Satu lagi sebenarnya mau tulis tentang kopi nya. Tapi nampaknya ngga sebanding antara kampus Melbourne dan Wageningen. Maksudnya ngga bisa dibandingkan. Ngga apple to apple. Yang satu di kota yang satu di kampung. But nevertheless disini ngga banyak cafe yg jual coffee kaya di Unimelb. Kalo mau kopi ya ke coffee machine yang ada di tiap lantai di gedung utama. Atau malah ada di tiap lantai di semua gedung. Kalo di coffee machine beli cappucino bakal kena 0.50 euro sementara kalo di cafe nya (yg cuma satu di gedung utama 8 lantai) kalo ngga salah 1.25euro. Ngga ada cafe bertebaran di luar gedung kaya di Unimelb apalagi yg pake stall doank.
Kalo ngga salah ada satu lagi yang saya temukan perbedaannya, tapi sekarnag sedang lupa. I'll add it later... If I could remember it.


  • Ingat..! Ini malah hal yang sangat penting sistem perkuliahannya! Disini setiap semester dibagi jadi 3 period. Dan ada kelas tiap hari! Biasanya kelas 3 jam sehari (untuk satu subject), untuk periode yang panjang, ada 2 subjects dalam satu period yang satu kelas pagi dan satunya kelas siang (tiap hari!). Jadi totalnya 6 jam sehari di kelas! Kalau kerjaannya di kelas aja tiap hari kapan ngerjain tugas nya?? Nah itu dia... tugas nya ngga banyak! Semua dibebankan di exam. Ini yang jauh berbeda dengan Melbourne Uni (atau system di Australia). Disana satu semester cuma 4 subjects. Kalo pun ada kelas tiap hari karna ada praktikum misalnya, paling kelasnya cuma 3 jam sehari untuk satu subject. Sering nya cuma 2 jam. Jadi seminggu paling cuma total 8 jam pertemuan untuk 4 mata kuliah. Nah berhubung banyak waktu luang diluar kelas, jadilah banyak tugas. Yang ngga bisa dikerjain sekali duduk. Jadi banyak belajar sendiri nya. Sementara kalau disini tugasnya semua pasti per kelompok. Karna memang waktu untuk ngerjainnya pun ngga banyak. Balik dari kelas itu palingan udah teler. Belum waktu buat baca. Ada yang bilang system di Australia itu nyante dibanding sini. Kalau aku bilang sie lebih santai disini. Cuma perlu duduk dengerin di kelas tiap hari, semua ilmunya di sendokin. Sementara kalo di Oz tiap hari pasti baca nyari referensi buat tugas yang artinya baca, mengerti dan menulis. Tapi itu karna saya sangat peduli dengan essay dan agak kurang peduli dengan exam, jadinya saya beranggapan begitu. Bagi orang yang tidak begitu peduli dengan essay (tugas2) atau bisa ngerjain essay dalam sehari jadi, dan indikator santai atau tidaknya kuliah hanya berdasar kewajiban datang ke kampus, ya sistem Oz emang berasa nyantai banget.

Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : ABSURD


#52-25, 19 Feb 2013 23.14 CET

"Ya ampun Vie... Jadi.. kamu ngga mau minum, tapi dugem gapapa?"

"Dugem apaan sie..? Aku ngga dugem koq"

"Lha itu kamu bilang barusan ke pub dan dancing..."

"Halah.. aku ngga nari saman koq disana, cuma ngikutin anak-anak koridor doang, ngga nge-dance gila kaya orang mabok, bisa dibilang ngga dancing malah"

"Iya makanya... minum ga boleh, tapi dugem gapapa..?"

"Dugem apaan sie maksudnya? Minum beralkohol itu harooom... nah dugem haram dimananya? Yang dugem siapa? Aku kan cuma ikut temen-temen aja"

"Huuu... ngeles ajah.. ngga malu kamu sama kerudung...?"

"Heh.. itu udah bukan urusan kamu lagi ya.. Aku mau malu atau ngga, apa hubungannya sama kamu...?

"Deu.. galak amat non, tapi kamu ksana tetap pake kerudung kan..?"

"Itu jawabannya gampang.. tapi aku ngga mau jawab, bukan urusan kamu. Aku pake kerudung itu urusan aku sama tuhan. Ngga ada hubungannya sama kamu. Kenapa emang nya kalau aku pake kerudung, kenapa emang nya kalo ngga? Kamu yang mau ngasih dosa dan pahala emang nya?"

"Ngga Vie.. ya ampun....."

"Apanya yang ngga?"

Itu percakapan imajinasi saya dengan seseorang entah dimana. Belakangan ini emosi saya sedang dalam keadaan tidak baik. Kondisi yang dipicu oleh penyesalan akan sebuh tindakan. Atau beberapa. Entahlah... Mungkin karena saya sedikit banyak ikut peduli dengan "pikiran / pendapat orang" tentang saya. Memang lebih sering saya tidak peduli karena satu alasan sederhana, I can't do anything about that and it usually ruin my mood. Jadi ya lebih baik tak peduli. Hanya saja ketika saya peduli, saya lebih sering emosi sendiri yang merusak hari.