Wednesday, June 11, 2014

Bromo Trip

I know.... Bromo itu tujuan seribu umaat... Udah ngga menarik lagiii... Tapi itu ada di wish-list tempat di Indonesia yang harus saya kunjungi sebelum mati (halah). Dan kebetulan teman saya ada yang menikah di Suarabaya dan saya sudah berjanji untuk datang ke pernikahannya.

Bahagia bisa mengambil foto ini langsung
walaupun udah sering banged lihat dimana-mana
Setelah menggila di tahun 2012 mengunjungi tempat-tempat yang ada dalam wish-list saya, yang kebanyakan adalah laut.. Akhirnya saya berkesempatan (dan memaksakan) ke Bromo di awal bulan April kemaren. Well.. what can I say.. I love the view. Tapi teman seperjalanan itu memang bisa membuat suasana yang begitu berbeda. Sayangnya saya "sendiri" ditengah keseruan anak-anak muda itu.

dan anak-anak muda itu satu dekade lebih muda daripada saya
Oya, berhubung saya paling benci menemukan catatan perjalanan yang tidak memberikan rincian yang bisa dicontek seperti nama travel yang digunakan berapa biaya dan sebagainya, dengan berat hati sayapun akan menulis sedikit rincian untuk memberikan perspektive yang berbeda dari tulisan-tulisan sama di luar sana.

Titik keberangkatan kami dari Surabaya, berangkat jam 10 malam, sampai di Pasuruan sekitar jam 2am. Naik ke bromo pake jeep itu bisa dari Pasuruan dan Malang. Dan dari Surabaya tentu saja lebih dekat ke Pasuruan. Biaya travel dari Surabaya + Jeep nya 1,35 juta total untuk maksimal 6 orang. Dan terjadi kesalahpahaman dari deal awal teman saya, dan menurut saya itu kemahalan karena mereka mematok 550 ribu untuk jasa jeep dan itu pun hanya untuk ke pananjakan dan gunung bromo. Sementara ada 7 lokasi yang bisa dinikmati di sekitar bromo dengan menggunakan jeep termasuk air terjund an padang savananya.
another side of then mountain
Jadi saran saya jika akan memanfaatkan travel dari surabaya, mending sewa untuk pp saja excluding jeep karena bisa di nego langsung di kaki Bromo (dengan harga resmi 350rb untuk 3 lokasi dan tambahan untuk lokasi2 lainnya) dengan catatan bukan di peak season. Karena si Pak supir cerita seminggu sebelumnya yang loong weekend, jeep sampe habis.
view from the top of mount bromo
Tips berikutnya adalah berangkat lebih awal keatas. Selain untuk memperoleh posisi ok dalam melihat sunrise nya, juga agar tak perlu berjalan jauh ke setelah turun dari jeep. Berhubungparkirannya cuma sedikit dan kebanyakan jeep hanya parkir di pinggir jalan, makin rame orang yang telah datang, makan parkir jeep nya akan makin jauh dari view point.

Tips paling PENTING berikutnya adalah mind your waste..!! Jangan buang sampah sembarangan..!!! Ini hal yang paling menyesakkan yang saya lihat di Bromo. Terutama di view point nya. Begitu para turis beranjak.. pelataran itu dipenuhi dengan berbagai macam sampah.
tangga dan bunga
ternyata edelweiss nya hasil budidaya, syukurlah :) 

Sunday, April 20, 2014

Takut

Dan saya pun takut menyuarakan apa yang ada dikepala. Karena tau pada akhirnya hanya akan berujung pertengkaran tanpa penyelesaian. Sementara saya bukan orang yang bisa mengatur kata saat emosi. Yang kemudian pasti akan saya sesali.

Jika pertengkaran itu dijalani, bukan malah dihindari. Saya takut, jika akhirnya dia memutuskan I am not good enough.. I am not worth enough to fight for..

Saya cape dengan semua ketakutan. Tapi tak bisa bersuara karna hal yang sama.. "Takut". Takut membuat saya memilih "menyesuaikan", yang beberapa orang mengategorikannya sebagai "sabar". But I know for sure kalo saya bukan sedang bersabar. Saya sedang ketakutan.

Wednesday, February 26, 2014

Commuter Line Jakarta

Never ever trying to use it in rush hours if you don't really have to. In my case, I don't really have other (better) options. So here we go.. Not only it's never on time but also not enough space for all passengers.








Friday, February 14, 2014

Smiling

And just the thought of seeing you makes me smile :)

Monday, February 10, 2014

The Internship

Berhubung di universitas saya mewajibkan program internship, jadilah kali ini saya harus bekerja tanpa dibayar. Sebenarnya banyak pilihan lain yang memungkinkan saya internship sambil dibayar (saya paling tak suka dengan kata magang jadi saya akan bersikukuh menggunakan kata internship or intern ditulisan ini), tapi karena tekad saya untuk jadi intern di UN body, jadilah saya dengan rela tak rela mau bekerja dengan tak dibayar.

Lebih karena timing semua nya terasa tepat, akhirnya saya jadi intern di UNDP Indonesia. So far semua nya terlihat biasa, tak ada yang istinewa. Bedanya kali ini saya bukan lagi sebagain bagian dari pemerintah. Dan saya melihat nya dengan sedikit rasa malu melihat cara kerja pemerintah. Tapi ini juga bukan Hal yang baru bagi saya. Bahkan dahulu saat masih bekerja bagi pemerintah pun, saya sering malu sendiri melihat cara kerja pemerintah, yang berarti termasuk juga cara kerja saya sendiri. 

Hingga saat ini yang saya pelajari adalah.. Entah lah.. Percakapan terakhir dengan teman saya yang (bangga) bekerja bagi pemerintah dan suka dengan pekerjaannya, saya malah memperoleh kesimpulan bahwa menyukai pekerjaannya (atau pelajaran) itu tak selalu berkolaborasi positif dengan hasil yang dicapai. Saya telah membuktikan bahwa saya dapat memperoleh nilai bagus di pelajaran yang tak saya suka dan bisa bekerja baik di pekerjaannya yang tidak saya suka. Hanya masalah komitmen dan how far you are willing to push yourself. Dan tentu saja juga termasuk motivasi untuk bertahan.

Jadi jangan salahkan saya yang memandang rendah orang yang menyerah hanya karena hal yang tidak dia sukai. Atau orang2 yang mengaku menyukai pekerjaannya tapi performs badly.

Anyway.. Sebelum internship ini saya sangat bertekad untuk dapat bekerja di UN, for the sake of prestige and salary. Sekarang? Terlihat tak jauh berbeda dengan bekerja untuk pemerintah.. tapi at least dsini beneran kerja untuk tujuan tertentu, bukan untuk memperkaya diri sendiri atau memperoleh jabatan tertentu atau untuk sebuah nama dan karir politik seperti di tempat saya yang lama.

Tuesday, January 14, 2014

Bertemu Dan Brown

Jadi sekitar 2 bulan yang lalu saya dengan iseng mengikuti lomba dari perusahaan kereta api belanda untuk para pelanggannya dengan hadiah bertemu dengan Dan Brown dan ikut perjalanan dengan historical train di Belanda bersama Dan Brown. Lomba nya tidak aneh-aneh, hanya perlu menjawab pertanyaan kenapa anda merasa berhak untuk bertemu Dan Brown. Saya pun hanya mengisi 2 kalimat dengan bahasa english (padahal semua di email promosi dan form online lombanya dalam bahasa dutch). Dan dengan mengejutkan, saya menang!

Saya menerima pemberitahuan bahwa saya menang juga via email. Mereka meminta alamat rumah saya untuk kemudian akan mengirimkan tiket pp kereta api gratis untuk saya ke Amsterdam centraal station tempat acaranya berlangsung. Saya pun mengirimkan alamat dan tiket train nya mampir di kotak surat saya beberapa hari sebelum acara.
Email pemberitahuan menang nya pun dalam bahasa Belanda

Tiket beserta jadwal acara

Saya sempat hampir membatalkan acara meet and greet ini gara-gara saya lupa dan membuat appointment lain dengan instansi lain untuk urusan rent subsidy saya. Sayangnya, walaupun saya bisa mengubah appointment itu, tapi saya tak punya pilihan lain selain mengubahnya menjadi siang (instead of pagi di jadwal yang sama bertemu Dan Brown). Akibatnya saya tetap tidak akan bisa mengikuti program naik historical trainya hingga tujuan akhir karena cukup jauh.

Saya kemudian mengabarkan berita ini ke pihak kereta api yang mengatur acara. Ternyata mereka memberi solusi dengan menurunkan saya di salah satu stop sebelum tujuan akhir dan saya masih bisa mengejar appointment berikutnya. Dengan baiknya, mereka pun mencantumkan jadwal kereta ke tempat appointment saya.

Akhirnya saya bisa bercakap walau sekejap dengan Dan Brown :)

Venue acara; the royal waiting room. Saya melewatinya 3 kali tanpa sadar bahwa itu tempatnya

Dikasi goodie bag, novel inferno karya terbaru Dan Brown yang sayangnya dalam bahasa Belanda :(

Nampaknya yang bahagia cuma saya.. haha...

Yeah... Of course it was great meeting me.. :p

Tuesday, January 07, 2014

West Sumatra 101 Trip

Di penghujung tahun 2012, beberapa teman saya mengunjungi Padang kota tercinta, kujaga dan kubela (sumpe itu tagline kota nya lho.. entah ide siapa). Sebagai rombongan yang pertama kali menginjakkan kaki di bumi sangkuriang Malinkundang ini, tentu saja saya bawa mengunjungi tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Kecuali 2 orang cewe cantik yang telah memiliki ide untuk menghabiskan hari pertama mereka di pulau Cubadak, sebuah resort island terkenal yang dikelola oleh orang asing yang bahkan saya sendiri belum pernah menjejakkan kaki disana.

2 broke girls on the way to Cubadak island (pic courtesy of indah or cupid)


Cubadak Island (pic courtesy of indah or cupid)

Cubadak Island (pic courtesy of indah or cupid)
Sementara rombongan lainnya menghabiskan hari itu di kota Padang. Mereka sempat mengunjungi rumah makan pagi sore yang jadi tempat favorit nya Pak Bondan, walau untuk selera saya rasanya jauh dari masakan padang dan sangat over priced. Mereka juga sempat ke toko souvenir Silungkang (yang merupakan tempat favorit saya :D) sebelum saya bergabung ikut ke jembatan sitinurbaya dan pantai air manis demi menemui patung malinkundang.
Rumah Makan Pagi Sore yang andalannya ayam goreng dan rasa masakan Padang yang bisa diterima oleh semua lidah. Not an authentic Padang taste, I must say. (pic courtesy of Tessa)
Jebatan Siti Nurbaya (pic courtesy of Tessa)
Akhirnya menemukan patung Malinkundang yang mulai tergenangi air pasang. Saya terakhir melihat patung ini saat jaman SD dan sekarang sama sekali tak mengenali lokasinya lagi (pic courtesy of Tessa)
Hari kedua di Padang di mulai dengan mengunjungi soto padang Garuda sebelum kami semua melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi sambil mengunjungi lembah anai, memakai pakaian tradisional di Pusat Dokumentasi dan Informasi kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang, dan tentu saja menyambangi Sate Mak Syukur.

Sesampai nya di Bukittinggi, setelah mendapat penginapan, kita hanya menghabiskan waktu di sekitar jam Gadang dan pasar atas untuk mendapatkan beberapa items yang dicari oleh teman saya (and some items for myself). Dan berakhirlah hari kedua perjalanan kali ini untuk sebagian rembongan. Sementara saya and the 2 girls keluar lagi malam harinya demi mencari duren dan another photo sessions in Jam Gadang.
Breakfast at tiffany Soto Garuda, Padang

Pose, pose and pose at Lembah Anai Waterfall, Padang Panjang

Ikutan shooting (dan makan) di Rumah Gadang Padang Panjang

In Minangkabau Wedding costume 

Can't miss Sate Mak Syukur. Not everyone could enjoy the authentic Satay Padang.

The iconic (but not so impressive) Jam Gadang Bukittinggi 
2 broke girls and their durians

Night at the cafe

Jam Gadang at night
Hari ketiga diawali benar-benar di pagi hari dan kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Panorama dan Lobang jepang yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari penginapan. Dan tentu saja tempat itu belum buka! Akhirnya kita menyempatkan diri sarapan di warung sekitar sana yang baru saja mulai menggelar dagangannya. Hari ketiga ini juga merupakan hari terakhir teman-teman saya di Sumatera Barat. Rencana hari ini adalah mengujungi panorama dan lobang jepang, ke Puncak Lawang untuk menikmati view nya Danau Maninjau, ke Istana Pagaruyung, dan memenuhi undangan makan malam di Padang sebelum mereka kembali mengejar flight meninggalkan Sumatera Barat. 
Panorama

Rear exit Lobang Jepang

Puncak Lawang

Istana Pagaruyung

Rice Field
Untuk perjalanan di hari ketiga ini, sebagian besar waktu dihabiskan di mobil karna harus berpindah dai Puncak Lawang di Kabupaten Agam ke Istana Pagaruyung di Batusangkar, dan kembali ke Padang. Dan karena ingin memenuhi undangan makan malam di padang dan mengejar pesawat, jadi perjalan terasa terburu-buru.

Perjalan 3 hari ini dilakukan dengan mobil pribadi. Saya membayangkan para traveler di luar sana yang barangkali ingin melakukan dengan transportasi umum, sebenarnya memungkinkan tapi akan membutuhkan waktu yang lebih lama, hanya karena jadwal nya yang tidak pasti dan harus tau dimana tempat memperoleh bus/ loket tiket (Padang itu ga punya terminal bus yang berfungsi! unbelievable).

Untuk transport Padang-Bukittinggi akan sangat mudah dijumpai bahkan dari airport (tapi tanpa ada bus resmi). Untuk ke puncak lawang saya sama sekali tak tau apakah ada public transport atau tidak. Jika memiliki waktu terbatas, akan lebih mudah untuk menyewa mobil berikut sopir nya dan akan lebih murah jika perjalanan dilakukan berombongan. Jangan lupa untuk mengunjungi Harau di Payakumbuh jika memiliki waktu lebih.

Sebenarnya masih banyak objek wisata alam di Sumatera Barat seperti danau Singkarak di Solok, danau kembar di Solok Selatan. Tapi mengingat perjalanan dari Padang dan fasilitas di dekat danau-danau itu, saya sama sekali tak menyarankan untuk para light traveller yang menginginkan kenyamanan liburan. Kecuali bagi pecinta alam yang suka bertualang.