Sampai dengan hari ini, saya telah berada hampir 4 bulan di negri mantan penjajah kita ini, The Netherlands atau yang biasa kita kenal dengan Belanda (saya masih tak habis pikir kenapa kita menamai mereka Belanda, mungkin karena Netherland ga bersahabat dengan lidah para Jawa dahulu kala). Sampai dengan saat ini juga saya telah menempuh 3 courses (kalo di Oz dibilangnya 3 subjects) dan so far saya tidak puas dengan nilai-nilai yang saya peroleh.
Saya tak percaya dengan omongan orang-orang yang bilang, "Kalo kuliah disana, yang penting passed" alasan nya karna ini di Belanda (so what?) Bilangnya ini high rank campus (so? Malbourne Uni lebih tinggi ranking nya). Belajarnya beda, bahasanya beda, system nya beda dan berbagai excuses lainnya. Tapi ketika semua hal itu saya bandingkan dengan kuliah di Melbourne University, trus apa bedanya? Bahkan english saya lebih parah waktu disana, disini saya lebih nyantai dan orang-orang juga jauh lebih mengerti seperti yang saya ulas di posting sebelumnya.
Satu hal yang pasti berbada adalah semua assignment yang dilakukan dalam group. Saya tak menyukai ini dari awal. Di Melbourne nilai-nilai saya tinggi di assignment karena hampir semuanya individual essay. Dengan english saya yang terbatas, saya mampu memperoleh nilai 80 bahkan 90 dibeberapa essays. Biasanya nilai 90 saya peroleh di essay yang lebih singkat yang berarti bobot penilaiannya juga lebih kecil. Saya mengakui dahulu itu kemampuan saya menjawab soal exam dalam bahasa english masih sangat terbatas, jadi tak mengherankan nilai exam saya juga pas-pasan. But at the end, total nilai saya juga bagus.
Sementara disini? Saya tidak bisa menyalahkan group work begitu saja. Toh disana juga terdapat andil saya. Saya pikir at the end saya harus mengakui bahwa semua ini disebabkan oleh effort saya sendiri. Dibanding di Melbourne, saya disini lebih santai. Ini juga tak lepas dari gampangnya terpengaruh dengan gaya belajar manusia-manusia pemabok ini.
Ketika saat ini saya melihat kembali masa-masa di Melbourne, saya menyadari bahwa saya benar-benar belajar disana. Maksudnya saya memberikan full effort untuk semua tugas dan ujian. Sementara disini nampaknya saya melepas tanggungjawab kepada group hanya karna saya tak menyukainya. So from now on, harusnya saya kembali mengubah attitude. Tidak merasa bisa dan lantas bersantai ria, harusnya saya seperti dahulu kala yang merasa banyak kekurangan dan harus mengejar semua itu dengan blajar.
Mari kita mulai..!
Bismillahirrohmanirrahiiiim...
Thursday, May 23, 2013
Saturday, April 27, 2013
What Am I Gonna Do?
Yang pasti saya harus memiliki kehidupan lebih baik dari saat ini. Jadi coret saja kemungkinan untuk menjadi IRT. Impian saya beberapa waktu yang lalu. Bukan karena saya tidak mungkin mencapai nya, tapi karena ketergantungan kepada orang lain yang membuat mewujudkan mimpi itu tak semata berada dalam kuasa saya. Jika ingin menjadi IRT saya membutuhkan orang lain yang 100% mensupport saya. Penuh. Dan ya alhamdulillah sampai saat ini saya belum menemukan seseorang yang mau melakukannya.. hehe...
Pilihan berikutnya adalah menjadi profesional, menjadi pengusaha, atau menjadi researcher. Sekarang saya akan memasukkan opsi mencari kesempatan untuk bisa menjadi research assistant dan sejenisnya. Saya lebih tertarik untuk bergabung dengan project2 yang ada disini untuk kemudian memiliki kesempatan untuk meneruskannya saat saya selesai dengan masa study disini.
Selama saya tak kembali ke negri sendiri, tak akan ada masalah sepertinya. Tapi kemudian ada sedikit masalah lainnya. Masalah pribadi. Saya memikirkan itu sebelum nya tapi ketika rencana awal saya tidak di support... apalagi pilihan saya?
Mimpi lainnya adalah saya menetap di suatu wilayah polosok Indonesia yang cantik. Dan saya akan mengabdikan hidup untuk kemashalatan orang banyak. Mengabdikan diri untuk negri. Sekurangnya saya bisa menjadi guru SD. Cita-cita yang mulia bukan? Tapi apa saya mampu melakukannya? Apa saya akan betah disana?
Masih ada impian lama saya untuk menjadi seorang penulis best seller. Saya hanya mau jadi penulis jika tulisan saya memberi manfaat dan menjadi best seller. Segampang itukah? Tentu tidak! Apa yang akan saya tulis pun masih tak terbayang di kepala saya.
At the end, perjalanan hidup ini menurut saya hanya untuk sebuah pembelajaran. Tapi belajar untuk masa mana lagi? Saya tak akan pernah bisa mencapai tujuan hidup saya jika saya sendiri tidak men-set tujuan itu. Saya pikir sudah saatnya saya berhenti membuat dan mengejar mimpi-mimpi jangka pendek. Tapi jika mimpi jangka panjang saya adalah kebebasan financial and a happy family.. sepertinya terlalu jauh perjalanannya tanpa saya memiliki bayangan untuk jangka menengah dan jangka pendek nya.
Kenapa saya tak bisa seperti orang lain saja? ah.. tapi apa yang saya tahu tentang orang lain. Belum tentu mereka juga puas dengan hidup nya masing-masing. Barangkali mereka iri dengan hidup saya. Jadi untuk saat ini saya mensyukuri dan menikmati perjalanan hidup ini.
Bismillahhirrahmannirrahiiim...
Seperti biasa saya selalu berdoa semoga jalan kehidupan saya kedepan selalu dimudahkan oleh Allah
Amiiin....
Pilihan berikutnya adalah menjadi profesional, menjadi pengusaha, atau menjadi researcher. Sekarang saya akan memasukkan opsi mencari kesempatan untuk bisa menjadi research assistant dan sejenisnya. Saya lebih tertarik untuk bergabung dengan project2 yang ada disini untuk kemudian memiliki kesempatan untuk meneruskannya saat saya selesai dengan masa study disini.
Selama saya tak kembali ke negri sendiri, tak akan ada masalah sepertinya. Tapi kemudian ada sedikit masalah lainnya. Masalah pribadi. Saya memikirkan itu sebelum nya tapi ketika rencana awal saya tidak di support... apalagi pilihan saya?
Mimpi lainnya adalah saya menetap di suatu wilayah polosok Indonesia yang cantik. Dan saya akan mengabdikan hidup untuk kemashalatan orang banyak. Mengabdikan diri untuk negri. Sekurangnya saya bisa menjadi guru SD. Cita-cita yang mulia bukan? Tapi apa saya mampu melakukannya? Apa saya akan betah disana?
Masih ada impian lama saya untuk menjadi seorang penulis best seller. Saya hanya mau jadi penulis jika tulisan saya memberi manfaat dan menjadi best seller. Segampang itukah? Tentu tidak! Apa yang akan saya tulis pun masih tak terbayang di kepala saya.
At the end, perjalanan hidup ini menurut saya hanya untuk sebuah pembelajaran. Tapi belajar untuk masa mana lagi? Saya tak akan pernah bisa mencapai tujuan hidup saya jika saya sendiri tidak men-set tujuan itu. Saya pikir sudah saatnya saya berhenti membuat dan mengejar mimpi-mimpi jangka pendek. Tapi jika mimpi jangka panjang saya adalah kebebasan financial and a happy family.. sepertinya terlalu jauh perjalanannya tanpa saya memiliki bayangan untuk jangka menengah dan jangka pendek nya.
Kenapa saya tak bisa seperti orang lain saja? ah.. tapi apa yang saya tahu tentang orang lain. Belum tentu mereka juga puas dengan hidup nya masing-masing. Barangkali mereka iri dengan hidup saya. Jadi untuk saat ini saya mensyukuri dan menikmati perjalanan hidup ini.
Bismillahhirrahmannirrahiiim...
Seperti biasa saya selalu berdoa semoga jalan kehidupan saya kedepan selalu dimudahkan oleh Allah
Amiiin....
Sunday, March 10, 2013
Australia (Melbourne) VS The Netherlands (Wageningen)
Sudah lama ide ini bersemayam dikepala saya. Awalnya lebih ke ide untuk menulis di twitter. Hal-hal singkat yang muncul di kepala setiap kali bertemu suatu peristiwa. Tapi kadang saya sedang di jalan, sedang bersepeda (ya..! saya telah resmi jadi Dutch resident by biking almost everyday to everywhere), dan akhirnya tak jua menulis satupun.
Baiklaaah mari kita mulai..! Ini berdasarkan ingatan di kepala sahaja ya.. mungkin saya akan terus meng-update postingan yang ini kalau menemukan hal-hal baru yang membuat saya membandingan tinggal disini (Wagengingen) dengan di Melbourne.
Baiklaaah mari kita mulai..! Ini berdasarkan ingatan di kepala sahaja ya.. mungkin saya akan terus meng-update postingan yang ini kalau menemukan hal-hal baru yang membuat saya membandingan tinggal disini (Wagengingen) dengan di Melbourne.
- Besarnya Scholarship. Taraaaaa... Sudah tau mana yang lebih besar dwooonk? Di Melbourne dulu saya dapat beasiswa dari pemerintah Australi melalui program AusAid nya, dan disini saya juga memperoleh beasiswa dari pemerintah The Netherlands melaui program NFP. Sama-sama dari pemerintah lokal. Tapi let me put it this way.. Sewaktu di Melbourne, beasiswa saya lebih besar dibanding penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia (banyak lhooo program beasiswa dari pemerintah Indo), sementara disini sebalik nya. Bagi yang ikut les bahasa engris pasti pernah diajarin arti kalimat "Let's go dutch" ketika seseorang ngajak makan bareng di cafe or resto. Ya artinya "bayar sendiri-sendiri". Atau perumpamaan orang tentang relatives nya "ah.. he's my Dutch uncle" yang padahal pamannya juga bukan Dutch. Artinya kurang lebih pamannya pelit dan (biasanya) suka mabok. Trus ada lagi "Dutch counts pennies.." Kalo sekarang lebih tepat nya "Dutch counts cents" yang artinya tau kaaan? peliiit. Sampe ke sen nya diituuung.
- English is nobody's language. Disini ituuuh ga ada gap besar antara yang native dan yang bukan. Soalnya yang english native speakers nya juga minoritas. Beda sama di Melbourne, jelas banged antara yang native dan yang foreign student. Kalo disini banyak international student dari negara2 lain di europe yang tampangnya caucasian semua dan warna kulit ngga beda. Kalo di Melbourne yang international student paling yang dari Asia dan Africa jadi lihat "penampakan"aja udah ketahuan mana yang native mana yang ngga.
- Cara ngeja nama ngga selama nya in English way. Untuk poin ini saya bahagiaaaa banged. Karna orang bakal nanya "How to pronounce your name?" Dan mereka ga kesulitan untuk pronouncing it. Karena katanya kaya bahasa Italy "Vi-o-la-che" berikut dengan irama pronouncing "al dente". Lha kalo di Melbourne? Tiap kali saya bilang cece, ditulis jadi "JJ". Violace jadi "vai-o-less". Dibilangin "vio-la-ce" jadi "Violachi" ala kecekek. Disini ada yang namanya Jesse, pronouncing nya "Yassa". Ianese = Jenis. Jana = Yana. Annelieke = Anelike. Jadi yaaa... Violace = Violace ya ngga aneh. Daaan.. Yassa dan Jenis itu adalah nama cowo..!
- Beda dengan aturan di Melbourne, kalo disini sepedaan ngga wajib pake helm
- Gadget nya jangan ditanya deh... Melbourne jauh lebih aware tentang updating gadget. Mobile phone aja masih belum pada smart disini. Apa mungkin karna di kampung aja ini? Tapi saya sedang membandingkan gadget2 teman2. Yang selain Asia or US, yang laen masih bertahan dengan model lama. Atau ini mungkin berkaitan dengan poin berikutnya.
- Master students nya masih pada muda-mudaaaa... Waktu di Melbourne beda antara yang udah kerja dan melanjutkan master dengan yang fresh from Bachelor kayanya imbang ato malah banyakan yang udah kerja nya. Bahkan kelas2 nya pun disesuaikan, banyak kelas malam karna yang kuliah banyakan yang udah kerja. Lha disini? Boro-boroooo bisa sambil kerja. Kelas nya tiap hari dan yang tua itu minoritas. Kebanyakan anak2 kecil tamat bachelor dan masih gila pesta dan mabok2.
- Barbeque ga sepopuler di Australia
- Di tiap kelas ada gambar burger dan gelas minuman di silang. Tapi yang mo makan dan minum dari botol ga dilarang. Bahkan di perpus nya pun ada tertera jenis makanan yang boleh dimakan di perpus walopun gambar itu tetap terpampang dimana-mana. Kalo di Melbourne sie jelas banged aturannya. Mo makan, mo minum, mo angkat kaki, mo tidur dikelas terserah sesuka hati, selama ngga berisik ganggu yang laen, sementara kalo di perpus nya saklek ga boleh makan apa2.
- Exam nya ga "menakutkan" seperti di Melbourne Uni. Kalo di Melbourne semua orang di satu hall gede dikumpulin, banyak pengawas, ga boleh bawa tas, ada pengecekan ID dan seterusnya. Kalo disini ujiannya cuma di ruang kelas biasa, pengawasnya cuma 2 orang dosen yang biasa ngajar, ga ada pemeriksaan ID, tas apapun masih dibawah kaki. Pergi ke toilet ditengah tes juga dibiarin, lucunya kalo ke toilet melewati ruangan komputer, bisa aja belok bentar ngecek jawaban kalo niat. Di toilet bisa ketemu teman dan nanya2 or diskusi tentang soal. Tapiiii ga ada seorang pun yang berniat melakukan itu.
- Disini ngga saklek tentang aturan kaya di Melbourne. Sepeda suka semena-mena walaupun ngga ada jalurnya. Disini sepeda penguasa banged deh. Ada ruas jalan (biasanya memasuki city center or yang biasa dibilang centrum) yang sepeda dilarang lewat. Tapiii ngga ada seorangpun yang turun dari sepedanya. Kecuali di centrum yang rame, barulah pada turun.
- Kalau di melbourne ada road sign untuk koala dan kangguru, disini ada road sign untuk bebek dan kuda. Yang artinya itu daerah perlintasan bebek dan kuda. Next time saya akan foto.
- Satu lagi sebenarnya mau tulis tentang kopi nya. Tapi nampaknya ngga sebanding antara kampus Melbourne dan Wageningen. Maksudnya ngga bisa dibandingkan. Ngga apple to apple. Yang satu di kota yang satu di kampung. But nevertheless disini ngga banyak cafe yg jual coffee kaya di Unimelb. Kalo mau kopi ya ke coffee machine yang ada di tiap lantai di gedung utama. Atau malah ada di tiap lantai di semua gedung. Kalo di coffee machine beli cappucino bakal kena 0.50 euro sementara kalo di cafe nya (yg cuma satu di gedung utama 8 lantai) kalo ngga salah 1.25euro. Ngga ada cafe bertebaran di luar gedung kaya di Unimelb apalagi yg pake stall doank.
Kalo ngga salah ada satu lagi yang saya temukan perbedaannya, tapi sekarnag sedang lupa. I'll add it later... If I could remember it.
- Ingat..! Ini malah hal yang sangat penting sistem perkuliahannya! Disini setiap semester dibagi jadi 3 period. Dan ada kelas tiap hari! Biasanya kelas 3 jam sehari (untuk satu subject), untuk periode yang panjang, ada 2 subjects dalam satu period yang satu kelas pagi dan satunya kelas siang (tiap hari!). Jadi totalnya 6 jam sehari di kelas! Kalau kerjaannya di kelas aja tiap hari kapan ngerjain tugas nya?? Nah itu dia... tugas nya ngga banyak! Semua dibebankan di exam. Ini yang jauh berbeda dengan Melbourne Uni (atau system di Australia). Disana satu semester cuma 4 subjects. Kalo pun ada kelas tiap hari karna ada praktikum misalnya, paling kelasnya cuma 3 jam sehari untuk satu subject. Sering nya cuma 2 jam. Jadi seminggu paling cuma total 8 jam pertemuan untuk 4 mata kuliah. Nah berhubung banyak waktu luang diluar kelas, jadilah banyak tugas. Yang ngga bisa dikerjain sekali duduk. Jadi banyak belajar sendiri nya. Sementara kalau disini tugasnya semua pasti per kelompok. Karna memang waktu untuk ngerjainnya pun ngga banyak. Balik dari kelas itu palingan udah teler. Belum waktu buat baca. Ada yang bilang system di Australia itu nyante dibanding sini. Kalau aku bilang sie lebih santai disini. Cuma perlu duduk dengerin di kelas tiap hari, semua ilmunya di sendokin. Sementara kalo di Oz tiap hari pasti baca nyari referensi buat tugas yang artinya baca, mengerti dan menulis. Tapi itu karna saya sangat peduli dengan essay dan agak kurang peduli dengan exam, jadinya saya beranggapan begitu. Bagi orang yang tidak begitu peduli dengan essay (tugas2) atau bisa ngerjain essay dalam sehari jadi, dan indikator santai atau tidaknya kuliah hanya berdasar kewajiban datang ke kampus, ya sistem Oz emang berasa nyantai banget.
Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : ABSURD
#52-25, 19 Feb 2013 23.14 CET
"Ya ampun Vie... Jadi.. kamu ngga mau minum, tapi dugem gapapa?"
"Dugem apaan sie..? Aku ngga dugem koq"
"Lha itu kamu bilang barusan ke pub dan dancing..."
"Halah.. aku ngga nari saman koq disana, cuma ngikutin anak-anak koridor doang, ngga nge-dance gila kaya orang mabok, bisa dibilang ngga dancing malah"
"Iya makanya... minum ga boleh, tapi dugem gapapa..?"
"Dugem apaan sie maksudnya? Minum beralkohol itu harooom... nah dugem haram dimananya? Yang dugem siapa? Aku kan cuma ikut temen-temen aja"
"Huuu... ngeles ajah.. ngga malu kamu sama kerudung...?"
"Heh.. itu udah bukan urusan kamu lagi ya.. Aku mau malu atau ngga, apa hubungannya sama kamu...?
"Deu.. galak amat non, tapi kamu ksana tetap pake kerudung kan..?"
"Itu jawabannya gampang.. tapi aku ngga mau jawab, bukan urusan kamu. Aku pake kerudung itu urusan aku sama tuhan. Ngga ada hubungannya sama kamu. Kenapa emang nya kalau aku pake kerudung, kenapa emang nya kalo ngga? Kamu yang mau ngasih dosa dan pahala emang nya?"
"Ngga Vie.. ya ampun....."
"Apanya yang ngga?"
Itu percakapan imajinasi saya dengan seseorang entah dimana. Belakangan ini emosi saya sedang dalam keadaan tidak baik. Kondisi yang dipicu oleh penyesalan akan sebuh tindakan. Atau beberapa. Entahlah... Mungkin karena saya sedikit banyak ikut peduli dengan "pikiran / pendapat orang" tentang saya. Memang lebih sering saya tidak peduli karena satu alasan sederhana, I can't do anything about that and it usually ruin my mood. Jadi ya lebih baik tak peduli. Hanya saja ketika saya peduli, saya lebih sering emosi sendiri yang merusak hari.
Sunday, February 24, 2013
LDR
Sebelum nya sudah pernahkah saya menuliskan tentang Long Distance Realtionship ini? Karena sepertinya saya selalu bermasalah dengan ini. Derita tidak bisa menemukan hi quality jomblo di kota tempat tinggal. Hehe...
Yang utama harus dimiliki dalam LDR itu adalah kesabaran, yang kedua sabar, dan yang ketiga sabar. Komunikasi bukan masalah besar di jaman teknologi sekarang ini. Mulai dari whatsapp sampai skype. Yang punya BB pasti dengan BBM nya dunk.. Tapi saya dan dia bukan pengguna BB, dan dia tidak mau menggunakan whatsapp for personal reasons. Jadi pilihan yang tertinggal adalah sms dan skype. Bisa juga dengan program mobile messengers lainnya, tapi so far itu hanya membuahkan frustasi di pihak saya karna programnya menyedot batre dan dalam beberapa jam HP saya koit. Sms..? Itu juga menyebalkan karna menyedot pulsa.. hehe.. Skype so far merupakan pilihan yang sangat membantu. Masalahnya adalah perbedaan waktu setengah hari iniiiih... Jadi waktu yang memungkinkan untuk bisa ber-skype ria adalah tengah malam saya dan pagi dia atau sebalik nya. Jadwal diluar itu akan membuat salah seorang bete. Karna yang lain pasti sedang sibuk melakukan aktifitas nya.
Masalah lainnya adalah tendensi saya untuk gampang menyerah. Saya tak kuat sakit, langsung menyerah pada analgesic untuk mematikan rasa sakit. And sometimes missing him hurts me more than having my period pain in the worst day. The different is this time analgesic won't help at all. Jadi nyaaah seperti biasa yang bisa saya lakukan adalah menulis disini. Terapi biar tak gila dan melakukan hal yang akan saya sesali di kemudian hari.
Yang utama harus dimiliki dalam LDR itu adalah kesabaran, yang kedua sabar, dan yang ketiga sabar. Komunikasi bukan masalah besar di jaman teknologi sekarang ini. Mulai dari whatsapp sampai skype. Yang punya BB pasti dengan BBM nya dunk.. Tapi saya dan dia bukan pengguna BB, dan dia tidak mau menggunakan whatsapp for personal reasons. Jadi pilihan yang tertinggal adalah sms dan skype. Bisa juga dengan program mobile messengers lainnya, tapi so far itu hanya membuahkan frustasi di pihak saya karna programnya menyedot batre dan dalam beberapa jam HP saya koit. Sms..? Itu juga menyebalkan karna menyedot pulsa.. hehe.. Skype so far merupakan pilihan yang sangat membantu. Masalahnya adalah perbedaan waktu setengah hari iniiiih... Jadi waktu yang memungkinkan untuk bisa ber-skype ria adalah tengah malam saya dan pagi dia atau sebalik nya. Jadwal diluar itu akan membuat salah seorang bete. Karna yang lain pasti sedang sibuk melakukan aktifitas nya.
Masalah lainnya adalah tendensi saya untuk gampang menyerah. Saya tak kuat sakit, langsung menyerah pada analgesic untuk mematikan rasa sakit. And sometimes missing him hurts me more than having my period pain in the worst day. The different is this time analgesic won't help at all. Jadi nyaaah seperti biasa yang bisa saya lakukan adalah menulis disini. Terapi biar tak gila dan melakukan hal yang akan saya sesali di kemudian hari.
Sunday, February 17, 2013
Derita Bersepeda di Belanda
Judul yang dramatis berima seperti biasa yang saya suka... Jadi bisa dibilang seminggu ini saya sudah bersepeda di negri belanda ini. Menempuh jarak kurang lebih 9km antara Ede (tempat tinggal saya) dan Wageningen (kampus saya). Hari pertama bersepeda, saya langsung kehabisan nafas dan pusing sesampai di universitas. Jangan tanya kenapa. Hari kedua sedikit lebih baik, hari ketiga diakhiri dengan meninggalkan sepeda di kampus dan pulang dengan bus karena salju turun dan saya tak membawa perlengkapan anti salju. Hempasan salju kemuka itu sangat menyakitkan.
Tadi pertama kalinya saya menempuh Ede-Wageningen seorang diri. Sebelum-sebelumnya selalu dengan teman dari dorm yang memiliki jadwal kuliah yang sama dengan saya. Tadi karena libur dan saya ada urusan pribadi, jadi lah dengan sesuka hati saya mengayuh sepeda. Tapi sesuka hati pun ternyata bukan sepeda santai yang tidak melelahkan, karna saya pun ternyata bosan tak juga sampai ditujuan dan jadilah mengayuh dengan sekuat kemampuan paha menahan pegal.
Berangkat ke wageningen tidak seberapa. Deritanya baru dimulai ketika balik ke Ede. Karna kelamaan rumpi di Wageningen, saya balik ketika hari mulai gelap. Seorang diri. Ditengah jalan gerimis pun mulai turun. Saya tak ambil pusing karna hanya gerimis kecil hingga di suatu daerah bernama Benekom saya lihat beberapa orang pesepeda lainnya sedang berteduh. Saya pun langsung melihat ke jaket saya. Ternyata sebagian besar bagian depannya telah basah kuyup. Tapi saya sudah kepalang basah, jadi sapun melanjutkan kayuhan se-sisa tenaga. Memasuki daerah Ede, saya mulai melihat keanehan di track sepedanya, seperti lumpur yang menutupi, beberapa saat kemudian ditempat yang lebih terang saya baru menyadari bahwa itu ternyata salju. Sepertinya di Ede sempat turun salju yang cukup membeli lapisan penutup putih yang memberatkan kayuhan di track sepeda.
Berjuangan saya diakhiri selalu dengan tanjakan kecil ke dorm. Tanjakannya tak seberapa, tetapi setelah mengayuh selama nyaris 30 menit, tanjakan itu selalu terasa seperti tantangan terbesar sebelum mencapai kenyamanan dorm. Saya sampai di kehangatan dorm dengan paha pegal, nafas tersenggal dan bsah kuyup. Sekurangnya saya sampai dengan selamat.
Tadi pertama kalinya saya menempuh Ede-Wageningen seorang diri. Sebelum-sebelumnya selalu dengan teman dari dorm yang memiliki jadwal kuliah yang sama dengan saya. Tadi karena libur dan saya ada urusan pribadi, jadi lah dengan sesuka hati saya mengayuh sepeda. Tapi sesuka hati pun ternyata bukan sepeda santai yang tidak melelahkan, karna saya pun ternyata bosan tak juga sampai ditujuan dan jadilah mengayuh dengan sekuat kemampuan paha menahan pegal.
Berangkat ke wageningen tidak seberapa. Deritanya baru dimulai ketika balik ke Ede. Karna kelamaan rumpi di Wageningen, saya balik ketika hari mulai gelap. Seorang diri. Ditengah jalan gerimis pun mulai turun. Saya tak ambil pusing karna hanya gerimis kecil hingga di suatu daerah bernama Benekom saya lihat beberapa orang pesepeda lainnya sedang berteduh. Saya pun langsung melihat ke jaket saya. Ternyata sebagian besar bagian depannya telah basah kuyup. Tapi saya sudah kepalang basah, jadi sapun melanjutkan kayuhan se-sisa tenaga. Memasuki daerah Ede, saya mulai melihat keanehan di track sepedanya, seperti lumpur yang menutupi, beberapa saat kemudian ditempat yang lebih terang saya baru menyadari bahwa itu ternyata salju. Sepertinya di Ede sempat turun salju yang cukup membeli lapisan penutup putih yang memberatkan kayuhan di track sepeda.
Berjuangan saya diakhiri selalu dengan tanjakan kecil ke dorm. Tanjakannya tak seberapa, tetapi setelah mengayuh selama nyaris 30 menit, tanjakan itu selalu terasa seperti tantangan terbesar sebelum mencapai kenyamanan dorm. Saya sampai di kehangatan dorm dengan paha pegal, nafas tersenggal dan bsah kuyup. Sekurangnya saya sampai dengan selamat.
![]() |
| track sepeda yang tertutup salju |
Monday, February 11, 2013
Menyingkap Kabut di Negeri Empat Musim #52 : EDE, GELDERLAND, THE NETHERLANDS
#52-24, 10 Feb 2013 24.04 CET
Well.. wel.. siapa yang sangka... siapa yang duga... Vie yang tiga tahun lalu merana karena harus kuliah lagi sekarang kembali terdampar untuk melakukan hal yang sama. Dia masokis. Semua tahu itu. Saat hubungan dengan dia yang namanya tak mau dia sebut telah bisa diakhiri tanpa derita lagi, Vie membutuhkan hal baru untuk menyiksa diri. Sekolah lagi mungkin? Toh dia masih bodoh dan membutuhkan lebih pendidikan.
Besok akan menjadi hari pertama kuliah Vie disini. Dia tak bisa menahan diri untuk tak tertawa. Tapi dia masih bertahan untuk tidak tertawa histeris, tak mau teman-teman se'koridor' nya ketakutan mendengarnya. Temperatur satu derajat dibawah nol, tapi kamarnya tak sedingin sewaku di Melbourne. Disini dia tak perlu berpikir pusing untuk menghemat biaya penghangat ruangan. Tapi bukan itu yang membuat nya ingin tertawa histeris. Dia teringat Enade, manusia yang meracuni nya untuk menulis disini.
Dulu manusia hamster itu menggambarkan Netherlands bagai kulkas, terang dan dingin, dia juga mengatakan bahwa negri ini selalu tertutup kabut yang membuat nya depresi. Belum lagi salju yang menutup semua warna dunia dan menjadikannya hanya putih. Well yeah.. mungkin itu keadaannya di Amsterdam dan Den Haag, kota tempat dia berseliweran di negara ini. Tapi sekurangnya di kampung Ede tempat Vie terdampar kali ini tak sedingin atau seputih itu, sekurangnya view dari kamar Vie cukup berwarna.
![]() |
| the view |
Subscribe to:
Posts (Atom)

