Monday, July 23, 2012

Ikan Air atau Ikan.....????

Jadi hari ini akhirnya saya kembali memasak (yay..! not!) setelah nyaris setengah tahun tak mau tau tentang dapur lagi. Serasa pembalasan setelah tiap hari harus memasak selama beberapa tahun yang lalu.

Biasanya dirumah ada yang membantu memasak, walau tidak setiap hari. Biasanya saya tak peduli apakah di meja makan ada lauk atau tidak, toh saya sendiri nyaris tak pernah makan dirumah. Pagi sekedar sarapan kopi dan roti, siang makan di kantor, dan malam ngemil, atau jajan.

Tapi apalah daya, saat bulan puasa ini, tak mungkin lagi makan di luar. Pertama karena saya tak yakin disini ada yang jualan di waktu sahur, kedua karna saya tak suka tiap hari harus beli lauk buat berbuka dan sahur. Terpaksalah saya memasak lagi.

Tentu saja ritual memasak kurang afdol (dan tak akan terlaksana) apabila tidak didahului dengan berbelanja di pasar. Kegiatan ini merupakan siksaan tersendiri bagi saya, harus masuk wilayah becek, ramai orang, bermacam bau, adegan tawar menawar dan meneteng berbagai kantong kecil berisi belanjaan. Penderitaan belum berakhir disana, tentu dilanjutkan dengan ritual berikutnya; membersihkan belanjaan apabila itu berupa daging / ayam / ikan. Berakhirkan prosesi memasak nya? Belum kawan, kita belum bisa memasuki acara inti memasak apabila belum mengupas ini itu, mengiris ini itu, dan yang paling sial harus menggiling ini itu. Percayalah.. walau menggunakan blender pun, hanya mengurangi derita tahap akhir, tapi ada derita tambahan untuk mengatur dan membersihkan blender nya. Tak heran saya sedikit merindukan kehidupan tahun lalu saat saya hanya tinggal membeli daging2an siap masak yang telah dipotong bersih dan bumbu2 instan. Tapi tentu saja hasil nya juga berbeda. Saya lebih merindukan berbelanja di toko bersih, wangi, tinggal pilih dan tak perlu menawar. Tentu saja harganya berbeda kawan. Jika melihat harganya, maka saya akan kembali merindukan pasar becek ini.

Disini bukannya tidak ada bumbu instan, tapi selain rasanya tak sesuai harapan, bumbu segarpun dapat diperoleh dengan harga yang murah. Jika tak mau repot, pasar selalu menyediakan apa yang diinginkan pembeli nya. Ada bumbu giling yang tinggal cemplung. Tentu saja banyak orang yang lebih memilih mengaduk bumbu sendiri dengan alasan rasa (dan saya tak bisa menyanggahnya) tapi saya lebih memilih kenyamanan dan kepraktisan. Rasa bagi saya merupakan poin ke sekian dari acara memasak.. yang penting bisa dimakan... hehe... Tapi jangan anggap remeh saya kawan, beberapa tahun yang lalu teman2 saya diperantuan menganugrahkan gelar jago masak pada saya dengan menu favorit rendang saya. Jangan dibanggakan masakan itu disini kawan, karena pasti akan dihina dina para "pemasak"beneran.

Dan seperti biasa, saya sudah bercerita panjang lebar dan belum juga menuliskan hal yang menjadi topik tulisan ini. Saat saya belanja di pasar tadi, saya berhendi di tempat yang menjual bumbu giling.. bukan kawan.. ini berbeda dengan bumbu instan. Karena bumbu yang masih segar dia giling tanpa ada proses pengeringan. Jadi bentuk nya basah. Biasanya orang-orang membeli per-gram hingga kiloan untuk bumbu-bumbu yang  berbeda. Tahukan kawan bahwa bumbu dasar masakan padang itu sama semua dan bisa dihitung jari; lengkuas, jahe, kunyit, cabe. Itu bumbu giling yang semua penjual bumbu pasti punya, belakangan beberapa mulai memperbanyak koleksi bumbunya dengan menambahkan bawang putih dan bawang merah. Dulu ibu saya tak pernah kehabisan stok bumbu2 ini di dalam kulkas, tentu saja jaman dahulu penjual nya belum menyediakan bawang.

Sekarang, saya yang tak mau repot dan tak tahu di bumbu ini tinggal meminta pada uda si penjual untuk mengambilkan bumbu berdasarkan masakan yang akan saya buat. Contoh nya tadi..

Saya : "Da, tolong ambilin bumbu pangek ya buat sekilo ikan" (pangek adalah nama sejenis masakan padang yang berkuah seperti gulai tapi tanpa santan, saya malas beli santan :D)

Uda Penjual (UP) : "pangek padeh atau pangek masin" ("pangek pedas atau pangek asin" demi tuhan saya tak tahu apa bedanya... -.-')

Saya : "padeh" (walau tak tahu saya lebih memilih pedes daripada keasinan)

UP : "Ikan, ayam, daging?"

Saya : "Ikan" (bukannya saya sudah bilang dari awal?)

Up: "Ikan air...? Air..? Ikan air atau..?"

Saya : "Air.. (ketawa) Maksudnya atau Ikan laut? " (selain di air emang ikan ada dimana lagi oom?)

UP : "Berapa banyak mo masak ikannya?"

Saya : "sekilo" (ni orang emang ga denger omongan gw di awal ya?)

Dan dengan cekatan si UP mengambilkan takaran bumbu untuk ikan-air-pangek-padeh-sekilo saya. Sayang saya tidak mendengarkan berapa harga bumbunya, karena saya membeli beberapa item di stall nya UP tanpa menanyakan harga, walau dia menyebutkan harga semua item saat menghitung jumlah belanjaan saya, tapi saya tak begitu memperhatikan harga per item. Untuk bumbu, beberapa biji wortel, sebiji kentang (benar saya hanya mengambil satu, UP pun mempertanyakannya, emang aneh cuma ngambil satu? saya cuma butuh satu koq), satu buah yapan, sekotak plastik kecil telur puyuh, sebutir bawang bombay (benar..! saya cuma butuh sebutir..!), dan tiga buah asam kesturi saya terkena total Rp.30 ribu.



No comments: