Friday, July 25, 2014

Konsultasi ke Psikolog

Menurut saya... ada yang kurang rasanya kalau belum mencoba konsultasi dengan psikolog dengan keluhan stress karena beban kuliah. Kesannya saya benar-benar student yang berdedikasi tinggi untuk kemajuan studi hingga stress dibuatnya. Walau niat utama kesini tak laen adalah untuk jalan-jalan melihat eropa.

Jadi alkisah sebulan yang lalu saya merasa sudah waktunya mencari orang lain untuk berbagi  ikut mendengarkan cerita saya tentang kehidupan sehingga saya tidak stress sendiri. Tentu saja stress ini saya sendiri yang mengkategorikan sudah cukup parah dan butuh bantuan. Padahal tidak ada niat untuk lompat dari jendela atau berbagai keputusan bodoh lainnya selain hanya ingin tidur.

Singkat cerita, karena masa liburan musim panas, saya baru berkesempatan bertatap muka dengan si ibu psikolog tadi, sebulan kemudian dari email pengaduan saya minta waktu berkonsultasi. Bayangan saya tentang ruag kerja psikolog tentu saja berdasarkan tipuan film-film dan serial tv US. Yang tempatnya luas nyaman dengan kursi besar hingga si pasien bisa tiduran sambil bercerita masalahnya. Trus si psikolog berkali-kali mananyakan "how do you feel about that..?"

Get ready people.. kenyataannya tidak seperti itu!
Ruangannya seeprti ruang kerja biasa. Dengan kursi dan meja seperti akan berdiskusi dengan dosen. Dan tidak ada bahasan soal perasaan, setelah mengetahui pencetus stress, bahasan berikutnya adalah hal ilmiah tentang fungsi otak manusia. Jadi satu jam waktu saya lebih banyak dihabiskan mendengarkan penjelasan dari si psikolog dibanding membahas how fo I feel... Bahasan tentang itu cuma di 10 menit pertama hanya untuk mengetahui masalah apa yang saya hadapi. Dan sebelum waktu konsultasipun saya sudah mengisi sebuah form yang didalamnya juga menjawab pertanyaan masalah apa yang sedang saya hadapi. Jadi sebelum bertemu saya pun si psikolog telah tau masalahnya. Dan seperti yang saya ceritakan, tak ada waktu panjang lebar berkeluh kesah disana. 

Diakhir session kita, si psikolog bertanya apakah saya menginginkan langsung dijadwalkan next sesion dua minggu dari sekarang atau saya akan mengirimkan emial jika membutuhkan dia lagi. Tentu saja saya memilih opsi kedua, walau opsi pertama terdengar cukup menggiurkan bagi saya. Kapan lagi terdengar keren punya jadwal konsultasi psikologi, apalagi tanpa harus membayar. Tapi apa daya insting saya dengan cepat memutuskan opsi kedua hanya karena malas menunggu lama di ruang tunggu mereka dua minggu lagi.

Sekian cerita kali ini tentang the awesomeness of my psychological consultation.

Thursday, July 17, 2014

Excursions

Kebetulan program saya sering sekali melakukan excursion ke lapangan. Mulai dari yang dekat dan hanya membutuhkan bersepeda hingga yang jauh selama sepuluh hari ke south france. Kali ini saya akan memajang beberapa foto menarik yang saya peroleh selama excursion dengan sedikit cerita jika saya masih ingat.

Foto-foto berikut ini saya ambil ketika kelas mengadakan excursion ke sebuah perusahaan pembibitan rumput dan cereal crops. Ya benar.. Pembibitan rumput! FYI, rumput-rumput di lapangan bola dan lapangan golf itu tidak serta merta muncul dilapangan lhoo.. Mereka ditanam dan dipilih varietas tertentu yang cocok untuk masing-masing aktifitas. Rumput untuk lapangan bola misalnya dibibitkan yang tidak gampang mati terinjak-injak.. :)

Tentu saja foto-foto saya sama sekali tidak mengambil plot pembibitan mereka.. Cuma berbagai macam rumpuut..! Yang lebih menarik adalah foto-foto dibawah ini

Gereja di dekat loksi yang seperti bangunan-bangunan lainnya
berdiri sendiri bertetanggakan lahan pertanian

Cute bee disalah satu plot pembibitan tanaman bukan rumput (entah apa)

Pony yang entah punya siapa :)

Jika excursion diatas lokasinya relatif dekat dan hanya membutuhkan setengah hari excursion, foto berikut ini lokasinya di bagian utara the Netherlands. Nama daerahnya frissian northland. Ring a bell? Ya..! Frissian flag itu berawal dari sini. Daerah ini punya banyaaaaak sekali perternakan sapi. Ingat sapi cute berwarna hitam putih yang populer itu? Nama sapinya jenis juga frissian. Sapi itu memang paling banyak diminati karna produktivitas nya yang tinggi. Tapi jika dipelihara dengan kondisi terjaga. Dengan trend organic sekarang ini, untuk menghasilkan organic milk beberapa petani/peternak memilih jenis laen yang lebih robust yang sayang nya ga cute hitam putih, hanya coklat. 


Pumpkin sisa Holloween

Sapi Frissian yang hitam putih

Jauh-jauh ke daerah ini untuk menggali tanah

Uhug.. dosennya cute dan masih muda

Yang coklat itu jenis sapi lainnya, yang putih itu lupa nama hewannya :D

Nah untuk lokasi yang terakhir ini adalah pertanian yang menghasilkan keju organik. Tentu saja dia tidak hanya memproduksi keju, tapi mulai dari lahan rumput untuk para sapinya sampai ke pemasaran keju. Seperti yang saya bilang diatas, karena dia memproduksi organik, jadi tidak melulu soal kuantitas produksi susunya, jadi mereka menggunakan jenis sapi Jersey yang lebih robust dibanding sapi cute hitap putih Frissian. Karena mereka juga tidak menggunakan obat-obatan dan anibiotik untuk para sapi nya.
Clear sunny but freezing day
Babi gede nan gendut

Sapi Jersey yang tanduknya ngga dipotong seperti kebanyakan dilakukan petani lainnya

Cheeeseee...!

More cheeesee..!

Sapi, teman sekelas, dan keju

Self Reflections

Saat ini saya sedang hobi-hobinya dengan self reflection paper. Bagaimana tidak, hingga saat ini saya telah membuat beberapa self reflection assignments untuk sebuah course, yang tiga terakhir baru saja saya kerjakan seharian ini. Beberapa hari yang lalu saya juga mengerjakan another self-reflection paper untuk exemption another course, dan sebulan yang lalu sebagai bagian dari internship report saya. 
Menurut saya, para pengajar disini mengagungkan self-reflection sebagai metode pembelajaran diri yang mumpuni (halah). Dalam tulisan itu kita diminta untuk berkaca akan tidakan/pembelajaran yang telah kita lakukan selama ini. Bagaimana kita menilai diri kita sendiri (bingungkan bacanya?) selama belajar. Menilai sendiri atas tindakan yang kita lakukan, apa yang menurut kita baik atau kurang dan kenapa begitu, serta diakhiri dengan bahasan apakah kita akan melakukan hal yang berbeda, atau apa yang bisa kita lakukan lebih baik lagi jika harus mengulang kembali kesempatan yang sama.

Coffee machine baru jika sudah pusing berkaca sendiri
Untuk bagian dari internship report, tentu saja saya berkaca dengan semua pekerjaan yang saya lakukan selama di host organisation dengan segala masalah dan harapan saya dan diakhiri dengan "I should have done this and that instead of that and this..". Untuk exemption salah satu course saya harus berkaca pada pengalaman kerja saya selama ini dan mengaitkannya dengan expected outcome dari course yang ingin saya hindari itu sembari mengumbar pengalaman dan kemampuan saya dalam reflecting learning (istilah ngaco) yang di sesumbarkan menjadi kekuatan course itu. Ya benar! Saya menghindari course yang mengajarkan cara self-reflection dengan membuat self-reflection paper. Dan banyak tugas-tugas lainnya yang harus saya kerjakan dengan metode ini. Tapi tentu saja saya sangat percaya diri setelah self reflection paper untuk internship saya diganjar nilai 8.5 oleh supervisor dari university (bukan host organisation).

Jika saya kembali menggunakan self-reflection pada tulisan kali ini, sepertinya saya baru akan percaya diri jika telah memperoleh nilai memuaskan. Tugas self reflection pertama saya sebelumnya hanya dihargai angka 6, sementara saya telah dengan sangat antusias dan berbangga hati mengerjakannya. Nilai itu sukses membuat saya merasa paling bego sedunia dan menghantarkan sebuat surat pertanyaan pada sang dosen. Tentu saja sang dosen menjawab dengan terus terang bahwa yang saya anggap self-reflection itu sama sekali tidak merefleksikan proses pembelajaran diri saya. Jadi, pelajaran sangat berharga untuk mengerti apa itu self reflection. Dan tetap didalam hati saya menyalahkan para pengajar course itu karena selama di course menjelaskan dengan absurd dan sama sekali tidak saya mengerti tentanang apa yang diharapkan dalam self-reflection paper.

Nah yang paling membanggakan hari ini adalah karena saya (hampir) menyelasaikan 3 self-reflection lainnya untuk sebuah course yang seharusnya telah selesai masa nya 6 bulan yang lalu tetapi semua tugas-tugasnya masih terus berlanjut hingga akhir research saya selesai. Saya harus berkaca tentang proses pembuatan research proposal saya, berkaca pada proses saat saya dan team mengorganisir sebuah kelas, dan yang terakhir, yang tak berhasil saya selesaikan adalah berkaca pada keseluruhan course tersebut. Untuk yang terakhir saya lebih banyak menuliskan komplen keluhan atas cara penyelenggaran dan penilaian course tersebut. Dan self reflection paper saya tidak akan berakhir sampai disana. Nanti saya akan menulis lagi tentang persiapan presentasi hasil research saya dan penyelesaian thesis saya. 

Jadi benar adanya jika hari ini saya menobatkan diri sebagai self-reflector expert...!

Sunday, June 29, 2014

My workstation

Beberapa teman yang sedang mengerjakan thesis bilang working space ini sebagai kantor. Bagaimana tidak, kita diharapkan bekerja 9am-5pm persis seperti ngantor, walau dalam kenyaataannya bisa beragam lamanya. Yang pasti fasilitasnya bisa dipakai dai 7am-10pm. Untuk yang udah mendekati due date nya tentunya mereka sering bekerja sampai malam. Tapi selama ini saya perhatikan para Dutch itu sangat efektif dan paling ngga mau kalau harus bekerja lembur. Jadi mereka salalu berusaha membereskan di dalam waku kerja. Bahkan saat kuliah, jarang yang mau lembur malam mengerjakan tugas. Semua berusaha diselesaikan di dalam jam kuliah. Dan biasanya jika ada assignment, pasti juga disediakan waktu dan ruangan untuk mengerjakannya.

Meja saya yang pertama (sementara), dengan view gedung utama.
Kembali pada cerita "kantor" saya. Selain memuliki meja dengan fasilitas lengkapnya, saya juga mendapat akses print gratis serta minuman kopi, teh di dapur dan bahkan ada ruangan khusus untuk istirahat. Saya langsung membandingkan dengan Indonesia, bagaimana mahasiswanya berjuang menyelesaikan skripsi/thesis mereka sendiri. Bahkan dengan mengeluakan biaya sendiri. Sejauh ini bedanya, ya ngga heran kalau jarang ada publikasi ilmiah dari Indonesia. Fasilitasnya jauuuh berbeda.

Meja yang kedua, karna yang pertama tak ada komputernya

View tepat dibelakang saya. Gedung ini penuh mahasiswa yang sedang berjuang :)


Monday, June 23, 2014

Lego exhibition and Zaanse Schans

Produktif sekali saya hari ini di blog. Saat seharusnya saya harus produktif di thesis. At least masih mendingan daripada tidak produktif sama sekali.

Beberapa karya dari Lego
Kembali pada tema kali ini. Minggu lalu saya mengunjungi sebuah lego exhibition di Amsterdam atas ajakan seorang teman. Teman ini seorang PhD student, yang control freak rajin sekali mengorganisir acara bersama teman-teman. Dia teman saya sewaktu tinggal di housing yang lama dan biasanya mengajak teman-teman yang juga dulu tinggal di koridor yang sama dengan kita dan teman-teman kantornya. Pada kesempatan kali itu tak ada teman sekoridor lainnya yang bergabung selain saya. Jadinya saya dikelilingi oleh teman-teman kantor dia yang artinya para PhD semua. Dan karena si Jerman teman saya itu tau berapa usia saya, dengan bahagia nya dia mengumumkan bahwa salah seorang teman nya yang seorang cowo muda ganteng tinggi  itu baru berumur 22 tahun. Yeaaah.. Greaaat..! Yang pergi cuma 5 orang akhirnya termasuk saya. 4 orang manusia muda yang sedang PhD dan saya. Tua. Master.

Salah satu favorite saya. Impressive!

Banyak anak kecil tapi yang seorang ini lucu bangeeed

2 orang PhD students muda
Anyway.. It was fun.. For them..
Well yeah.. Lego keren deh.. Dari small bricks itu dia bisa bikin yang keren gitu. Tapi yaaah.. karena saya lebih mencintai alam yang nampak sangat mempesona, setelah exhibition saya melanjutkan perjalanan sendiri ke daerah yang terkenal dengan kincir angin nya disini. Oya disepanjang pameran itu kita ditemani oleh rekaman suara si artis yang menerangkan tentang masing-masing karya nya. Si artisnya (lupa namanya) dulu merupakan seorang lawyer di NewYork yang setiap maam berkutat dengan lego nya dan akhirnya memilih melepaskan karirnya sebagai lawyer menjadi artis lego. Dia sering banged mengulang-ulang kisah dia sebagai lawyer yang memutuskan meinggalkan kerjaan demi "mainan". Bayangkan dwonk bagaimana kerennya mengajukan pengunduran diri sebagai pengacara untuk bermain-main dengan lego. Dan sepertinya si artis bangga sekali dan mengajak untuk mengejar mimpi, walau dia juga ngasih warning untuk realistis. Sekurangnya kalo berniat melepas kerjaan demi mengejar mimpi jadi gitaris di rockband, make sure dulu you bisa maen gitar atau ngambil les gitar dulu. Langsung tertampar dengarnya. Saya yang bermimpi jadi penulis tapi ngga pernah belajar bagaimana menulis yang baik. *sigh*

Well.. well..
Setelah exhibition itu, saya memisahkan diri dari para PhD itu. Bukan apa-apa, saya tak kuat mental lama-lama menjadi orang bego sendiri. Karena saya masih berniat melanjutkan perjalanan ke Zanse Schaan, sementara mereka hanya berniat untuk makan siang dan ngobrol. Jadilah saya melanjutkan perjalanan sendiri dengan berbekal apps public trasport biar ngga nyasar. Walau sempat ketinggalan bus gara-gara salah ngerti petunjuk di app, akhirnya saya sampai juga di tempat yang ternyata tujuan utama turis kalo ke Belanda ini. Bahkan saya juga melihat bus hop-on hop-off disini.

Dan pemandangannya cantiiiik....  Terang dan sangat kontras dengan pameran "pintar" lego sebelum nya.
Green field, Blue Sky

Blue sky and Windmills 
Pemandangan awal di kompleks ini jika datang dari train station terdekat

Ingin "menangkap" rumah-rumah cantik diseberang sungai..
Tapi apalah daya yang tertangkap kamera tak seindah aslinya

Saya hanya menghabiskan waktu berjalan-jalan di kawasan ini tanpa berniat memasuki satupun museum nya. Mereka punya beberapa museum kecil termasuk masuk ke salah saru windmill nya. Tapi karena saya merasa sudah cukup pinter setelah melihat art exhibition sebelumnya, jadi saya memilih tidak memasuki satu museum pun.

Oya tempat ini penuuuuh turis dan tentu sahaja ada cafe dan toko souuuuvenirnya. Dan tentu saja rame turis Asia. Sewaktu saya mengantri untuk masuk ke toilet, si ibu penjaga nya dengan ramah nya meletakkan tanggannya di bahu saya sambil bilang
"I am sorry lady, but I have to tell you not to use your water bottle inside"
"My water bottle? What do you mean?" Padahal sambil mulut saya mengajukan pertanyaan itu saya langsung menyadari maksudnyaaaa.. Apalagi kalo bukan soal cebok kebiasaan ga bisa cuma pake toilet paper.
"To clean your self.. I am sorry.. I have to tell this because some people make a big mess inside there"

Tuh kaaaan... Grrr... Kalo pun pada pake air botolan mbok ya jangan bikin basah kemana-mana dwooonk.. Akhirnya kan di cap seperti ini.. Lihat saya asia dan pakai kerudung langsung dituduh bakal bikin kekacauan di dalam toilet. Ngga enak banged cap nya.

Ah well.. another piece for today.

*jadi nulis blog aja kerjaannya hari ini nieeeh?!?

Four Weddings and No Funeral

Judul diatas berhasil meringkat dengan singkat peristiwa penting hidup saya selama kembali ke negara tercinta. Di periode January - May 2014 ini saya menghabiskan hari di Jakarta. Berjuang dengan kaum proletar lainnya, dari naik kereta sesak di setiap jam berangkat dan pulang kantor, sampai menyusuri gang-gang sempit yang dipenuhi rumah kost dan tempat makan, dengan tikus-tikus sehat yang riang gembira berlarian. Kenyataan nya tak seseram tulisan saya barusan koq. Jakarta masih merupakan tempat impiam segolongan orang borjuis dengan ratusan mall dan cafe tempat menghabiskan waktu dan merampok uang. Kaum yang menghabiskan seperempat harinya di dalam mobil karena lebih memilih kenyamanan mobil di lalu lintas mengerikan Jakarta. Dan memilih kenyamanan lingkungan rumah di kawasan yang jauh dari pusat kota.

Ah well... niat saya menulis kali ini bukan untuk membahas kota Jakarta. Tapi untuk menulis 3 weddings yang sempat saya hadiri.
1. Di Pekalongan.
Yang menikah adalah roommate saya sewaktu (dulu) juga sempat mengadu nasib di Jakarta. Kita sempat satu kost selama kurang lebih 3 bulan. Dia tau cerita saya dan saya tau cerita dia. Setelah 3 bulan itu kami masih sering bertukar kabar jika salah seorang membutuhkan. Dan yang seorang lagi selalu berupaya untuk menolong walau hanya sekedar mendengar. How I missed this kind of friend.

2. Di Surabaya
Jika yang pertama adalah teman saya sewaktu menderita di Jakarta, yang kedua ini merupakan teman sewaktu saya di Melbourne, yang seperti juga yang pertama, selalu bahagia membantu. Kita pernah menjadi flatmate selama 1 bulan atau beberapa minggu, tapi tidak terlalu banyak memory yang saya ingat di masa itu. Mungkin karena waktu saya habis di dalam kamar dengan jadwal hidup yang berbeda dengan dia. Mengingat mereka sekarang, saya menyadari bahwa mereka berdua sangat berbeda, dan tentu juga jauh berbeda dengan saya, tapi sama-sama orang yang menatap masa depan dengan harapan *halah*.

3. Di Jakarta
Hmm... what can I say.. Yang ini adalah teman SMA saya. Tak sedekat yang dua diatas, tapi sama seperti yang dua diatas, dia juga seseorang yang ringan hati membantu. Pernah saya mendarat tengah malam di Jakarta dan dia menjemput saya ke airport dan membiarkan saya menginap di tempat nya. Tinggal disini dan bergaul dengan teman-teman Indonesia disini, entahlah.. saya tak menemukan sosok-sosok yang seperti teman-teman saya di SMA dan Melbourne. Yang mau membantu tanpa pamrih, yang merasa dekat dan akan melakukan apa saja untuk membantu. Mungkin karena saya merasa dekat dengan beberapa orang disini, tapi ternyata sepertinya mereka tak merasa dekat dengan saya sampai tingkat teman-teman diatas. I would do the same for them.. tapi ya mereka juga sepertinya dari awal juga telah membatasi diri meminta bantuan karena mereka sendiri juga tak mau direpotkan oleh orang lain. Tak semua.. ada seseorang yang juga tipikal teman-teman saya sebelumnya. Dan tentu saja saya dekat dengan dia and would gladly to help her if needed. I would gladly to help anyone if needed, actually... :D

4. Di Padang
Ini wedding nya sepupu saya, dan saya juga sempat nebeng tinggal bersama dia selama 2 bulan. Saya mendengar cerita-cerita nya dari awal perencanaan wedding. Kita tidak memiliki hubungan dekat sebelumnya, hanya karena hubungan keluarga. But as some people said, blood is thick than water (apaansiiih?)

Alhamdulillah selama masa saya di Jakarta tidak ada funeral yang saya hadiri. Tapi sayangnya saya melewatkan wedding salah satu my best friend. Yang bersama dia saya sering memasak, belanja, jalan-jalan, dan bercerita. Dia juga tipikal teman yang tanpa pamrih mau menolong hanya karena dia mau menolong teman. Yang mau siang-siang menemani saya lunch di dekat kantor hanya karena saya tak punya teman makan siang. Yang mau dititipin belanjaan walau jadinya merepotkan dia. Yang mau menemani saya menghadiri wedding 1 walau dia tak kenal teman saya itu. Yang mau menggila jalan kemana-mana dengan saya di tahun 2012 hanya karena saya ingin melarikan diri dari suasana kantor. Well.. not everything would come out as your plan..

*menulis ini disaat seharusnya mengerjakan thesis, sangat produktif sekaliiii
**sigh

Friday, June 20, 2014

Thesis dan Mimpi

Ketika saya sibuk lagi dengan thesis, pikiran saya kembali pada mimpi-mimpi saya selama ini. Melihat kebelakang dan tersesat. Ketika seharusnya sibuk dengan thesis, pikiran saya malah kembali sibuk dengan berbagai macam ide yang ingin saya tulis di blog ini. Tentang kemampuan menulis saya yang masih rendah. Bukan dalam hal menulis thesis (walau itu juga), tapi dalam menulis cerita saya di blog ini. Kadang saya iseng dan membaca ulang tulisan saya di blog ini. Dan saya teringat komentar adik saya tentang Trinity Traveler (benar si traveler Indonesia yang terkenal itu), dia bilang cerita trinity itu memang seru, tapi cara dia menulisnya jelek sekali. Dan adek saya yang berkomentar itu adalah seorang penikmat karya sastra yang mencintai karya-karya Pidibaiq. Silahkan yang mau browsing tulisan dua orang itu dan membandingkan nya. Yang pertama isi (content)nya seru tapi cara menulisnya sampah kurang menarik, yang terakhir isinya sampah ga penting, tapi cara menulisnya seru. Yang lebih asik dibaca tentu saja yang terakhir, lebih asik lagi tentunya jika cerita penulis yang pertama di tulis oleh penulis kedua.

Nah.. kembali pada tulisan saya di blog ini, kira-kira isinya seperti karya penulis kedua tapi cara menulisnya seperti penulis pertama. Jadilah sama sekali tidak seru untuk dibaca ulang oleh diri sendiri.

Thesis saya kali ini, tak ubah nya dengan thesis sebelumnya, akan meneliti satu komponen kecil dari isu besar global saat ini. Yah.. sekurang nya saya masih menjadi bagian dari isu global itu, memberikan sedikit kontribusi. Saat saya masih sibuk belajar masalah detil yang nantinya mungkin akan berdampak besar dalam proses pengerjaan thesis saya ini, pikiran saya sudah mulai menggali bagaimana saya bisa "menjual" hal ini di kemudian hari, sebagai buruh demi segepok uang. Dan kemanakah saya masih mau melacurkan diri untuk hidup setelah ini. Apa saya masih mau memperbudak diri didalam ruangan, didepan komputer membaca berbagai hasil penelitian di dunia untuk mengerjakan penelitian saya sendiri, atau saya memperbudak diri di sebuah perusahaan atau organisasi. Pilihan terakhir baru saja muncul... atau mengabdikan diri untuk kebaikan bersama. Tapi yang terakhir itu sunggung tak nyata. Pilihan pertama dan kedua pun bisa dilihat sebagai pengambdian diri untuk kebaikan bersama juga.

Mimpi saya dari dulu adalah menjadi penulis best seller. Tapi saya pencinta fiksi, dengan naga dan monster, dan dwarf, dan elf nya. Jika saya menulis sesuatu yang seperti itu apa memberikan manfaat? Atau jika saya menuliskan suatu cerita imajinasi setengah nyata yang menuliskan cerita hidup saya yang menarik dan mempesona misalnya, apa itu juga akan memberi manfaat bagi yang lain? Yang membuat anak-anak kampung berniat untuk melanglang buana ke luar negri, tapi terus untuk apa?

Racun travelling bagi anak Indonesia sepertinya sudah cukup besar. Saya mengikuti beberapa group backpacker di fb dan melihat beberapa orang yang berniat dan bermimpi jalan keluar negri dengan segala cara, tapi setelah itu untuk apa? Ya itu bagus untuk membangun mimpi, tapi apa setelah mimpi itu tercapai?

Mendengar argumen saya diatas, mengingatkan saya pada seorang sahabat saya. Dia mengatakan "ngapain?" pada mimpi saya yang ingin travelling ke beberapa negara. Sementara dia content dengan profesi IRT nya mengasuh anak dan mengabdi kepada suami. Mimpinya adalah naik haji, dan telah dia laksanakan. Sama seperti saya yang telah mencapai mimpi saya menjelajahi beberapa negara.

Dan setelah itu apa....??

Conclusion: I need to find another dream