Wednesday, October 22, 2014

Dreams...

1. Finish the thesis 
2. Italy trip with him
3. Graduated
4. A trip with my sister
5. Get married
6. Get a diving license 
7. Diving!

No stress..!

And in a meantime also get an appropriate job.. Still don't have a dream job, do you?

Those are not dreams, tho.. More like things that I would like to do in the near future.

My dream was like having a best seller book that also becomes a box office movie. That was a dream!

Or live next to the beautiful beach and helping people's life. Far from hustle bustle of the city, content with my live. Enough with the urge to travel around the world. No more list of must visit cities.

Are you sure?

Saturday, September 20, 2014

Superheroes Mentality

I think most of us have this type of mentality, where you are happy to be someone that could help others. Okaay... probably not all of us, some people might like to see other suffers, especially the kind of people who couldn't find their own happiness, so they find it through others misfortune. In other words, people who has superheroes mentality, that happy to help others, probably content with their life and their happiness comes from sharing and helping. Totally my own theory of happiness, after reading a half of "The Geography of Bliss" by Eric Weiner that based his book on scientific study.

My intention writing this topic was far from scientific study. It was because of the visit of my significant one to my fieldwork location. As I mention in previous post, I am super busy with my thesis fieldwork. But, based on my work-plan, I scheduled everything on the weekdays and kept my weekend free to keep me sane. My bf, that live in the other city, since the beginning had an intention to fly over on the weekend to help me with my works. When I told him that I am free on the weekend, you could guess.. he was a bit disappointed..! But on the week he planed to arrive, I had the unforeseen delay that made me have to work on the weekend if I still want to finish on schedule. So you could guess again... my bf was quite happy with that fact, but not me..! So that weekend, we spend a day in the lab, working. It was not a hard work, just really a bored one. We could talk while working, and as he said, we spent a quality time talking about everything and nothing.

When I told my friend that my bf came over and we had a date in the lab, the reaction was like.. "poor you.. or poor him..". The fact that he's happy with that situation was not on other's mind. So that makes me thought about the superheroes mentality. Since the beginning he want this condition. I am in a trouble and he fly over to help me. Solved my problem. Everyone is happy.

Yeah.. I know.. It's a total crap theory that I just made up. :D    

Sunday, September 07, 2014

Thesis Period

I am not so sure that my lots-of-work-thesis gonna results in something interesting that worth to publish. It was really a hard work. All days during a week. Prone to human error that my assistants and I already did. Still 5weeks full of work to go with possibility of changing the field and add extra data. Another week extra.

Shoot, I don't think I could handle it for a week extra works. And.. The situation on my relationship didn't help at all. Added extra pressure on me.. Instead of become a supporter and being my rock.. It makes me cranky. 

Friday, August 01, 2014

Mengatasi Stress

Setelah minggu lalu dengan gagah perkasa super sombong menolak saran sang psikolog untuk melanjutkan review konsultasi dengan nya dua minggu setelah pertemuan kami, saat ini (seminggu kemudian) saya kembali bertemu dengan si stress. This is not my first experience doing a master thesis.. tapi kenapa jauh berbeda ya..? Dulu saya tak pernah merasakan pressure sebesar ini. Mengerjakannya pun santai sekali dan sang supervisor (dahulu) yang lebih sering menanyakan perkembangan saya karna saya tak kunjung jua mengirimkan draft tulisan.

Jika saya menyimpulkan penyebabnya karena topik yang saya kerjakan saat ini tidak familiar, dahulu bahkan lebih baru lagi bagi saya. Mungkin lebih tepat jika saya simpulkan dahulu saya punya banyak waktu untuk mengalihkan perhatian dari stress. Saya tak punya jadwal untuk ke "kantor"setiap harinya. Jika saya mulai merasa stress saya bisa dengan gampangnya mengalihkan perhatian ke film atau tidur. Sekarang ini saya seharian harus di workstation, didepan komputer, membaca literature yang semakin membuat saya meragukan rencana penelitian saya dan semakin membuat saya merasa tak mengerti apa-apa di topik ini.

Seperti biasa, jika sudah mulai stress, maka kebala saya akan berat, tanpa sadar bernafas pendek-pendek dan badan menjadi sangat tense. Setelah berusaha mengaplikasikan petunjuk sang psikolog, menyadari bahwa semua ini cuma alarm dari salah satu sudut otak saya endiri, dan dengan sudut lainnya saya bisa melabeli serta mengidentifikasi nya. Masalahnya si otak yang sama kemudian menganalisa bahwa "alarm" itu memang patut untuk diperhatikan. Jadi upaya pengalihan stress tetap tidak sukses. Sekurangnya hal itu dapat kembali membawa nafas saya ke normal rate.

Upaya kedua saya untuk memadamkan "alarm"ini adalah dengan menuliskan hal yang membuat saya takut, cemas dan berujung stress ini. Mengambalikan pikiran saya ke fokus utama penelitian, masalah yang membuat saya cemas dan belum mengerti, dan apa yang bisa saya lakukan terhadap itu. Jalan ini membawa saya ke sudut lain permasalan.. "saya malas / malu / tidak pede untuk melakukan hal yang seharusnya saya lakukan untuk mengatasi malasah ini". Dan sengan suksesnya membuat saya kembali stress. Tapi sekurang ini membawa saya kembali menyadari apa yang membuat kepala saya berat. Tidak hanya bingung tak mau memikirkan apa yang menjadi masalah dan pusing sendiri dengan kondisi fisik yang memburuk (refering to my body tense and headache).

Saya pikir dengan menulis disini, merefleksikan apa yang terjadi, juga akan membantu saya mengatasi stress ini. Tapi sepertinya ini juga kontra produktive. Sama sekali tak membantu. Saya kembali stress. Satu-satunya jalan yang sepertinya cukup sukses mengatasi masalah ini untuk sementara adalah dengan mengabaikannya. Tidak memikirkannya sama sekali dan memikirkan hal lain. Dan akhirnya apa? Saya tak mengerjakannya? Bukannya malah akan memperburuk keadaan nanti?

Dalam usaha mengidentifikasi penyebab "kepanikan"ini, saya menyadari bahwa saya tak begitu puas dengan experimental design and research arrangement nya. Saya butuh masukan dari si supervisor yang tak jua memberi feedback dan saya sebel dengan diri sendiri yang tak mau menanyakannya lagi karena kecemasan yang tak beralasan. Ah sudahlah... lets just continue wasting my day.

Friday, July 25, 2014

Konsultasi ke Psikolog

Menurut saya... ada yang kurang rasanya kalau belum mencoba konsultasi dengan psikolog dengan keluhan stress karena beban kuliah. Kesannya saya benar-benar student yang berdedikasi tinggi untuk kemajuan studi hingga stress dibuatnya. Walau niat utama kesini tak laen adalah untuk jalan-jalan melihat eropa.

Jadi alkisah sebulan yang lalu saya merasa sudah waktunya mencari orang lain untuk berbagi  ikut mendengarkan cerita saya tentang kehidupan sehingga saya tidak stress sendiri. Tentu saja stress ini saya sendiri yang mengkategorikan sudah cukup parah dan butuh bantuan. Padahal tidak ada niat untuk lompat dari jendela atau berbagai keputusan bodoh lainnya selain hanya ingin tidur.

Singkat cerita, karena masa liburan musim panas, saya baru berkesempatan bertatap muka dengan si ibu psikolog tadi, sebulan kemudian dari email pengaduan saya minta waktu berkonsultasi. Bayangan saya tentang ruag kerja psikolog tentu saja berdasarkan tipuan film-film dan serial tv US. Yang tempatnya luas nyaman dengan kursi besar hingga si pasien bisa tiduran sambil bercerita masalahnya. Trus si psikolog berkali-kali mananyakan "how do you feel about that..?"

Get ready people.. kenyataannya tidak seperti itu!
Ruangannya seeprti ruang kerja biasa. Dengan kursi dan meja seperti akan berdiskusi dengan dosen. Dan tidak ada bahasan soal perasaan, setelah mengetahui pencetus stress, bahasan berikutnya adalah hal ilmiah tentang fungsi otak manusia. Jadi satu jam waktu saya lebih banyak dihabiskan mendengarkan penjelasan dari si psikolog dibanding membahas how fo I feel... Bahasan tentang itu cuma di 10 menit pertama hanya untuk mengetahui masalah apa yang saya hadapi. Dan sebelum waktu konsultasipun saya sudah mengisi sebuah form yang didalamnya juga menjawab pertanyaan masalah apa yang sedang saya hadapi. Jadi sebelum bertemu saya pun si psikolog telah tau masalahnya. Dan seperti yang saya ceritakan, tak ada waktu panjang lebar berkeluh kesah disana. 

Diakhir session kita, si psikolog bertanya apakah saya menginginkan langsung dijadwalkan next sesion dua minggu dari sekarang atau saya akan mengirimkan emial jika membutuhkan dia lagi. Tentu saja saya memilih opsi kedua, walau opsi pertama terdengar cukup menggiurkan bagi saya. Kapan lagi terdengar keren punya jadwal konsultasi psikologi, apalagi tanpa harus membayar. Tapi apa daya insting saya dengan cepat memutuskan opsi kedua hanya karena malas menunggu lama di ruang tunggu mereka dua minggu lagi.

Sekian cerita kali ini tentang the awesomeness of my psychological consultation.

Thursday, July 17, 2014

Excursions

Kebetulan program saya sering sekali melakukan excursion ke lapangan. Mulai dari yang dekat dan hanya membutuhkan bersepeda hingga yang jauh selama sepuluh hari ke south france. Kali ini saya akan memajang beberapa foto menarik yang saya peroleh selama excursion dengan sedikit cerita jika saya masih ingat.

Foto-foto berikut ini saya ambil ketika kelas mengadakan excursion ke sebuah perusahaan pembibitan rumput dan cereal crops. Ya benar.. Pembibitan rumput! FYI, rumput-rumput di lapangan bola dan lapangan golf itu tidak serta merta muncul dilapangan lhoo.. Mereka ditanam dan dipilih varietas tertentu yang cocok untuk masing-masing aktifitas. Rumput untuk lapangan bola misalnya dibibitkan yang tidak gampang mati terinjak-injak.. :)

Tentu saja foto-foto saya sama sekali tidak mengambil plot pembibitan mereka.. Cuma berbagai macam rumpuut..! Yang lebih menarik adalah foto-foto dibawah ini

Gereja di dekat loksi yang seperti bangunan-bangunan lainnya
berdiri sendiri bertetanggakan lahan pertanian

Cute bee disalah satu plot pembibitan tanaman bukan rumput (entah apa)

Pony yang entah punya siapa :)

Jika excursion diatas lokasinya relatif dekat dan hanya membutuhkan setengah hari excursion, foto berikut ini lokasinya di bagian utara the Netherlands. Nama daerahnya frissian northland. Ring a bell? Ya..! Frissian flag itu berawal dari sini. Daerah ini punya banyaaaaak sekali perternakan sapi. Ingat sapi cute berwarna hitam putih yang populer itu? Nama sapinya jenis juga frissian. Sapi itu memang paling banyak diminati karna produktivitas nya yang tinggi. Tapi jika dipelihara dengan kondisi terjaga. Dengan trend organic sekarang ini, untuk menghasilkan organic milk beberapa petani/peternak memilih jenis laen yang lebih robust yang sayang nya ga cute hitam putih, hanya coklat. 


Pumpkin sisa Holloween

Sapi Frissian yang hitam putih

Jauh-jauh ke daerah ini untuk menggali tanah

Uhug.. dosennya cute dan masih muda

Yang coklat itu jenis sapi lainnya, yang putih itu lupa nama hewannya :D

Nah untuk lokasi yang terakhir ini adalah pertanian yang menghasilkan keju organik. Tentu saja dia tidak hanya memproduksi keju, tapi mulai dari lahan rumput untuk para sapinya sampai ke pemasaran keju. Seperti yang saya bilang diatas, karena dia memproduksi organik, jadi tidak melulu soal kuantitas produksi susunya, jadi mereka menggunakan jenis sapi Jersey yang lebih robust dibanding sapi cute hitap putih Frissian. Karena mereka juga tidak menggunakan obat-obatan dan anibiotik untuk para sapi nya.
Clear sunny but freezing day
Babi gede nan gendut

Sapi Jersey yang tanduknya ngga dipotong seperti kebanyakan dilakukan petani lainnya

Cheeeseee...!

More cheeesee..!

Sapi, teman sekelas, dan keju

Self Reflections

Saat ini saya sedang hobi-hobinya dengan self reflection paper. Bagaimana tidak, hingga saat ini saya telah membuat beberapa self reflection assignments untuk sebuah course, yang tiga terakhir baru saja saya kerjakan seharian ini. Beberapa hari yang lalu saya juga mengerjakan another self-reflection paper untuk exemption another course, dan sebulan yang lalu sebagai bagian dari internship report saya. 
Menurut saya, para pengajar disini mengagungkan self-reflection sebagai metode pembelajaran diri yang mumpuni (halah). Dalam tulisan itu kita diminta untuk berkaca akan tidakan/pembelajaran yang telah kita lakukan selama ini. Bagaimana kita menilai diri kita sendiri (bingungkan bacanya?) selama belajar. Menilai sendiri atas tindakan yang kita lakukan, apa yang menurut kita baik atau kurang dan kenapa begitu, serta diakhiri dengan bahasan apakah kita akan melakukan hal yang berbeda, atau apa yang bisa kita lakukan lebih baik lagi jika harus mengulang kembali kesempatan yang sama.

Coffee machine baru jika sudah pusing berkaca sendiri
Untuk bagian dari internship report, tentu saja saya berkaca dengan semua pekerjaan yang saya lakukan selama di host organisation dengan segala masalah dan harapan saya dan diakhiri dengan "I should have done this and that instead of that and this..". Untuk exemption salah satu course saya harus berkaca pada pengalaman kerja saya selama ini dan mengaitkannya dengan expected outcome dari course yang ingin saya hindari itu sembari mengumbar pengalaman dan kemampuan saya dalam reflecting learning (istilah ngaco) yang di sesumbarkan menjadi kekuatan course itu. Ya benar! Saya menghindari course yang mengajarkan cara self-reflection dengan membuat self-reflection paper. Dan banyak tugas-tugas lainnya yang harus saya kerjakan dengan metode ini. Tapi tentu saja saya sangat percaya diri setelah self reflection paper untuk internship saya diganjar nilai 8.5 oleh supervisor dari university (bukan host organisation).

Jika saya kembali menggunakan self-reflection pada tulisan kali ini, sepertinya saya baru akan percaya diri jika telah memperoleh nilai memuaskan. Tugas self reflection pertama saya sebelumnya hanya dihargai angka 6, sementara saya telah dengan sangat antusias dan berbangga hati mengerjakannya. Nilai itu sukses membuat saya merasa paling bego sedunia dan menghantarkan sebuat surat pertanyaan pada sang dosen. Tentu saja sang dosen menjawab dengan terus terang bahwa yang saya anggap self-reflection itu sama sekali tidak merefleksikan proses pembelajaran diri saya. Jadi, pelajaran sangat berharga untuk mengerti apa itu self reflection. Dan tetap didalam hati saya menyalahkan para pengajar course itu karena selama di course menjelaskan dengan absurd dan sama sekali tidak saya mengerti tentanang apa yang diharapkan dalam self-reflection paper.

Nah yang paling membanggakan hari ini adalah karena saya (hampir) menyelasaikan 3 self-reflection lainnya untuk sebuah course yang seharusnya telah selesai masa nya 6 bulan yang lalu tetapi semua tugas-tugasnya masih terus berlanjut hingga akhir research saya selesai. Saya harus berkaca tentang proses pembuatan research proposal saya, berkaca pada proses saat saya dan team mengorganisir sebuah kelas, dan yang terakhir, yang tak berhasil saya selesaikan adalah berkaca pada keseluruhan course tersebut. Untuk yang terakhir saya lebih banyak menuliskan komplen keluhan atas cara penyelenggaran dan penilaian course tersebut. Dan self reflection paper saya tidak akan berakhir sampai disana. Nanti saya akan menulis lagi tentang persiapan presentasi hasil research saya dan penyelesaian thesis saya. 

Jadi benar adanya jika hari ini saya menobatkan diri sebagai self-reflector expert...!